Home / Hiburan / Review: Marvel’s Luke Cage (Netflix)

Review: Marvel’s Luke Cage (Netflix)

Luke Cage
Source: http://www.geek.com/

Pertama yang saya ingin katakan adalah, saya (berkali-kali) sangat senang saat Marvel Comics mengadaptasi karakter-karakter mereka yang kurang dikenal orang awam menjadi sebuah media hiburan di luar komik, seperti Luke Cage. Yo, semua orang kini tau Tony Stark, Steve Rogers, Thor tapi siapa peduli dengan superhero yang bisa mengecil menjadi ukuran semut? Raccoon yang bisa ngomong? atau pria dempal berkulit hitam yang kebal peluru?

Sebelumnya kita sudah dimanja dengan dua season Daredevil, dan satu season Jessica Jones. Dan bila kalian mengikuti semua series tersebut, terutama Jessica Jones yang mana Luke Cage hadir sebagai karakter pendukung sekaligus menguak sedikit tentang masa lalu Luke. Seusai kisah Jessica Jones season pertama, Luke Cage pergi dari Hell’s Kitchen, dan season pertama Luke Cage pun dimulai.

Bersetting di kota Harlem yang merupakan “permata hitam Amerika” di mana kota ini dikuasai oleh dua buah power yang sangat besar pengaruhnya. Mariah Dillard (diperankan Alfre Woodard) yang mengendalikan Harlem lewat politik kotornya beserta sepupunya Cornell “Cottonmouth” (diperankan Mahershala Ali) yang mengendalikan Harlem secara underworld yaitu dengan perdagangan senjata serta hal-hal kriminal lainnya sebagai salah satu boss mafia di Harlem.

Sementara itu di suatu tempat bernama Pop’s Barber Shop, tempat yang sangat terkenal di Harlem karena Henry “Pop” (diperankan Frankie Faison) adalah preman jalanan yang disegani di Harlem namun akhirnya dia… ehm, insyaf dan membuka barber shop. Seorang pria botak dempal berkulit hitam bernama Luke Cage (diperankan Mike Colter) memulai hidup barunya sebagai asisten di barber shop. Pop yang selalu memberinya ceramah tentang hal-hal baik yang bisa dia lakukan dengan kemampuan khususnya, serta masa lalu kelam yang membuat Luke Cage enggan berbuat apa-apa dan memilih menjadi warga Harlem biasa.

Sampai akhirnya musibah terjadi, salah satu anak muda yang berkerja di Pop’s Barber Shop terlibat pencurian dan pencurian tersebut melibatkan aset dari Cottonmouth sang boss mafia. Di situasi yang rumit tersebut, di mana orang-orang terdekat Luke Cage satu per satu akhirnya menjadi korban dalam lingkaran hitam perebutan kekuasaan di Harlem. Didukung oleh detektif kepolisian Harlem  bernama Misty Knight (diperankan Simone Cook) yang juga ingin mencokok dua tokoh yang menggerogoti dan mengkorupsi Harlem akhirnya Luke Cage memutuskan untuk memulai peperangan melawan Mariah Dillard dan Cottonmouth.

Secara garis besar, seri ini merupakan seri yang paling ringan dan simpel dibanding seri-seri superhero Marvel di Netflix sebelumnya. Luke yang pada dasarnya memang tidak mau disebut “hero” namun mau tidak mau akhirnya memakai kekuatannya untuk menolong orang, membuat tone cerita lebih terasa natural ketimbang super hero show kebanyakan yang selalu menekankan tanggung jawab menolong orang-orang dengan kelebihan yang dimiliki. Tone cerita berjalan cukup lambat, bagaimana cerita terbangun serta motivasi-motivasi baik pihak protagonis maupun pihak antagonis. Jadi yang tidak suka bermanja-manja dengan storytelling yang panjang, mungkin akan sedikit mengeluh masalah tempo cerita.

Yang jadi favorit saya di seri ini adalah bagaimana Luke Cage dan Harlem yang digambarkan telah siap dengan keberadaan super hero beserta hal-hal luar biasa lainnya di dunia Marvel Cinematic Universe serta proses menerima Luke Cage menjadi sosok pahlawan mereka, main villain yang membuat bergidik, twist yang sangat oke, referensi dunia Marvel yang lumayan luas membuat seri ini tidak seperti anak tiri, konsep cerita di mana seorang pendatang yang harus melawan tirani penguasa yang sudah sejak lama menggerogoti Harlem (sedikit kurang konsepnya nyaris sama dengan Daredevil season satu), soundtrack untuk mengisi scene yang sangat mantap (ini serius, SANGAT MANTAP), serta pesan moral sederhana seperti boleh berandal namun mulut harus tetap sopan.

Akhir kata, saya kurang bisa membeberkan banyak hal-hal yang jadi kekurangan seri ini, mungkin hal tersebut seperti akting yang poor ataupun masalah episode menjelang final yang terkesan terlalu dipanjang-panjangkan. Tapi buat saya seri ini di satu sisi sangat luar biasa dan menghibur dalam bentuk sederhana, namun di satu sisi biasa-biasa saja dan standard untuk ukuran super hero show. Namun satu yang pasti: Saya sangat menikmati series ini, dan saya merekomendasikan kalian untuk menontonnya untuk menambah khasanah super hero MCU, tidak akan menjadi insan yang merugi menonton serial ini!

Sekian dulu dari saya, nantikan review-review syahdu bertema pop kultur selanjutnya.

Komentar

About Bagus Hendy

Suka baca komik, suka main DotA. Kadang-kadang nyanyi, kadang-kadang nulis, tapi lebih sering tidur dan bercanda.

Check Also

web series

Deretan Web Series Indonesia Berkualitas

AH, rasa-rasanya generasi milenial tidak terlalu tertarik menonton sinetron di televisi. Karena durasinya yang panjang …

3 comments

  1. akting yang poor.. akting yang miskin?
    😝

  2. Luke Cage ini semacam kurang bisa memaksimalkan bahan baku bagus yang dia punya. Akhirnya ya cuma jadi biasa saja. Bahkan paling lemah di antara serial superhero Marvel di Netflix yang lain. Rasanya nggak ada sosok “lawan” yang bikin Luke Cage kewalahan dan mati kutu pula. Temponya pun terlalu naik turun, dan baru di beberapa episode final akhirnya beneran nyangkut. Meskipun tetep kurang nampol.

    It’s enjoyable and it set up interesting baits for the next seasons, but I wish it had more heart instead of just style.

    • Enjoyable sekali kalau dilihat dari sudut padang simple super hero show sama nggak ekspektasi gede. Yang paling saya suka bukan gimana aksi hero Luke, tapi gimana dia menjalin hubungan dengan warga sekitar.

      Mungkin yang meledak-ledaknya disimpen buat Defenders, semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *