Home / Hiburan / Jual Beli Klub Sepakbola ala Liga Indonesia

Jual Beli Klub Sepakbola ala Liga Indonesia

PSSI
Tak ada habisnya untuk membicarakan anomali sepakbola Indonesia. Tiap hal dan aspek dari sepakbola Nusantara menyimpan keunikan yang bisa membuat geleng-gelng kepala hingga dahi mengkerut. Bahkan kontributor Wikipedia akan kesulitan untuk menuliskan linimasa perjalanan sepakbola Indonesia dari waktu ke waktu. Jangankan menuliskan perjalanan sepakbola Indonesia dari organisasi PSSI berdiri, menuliskan kehidupan sepakbola Indonesia selama 5 tahun ke belakang pun mereka akan kesulitan.

Gambaran keruwetan Indonesia secara keseluruhan memang bisa dilihat dari anomali persepakbolaan tanah air ini sendiri. Salah satu anomali sepakbola Indonesia yang bisa dibilang cukup absurd adalah praktik jual beli klub divisi teratas liga Indonesia. Banyak contoh dari praktik jual beli klub sepakbola ala Indonesia ini. Terlalu miris untuk ditertawakan, cukup kocak untuk tidak ditangisi.

Sekelumit Sejarah Persijatim Solo Palembang FC

Berbicara mengenai jual beli klub sepakbola di Indonesia, tak lengkap rasanya jika tak menyebut nama Persijatim. Jakarta memang lebih identik dengan klub Persija Jakarta. Klub yang mempunyai ratusan ribu pendukung di ibukota Indonesia ini memang menjadi kebanggaan warga Jakarta. Selain Persija, ada klub lain dari Jakarta yaitu Persitara Jakarta Utara dan Persijatim Jakarta Timur. Persitara masih eksis hingga sekarang, meskipun hanya menghuni divisi bawah. Sementara itu, Persijatim mempunyai cerita unik setelah para pengurusnya merasa terpinggirkan dari Jakarta dan merasa dianaktirikan oleh warga Jakarta sendiri.

Di tahun 2001, pemilik dan pengurus Persijatim akhirnya memutuskan untuk “hijrah” ke Solo dan berganti nama menjadi Persijatim Solo FC. Kebetulan, warga Solo saat itu tidak mempunyai klub pujaan setelah Pelita Solo juga memutuskan berganti hombase ke Cilegon. Akhirnya, klub yang aslinya berasal dari Ibukota Jakarta tersebut menjadi klub kebanggaan warga Solo. Absurd.

Persijatim Solo FC kemudian berkiprah merepresentasikan Solo di ajang divisi utama Liga Indonesia (kompetisi teratas Indonesia sebelum hadirnya ISL) dengan dukungan penuh Pasoepati dan warga Solo. Namun, Pasoepati dan warga Solo harus kembali gigit jari setelah Pemerintah Daerah Sumatera Selatan menyerang.

Di tahun 2004, Pemerintah Sumatera Selatan mengajukan penawaran untuk membeli Persijatim Solo FC dengan mahar 5 Milyar Rupiah. Dan tawaran itu sendiri akhirnya diterima oleh pengurus Persijatim Solo FC dan disetujui pula oleh PSSI pimpinan yang saat itu dijabat oleh Nurdin Halid. Alhasil, Pasoepati harus kembali kehilangan tim pujaan karena Persijatim Solo FC akan diboyong ke Sumatera Selatan.

Ketika diboyong ke Palembang, Persijatim Solo FC diganti namanya menjadi Sriwijaya FC. Cara ini terbukti jitu untuk meraih simpati masyarakat Palembang untuk mendukung keberadaan Sriwijaya FC. Mungkin jajaran Pemerintah Daerah Sumatera Selatan berpikir, daripada susah-susah membangun tim dari awal dan berkompetisi di level bawah dulu, kenapa tidak membeli klub yang ada di divisi atas untuk diganti namanya saja? Strategi yang tepat jika melihat kesuksesan Sriwijaya FC dalam merengkuh 2 gelar juara liga Indonesia.

Pelita Jaya Sang Klub Panggilan

Transformasi Persijatim Solo FC menjadi Sriwijaya FC merupakan contoh paling nyata dan luar biasa tentang jual beli klub sepakbola di Indonesia. Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan, membuat praktik tersebut kemudian banyak ditiru oleh beberapa pihak lain. Salah satu klub Indonesia yang gemar berpindah-pindah homebase dan juga berganti nama adalah Pelita Jaya. Kalau boleh mengibaratkan, Pelita Jaya itu bagaikan wanita panggilan. Siapa yang mau mengurus dan membiayai, bisa mendapatkan “service” dari Pelita Jaya. Klub ini sendiri sebenarnya bermarkas di Jakarta, tapi karena sulitnya meraih dukungan warga Jakarta yang lebih memilih Persija, Pelita Jaya akhirnya pindah ke Solo dan berganti nama menjadi Pelita Solo pada tahun 1999.

Dukungan publik Solo dan Pasoepati membuat Pelita Solo menjadi klub yang memiliki basis suporter yang cukup banyak. Namun hal tersebut tidak bertahan lama, karena beberapa masalah Pelita Jaya akhirnya pindah ke Cilegon dan kembali berganti nama menjadi Pelita Krakatau Steel atau biasa disingkat dengan Pelita KS. Di Cilegon sendiri Pelita Jaya juga tak bertahan lama, Klub sepakbola yang dimiliki keluarga Bakrie tersebut kemudian pindah lagi ke Purwakarta dan berganti nama kembali menjadi Pelita Jaya Purwakarta.

Di Purwakarta pun Pelita Jaya tak bertahan lama, hanya dua musim saja. Klub panggilan ini akhirnya kembali hijrah ke kota lain di Jawa Barat dan berturut-turut berganti nama terus, mulai dari Pelita Jabar (2008), Pelita Jaya Karawang (2010), Pelita Bandung Raya (2012), dan yang paling teranyar di tahun 2015 ini, Pelita Jaya melakukan “merger” dengan klub Persipasi Bekasi dan berganti nama menjadi Persipasi Bandung Raya dan bermarkas di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Praktik Jual Beli Klub Indonesia yang Lain

Hingga kini, ada beberapa klub Indonesia yang melakukan praktik serupa. Misalnya klub Mitra Surabaya yang dahulu bernama Niac Mitra, diakuisisi oleh pemerintah Kutai Kartanegara dan diganti namanya menjadi Mitra Kukar. Kemudian ada klub asli Bali bernama Gelora Putra Dewata yang hijrah ke Sidoarjo dan berganti nama menjadi Deltras Sidoarjo. Dan yang paling baru adalah penjualan klub Persisam Putra Samarinda ke pemerintah Bali, klub tersebut akhirnya berganti nama menjadi Bali United.

Tak jarang, jual beli dan pergantian nama bisa menjadi polemik tersendiri. Contohnya adalah kasus dualisme Persebaya Surabaya. Persebaya yang asli, dulu pindah ke kompetisi LPI dari divisi Utama PSSI dan menggunakan nama Persebaya 1927. Karena LPI dianggap illegal, beberapa oknum kemudian “menyulap” salah satu klub divisi utama saat itu, Persikubar Kutai Barat menjadi Persebaya divisi utama. Hal tersebut menjadikan ada dua klub bernama sama di kota yang sama pula. Dualisme tersebut sempat menimbulkan konflik internal di kalangan suporternya. Namun, pada akhirnya Persebaya 1927 disahkan sebagai Persebaya yang asli dengan terbitnya surat resmi dari HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

Keruwetan Sepakbola Indonesia memang sangat sulit untuk diurai. Ketidak becusan pengurus dan pimpinan PSSI membuat permasalahan di sepakbola Indonesia tak ada habisnya. Jual beli klub dan gonta-ganti nama klub menjadi salah satu hal yang terjadi karena lemahnya regulasi. Harusnya ditanamkan semangat jiwa berkompetisi yang tinggi, bukan malah mengambil jalan pintas dengan gelontoran uang dan janji-janji manis.

Hukuman dari FIFA patutnya dijadikan sebagai ajang instropeksi diri para pengurus PSSI. Waktu yang ada harusnya digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada dengan baik bersama pihak-pihak terkait, khususnya pemerintah. Bukan malah menantang pemerintah dan justru merengek ke FIFA yang ternyata juga tak kalah korupnya. PSSI, kapan warasmu?

Komentar

About Mahfudin Akbar

Penggila sportainment yang suka balapan dengan bus dan truk tronton di jalur Pantura.

Check Also

mantan

Mantan, Lupakan atau Jadikan Teman?

Sebuah penelitian yang diterbitkan  oleh jurnalrisa mengungkapkan bahwa seseorang yang berteman dengan mantan pacar berarti …

2 comments

  1. Sayangnya klub sepak bola kota saya (Persik Kediri) tidak masuk, 🙁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *