Home / Hiburan / I Am a Hero: Jangan Remehkan Film Zombie Buatan Asia (Spoilers Free)

I Am a Hero: Jangan Remehkan Film Zombie Buatan Asia (Spoilers Free)

Film I Am a Hero
Scene Film I Am a Hero

Film I Am a Hero. Genre zombie apocalypse merupakan salah satu genre yang mempunyai pasar tersendiri untuk penikmat film horror. Suatu kenikmatan tersendiri membayangkan di mana karakter protagonis harus bertahan hidup di dunia yang sudah dipenuhi mayat hidup beserta runtuhnya civilization termasuk hukum, norma, moral, dan hal-hal lain yang semua tenggelam dalam teror tiada henti untuk bertahan hidup, membawa manusia kembali ke sisi primitifnya: Bertahan hidup, atau mati dan menjadi mayat hidup.

Genre seperti telah digunakan di beberapa setting serta plot yang beragam pada sebuah film. Mungkin sudah ada ratusan bahkan lebih film-film dengan tema seperti ini. Beberapa film termasuk jajaran yang outstanding dan akan menjadi bahan perbincangan dalam jangka waktu yang panjang. Namun, beberapa tahun terakhir ini, tema seperti ini tampak lesu dan bahkan tertutup (alias kalah bagus) dengan storytelling dalam medium lain seperti video game, komik, tv series, novel. Memang susah untuk memberikan pengalaman zombie apocalypse yang bagus dalam medium yang hanya sekali duduk untuk menikmatinya seperti film.

film i am a hero
Scene Film I Am a Hero

Namun terlepas dari semua itu kita dikejutkan oleh filmaker Asia yang berani mengusung tema zombie apocalypse untuk diangkat ke layar lebar, mengingat tema seperti ini lazimnya ber-setting di negara-negara barat. Belakangan ini kita disuguhi oleh Train to Busan, sebuah film bertema zombie apocalypse dengan setting di negara Korea (yang mana filmnya menurut saya “it’s an ok zombie movie“) lalu hadirlah negara Jepang, yang tidak mau kalah untuk merambah genre ini dan membuat film berjudul: I Am a Hero.

Diangkat dari sebuah judul Manga (komik) yang sama, film ini menceritakan Hideo Suzuki, seorang asisten mangaka (pembuat manga di Jepang) yang digambarkan sangat payah dalam kehidupannya: karir dunia manga yang stagnan, tekanan dari pacarnya yang menuntut kesuksesan dari cita-cita Hideo sebagai mangaka, serta kehidupan yang sangat monoton sehari-harinya. Hideo memanglah seorang yang sangat biasa saja dalam kehidupan bermasyarakat, hal ini membuatnya depresi dan kurang bersemangat menjalani hidup.

Film I Am a Hero
Scene Film I Am a Hero

Hingga pada suatu hari ramai tersiar berita tentang wabah penyakit yang diikuti oleh serangkaian tindakan tidak normal warga jepang yang berakibat kerusuhan serta kepanikan masyarakat. Hideo yang di suatu hari melihat rekan-rekan mangakanya di kantor nampak tidak sehat, lalu tiba-tiba pacarnya menghubungi dengan nada sakit yang teramat parah mendapati bahwa mereka mendadak menjadi sosok terinfeksi yang bengis dan menyerang orang lain. Tidak lama setelah itu, outbreakpun terjadi. Seluruh kota tampak kacau oleh sosok-sosok terinfeksi dengan tatapan kosong dan rancauan tidak jelas yang berusaha menyerang orang lain yang masih sehat. Hideo menyimpulkan ini adalah dampak dari wabah penyakit yang terjadi, serta mempelajari infeksi tersebut menyebar lewat gigitan.

Berbekal sebuah senapan berburu serta lisensi memiliki senjata api di Jepang, Hideo bertekad untuk bisa selamat dari wabah ini, terlebih saat tanpa sengaja dia bertemu dengan survivor seorang siswi SMA bernama Hiromi dan mempelajari apa yang sebenarnya terjadi tentang para terinfeksi ini (yang mana dari sebuah artikel, Hideo dan Hiromi mendapati para terjangkit ini diberi nama “ZQN”) serta peluang untuk selamat dari virus dengan pergi ke tempat yang lebih tinggi dan dingin dengan harapan virus tidak bisa menyebar di sana. Maka dimulailah babak baru dari Hideo, seorang pecundang yang payah kini bertekad menjadi pahlawan dan bertahan hidup.

Film I Am a Hero
Scene Film I Am a Hero

Begitulah sedikit kurang gambaran dari film I Am a Hero. Sangat klise dengan film-film zombie yang lain: virus aneh yang tiba-tiba menyebar tanpa diketahui sebabnya, protagonis yang bertahan hidup dari puing-puing civilization yang ada. Jadi apa yang membuat film ini menarik?

Yang pertama, film ini bersetting di Jepang. Berbeda dari setting Amerika yang mungkin akan menyuguhkan aksi survival yang dipenuhi senjata api. Jepang memiliki hukum senjata api yang ketat, sehingga berbekal senapan berburu saja, mungkin kamu akan menjadi orang paling hebat saat wabah zombie melanda negaramu.

Kedua, film ini diadaptasi dari manga bertema zombie yang benar-benar berbeda dari zombie pada umumnya. Dan hal itu diaplikasikan dalam film. Para terinfeksi atau ZQN di sini tidak terlihat seperti mayat hidup yang bodoh. Mereka masih bisa merancau dan melakukan hal-hal yang mereka lakukan selagi hidup. Bila kalian sempat membaca komiknya, kalian akan melihat para ZQN bertampang sangat seram dan benar-benar f*cked up alias kacau dibandingkan lazimnya zombie digambarkan. ZQN terkadang tertawa sendiri, melakukan hal yang dilakukan semasa hidup seperti menelpon, menulis, membaca, namun menjadi brutal ketika menjumpai manusia yang belum terinfeksi. Para ZQN di komiknya benar-benar kumpulan mimpi buruk, dan diaplikasikan secara sempurna di filmnya.

Film I Am a Hero
Scene Film I Am a Hero

Dan yang terakhir, penggarapan film yang dilakukan dengan sepenuh hati oleh semua pihak yang ikut membuat film ini sangat patut diapresiasi. Bila film zombie modern kebanyakan menggunakan CGI yang berlebihan. Di sini setiap zombie menggunakan model manusia serta make up yang SANGAT bagus untuk menciptakan sosok seram dan kacau. Bayangkan saja ZQN dengan bentuk-bentuk aneh yang seram seperti muka tepos terpukul oleh benda tumpul di bagian kepalanya, muka bengkak dengan mata melotot. Semua dikerjakan dengan tangan tanpa banyak menggunakan efek CGI. Hasilnya? Sangat seram.

Saya beberapa kali mengumpat dalam hati ketika menjumpai sosok ZQN yang sangat ganjil dan sangat tidak enak dipandang. Semua berkat jerih payah make-up artist yang patut diacungi jempol. Tidak hanya itu, pengambilan gambar yang sangat memanjakan mata. Scene saat outbreak terjadi ataupun scene  ZQN yang menyerang secara keroyokan melibatkan banyak pemain figuran juga dieksekusi dengan sangat baik. Efek-efek yang digunakan seperti darah, mobil yang bertubrukan, tembakan senjata, serta kondisi setting lokasi yang berantakan serta memberikan efek seram. Alur cerita yang bagus disertai banyak kritikan-kritikan sosial yang mengelitik di dalamnya. Film ini dibuat sepenuh hati, saya benar-benar suka.

Akhir kata, buat kalian yang ingin menonton film zobie yang berbeda, kalian wajib menonton film ini. Entah kalian sebelumnya membaca komiknya ataupun tidak, saya bisa jamin kalian tidak akan kecewa dengan film adaptasi ini. Jangan lupa, film ini cukup dipenuhi dengan adegan-adegan gore serta pemandangan yang cukup tidak enak di mata. Jadi buat yang tidak kuat gore, sebaiknya pikir-pikir dulu sebelum menonton. It’s not just an ordinary zombie flick.

Komentar

About Bagus Hendy

Suka baca komik, suka main DotA. Kadang-kadang nyanyi, kadang-kadang nulis, tapi lebih sering tidur dan bercanda.

Check Also

Kecewa dengan Film Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald

Alur yang sangat lambat, lemah pembangunan karakter, plot amburadul, dan hanya tawarkan sedikit nostalgia merupakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *