Home / Artikel / Vlog dan Stereotip Vlogging Remaja Masa Kini

Vlog dan Stereotip Vlogging Remaja Masa Kini

Casey Neistat VLOG
Source: http://fstoppers.com/

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menjumpai sebuah video di YouTube yang kebetulan video tersebut ikut dalam sebuah kompetisi vlog. Konten dari video tersebut kebetulan adalah footage objek wisata yang diambil menggunakan drone dengan ditambah tulisan (imposed text) berupa nama tempat-tempat wisata yang sedang diambil footage-nya tersebut.

Yang membuat saya tidak habis pikir, saat saya melihat ke bagian kolom komentar, saya menjumpai komentar dengan bunyi kurang lebih seperti berikut:

“Itu vlog atau apaan, kok enggak ada muka plus mulutmu ngebacot. Vlog apaan, gitu kok diikutkan lomba.” (-YouTube user Bima Sena artawijaya)

“… Ini namanya bukan vlog kalo menurut pemahaman vlog dan sepengetahuan gue vlog itu adanya orang yang berbicara didepan kamera serta membuat video yang bagus…” (-YouTube user Aryo Hadiningrat)

“… tapi after that emg sih vlog itu harus ada orang yang berbicara didepan kamera dan menyampaikan sesuatu ttg apa yang akan dibahas.” (-YouTube user Anonymous Hacker)

Komentar-komentar tersebut disertai dengan kalimat-kalimat snob yang bernada menggurui tentang konteks vlog. Saya yang akhirnya tidak tahan untuk ikut terjun berkomentar. Sampai akhirnya terjadi sedikit perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu penting juga. Intinya saya meledek sedikit kalau mereka mengharapkan vlog yang mana kontennya menghadap kamera serta bla bla bla ngomong ngalor-ngidul, maka referensi vlog mereka terlalu banyak melihat vlog yang model-model youtubers yang mempunyai tagline yo wassap my fren dsb.

Sebenarnya, tidak ada aturan tertulis mengenai definisi dan aturan dalam ber-vlog itu sendiri. Namun bukan berarti pengertian vlog itu rancu. Vlog merupakan kependekan dari video blog, yang mana budaya blogging yang menggunakan medium video untuk menggantikan blogging pada umumnya yang berupa tulisan. Bila kita menulis “vlog” pada kolom search google maka halaman teratas dari hasil pencarian akan ada beberapa yang menjelaskan tentang pengertian vlog.

“A video blog or video log, usually shortened to vlog /ˈvlɒɡ/, is a form of blog for which the medium is video, and is a form of web television. Vlog entries often combine embedded video (or a video link) with supporting text, images, and other metadata.” (-Wikipedia)

A video log. A journalistic video documentation on the web of a person’s life, thoughts, opinions, and interests. ” (-Urban Dictionary)

A vlog (or video blog) is a blog that contains video content. The small, but growing, segment of the blogosphere devoted to vlogs is sometimes referred to as the vlogosphere.”  (-whatis.com)

Serangkaian definisi tersebut mengerucut seperti penjelasan saya di awal, dan yang jelas, tidak ada satupun dari penjelasan-penjelasan tersebut yang mendefinisikan bahwa video blog harus berisikan konten dengan isi orang yang berbicara di depan kamera. Sebuah komentar di link video yang saya perdebatkan juga memberikan sebuah situs yang menuliskan referensi bagus tentang vlogging yang mana terdapat sebuah opini menarik:

Source: http://goenrock.com/
Source: http://goenrock.com/

Referensi vlog memang luas, bila kalian men-search vlog-vlog yang ada di youtube. Cukup banyak yang konten videonya tidak berupa daily vlog, contohnya saja channel theradbrad yang berisi konten gaming tanpa menampilkan wajah dari sang vlogger (hanya commentary), lalu ada vloggers yang membuat motovlog yang kontennya berupa POV saat naik motor/touring, ribuan video berupa cover lagu, video-video yang berisikan diskusi mengenai suatu topik, timelapse menggambar, tutorial-tutorial berbagai hal, bahkan video wisata kuliner layaknya channel matkiding. Banyak sekali contoh vlog yang lain yang mungkin saya tidak tau dan bisa menjadi referensi kalian.

Lalu pertanyaanya, “Apa yang membuat video-video tersebut bisa disebut sebagai vlog?”

Secara simpelnya, video-video tersebut diunggah ke channel pribadi. Layaknya Blog, Blog merupakan situs pribadi yang tentu saja berbeda dengan situs-situs seperti portal berita, kumpulan opini, atau artikel. Begitu pula dengan channel YouTube, ada yang berupa channel pribadi (contohnya Pewdiepie, CaseyNeistat) ada pula channel yang sifatnya memang dirancang untuk komersil atau tujuan bersama tertentu (contohnya Buzfeed, Malesbanget).

Korelasinya dengan Blog, asal video-video tersebut diunggah di channel pribadi. Maka secara teori sudah bisa disebut sebagai Video Blog. Lalu bagaimana channel-channel seperti Malesbanget, Buzfeed, Kokbisa channel, IGN? Saya sendiri lebih suka menyebut konten mereka sebagai “webseries” ketimbang “vlog” walaupun tentu saja tidak ada aturan khusus yang menuliskan kalau vlog harus video dari channel pribadi. Semua kembali ke pendapat dan pemahaman masing-masing, bila ingin berdiskusi mungkin bisa untuk mengisi kolom komentar di bawah, sekalian untuk saling menambah referensi dan pengetahuan. 🙂

Sedikit info untuk kalian yang mungkin sudah tertanamkan stereotip bahwa vlog haruslah hey wassap my fren alias daily vlog di mana kalian bercerita seharian ngapain saja. Tenang saja, nge-vlog tidak harus monoton seperti itu. Bayangkan saja kalian membuat sebuah blog, bisa kalian isi dengan kumpulan puisi, cerpen, opini, bahkan materi pelajaran sekolah atau kuliah kalian. Begitu pula untuk vlog, ada banyak hal yang bisa kalian lakukan untuk “mengganti” tulisan dengan konten video.

Kalian bisa melakukan talk show, membuat tutorial sehari-hari, mendokumentasikan berbagai event/gigs, video kreatif seperti stopmotion, bercerita lewat gambar atau animasi, bahkan hal-hal sederhana seperti mukbang (makan sambil berbicara dengan audiens tentang hal apa saja), cover musik, prank, ada seribu ide yang kalian bisa terapkan untuk konten vlog kalian. Dan tidak melulu harus “… Yo wassap, hari ini saya di kamar mandi 12 jam.”

Akhir dari artikel opini ini adalah kutipan dari teman saya yang juga merupakan kontributor guneman.co “Mau bikin vlog tapi nggak pernah nge-blog atau minimal memahami dulu apa itu blog ya bakal salah kaprah persepsinya …” Ditambah lagi dengan semakin mudahnya YouTube diakses oleh semua umur, dan banyaknya Youtubers lokal yang mengunggah daily vlog mereka sebagai video yang mayoritas diketahui orang-orang sebagai “vlog tuh ya kayak gini” (meski sebenarnya, banyak pula yang mengunggah konten-konten yang super bagus) diiringi dengan kurangnya minat cari referensi dan mencari tahu hal-hal baru. Pemahaman mendasar mengenai vlog pun akhirnya bergeser dan berakhir dengan debat kusir yang seharusnya tidak penting.

Komentar

About Bagus Hendy

Suka baca komik, suka main DotA. Kadang-kadang nyanyi, kadang-kadang nulis, tapi lebih sering tidur dan bercanda.

Check Also

pewdipie vs t-series

Pewdipie Vs T-Series, YouTube Butuh Introspeksi Diri

Perang Pewdipie Vs T-Series sangat nyata. Pertarungan antara content creator dengan perusahaan. Wajah YouTube seperti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *