Home / Hiburan / Pop Kosong Berbunyi Nyaring : Perihal Musik yang Lindap

Pop Kosong Berbunyi Nyaring : Perihal Musik yang Lindap

pop kosong
Source: @dyanhendrawan

Sebuah resensi buku dari Taufiq Rahman yang bejudul Pop Kosong Nyaring Berbunyi. Bagi yang belum membacanya, semoga anda akan menemukan intrik-intrik seru yang ada dalam buku tersebut. Selamat membaca!

 

Jika kalian sedang jatuh cinta, katakanlah pada seorang perempuan. Katakanlah juga cinta itu sudah sangat dalam. Tentu saja segala daya sekalifgus upaya akan dikerahkan. Dengan senang hati kalian akan mencari tahu segala hal tentangnya, membuang banyak waktu untuk memikirkannya. Tanpa sadar kalian mengetahui banyak detil tentang sang pujaan, bahkan sampai hal remeh temeh.

Begitulah Taufiq, kecintaannya pada musik atau band tertentu membuat dia mengetahui hal-hal kecil yang sebenarnya tak penting-penting amat bagi kehidupan banyak orang. Persis subjudulnya 19 Hal yang Tidak Perlu Diketahui tentang Musik. Bercerita tentan hal menarik yang  melatarbelakangi proses pembuatan sebuah album, terkadang juga tanggapan personalnya sebagai pecinta musik selepas mendengar musik tertentu, bahkan yang lebih ekstrem Taufiq bisa mencari korelasi sebuah musik dengan konsep yang benar-benar di luar musik itu sendiri. Kadang dari segi budaya, relijiusitas, dan seringnya sosial politik.

Buku kedua Taufik yang berjudul Pop Kosong Berbunyi Nyaring ini berisi 19 tulisan. Lima belas naskah tulisan ini sengaja dibuat untuk kepentingan buku ini dan tiga sisanya adalah naskah lama yang bisa disebut sebagai bonus. Bila dibandingkan dengan buku sebelumnya yaitu Lokasi Tidak Ditemukan, tulisan-tulisan pada Pop Kosong Berbunyi Nyaring ditulis lebih panjang dan saya yakin memang dibikin lebih serius. Jika di Lokasi Tidak Ditemukan, tulisannya terkesan pendek-pendek dan memang dibuat untuk kepentingan website yang ia kelola, beberapa tulisannya pernah dimuat pada situs Jakartabeat.net.

Namun, tetap saja membaca tulisan Taufiq pada buku ini atau sebelumnya akan membuat kalian memaknai, bahwa musik tidak sekadar itu. Seperti keyakinan bahwa Menulis musik adalah menulis tentang manusia. Ada dua kelompok orang setelah membaca tulisan Taufiq. Kelompok pertama akan berpendapat tulisan-tulisan Taufiq terkesan dilebih-lebihkan dan sombong.

Kelompok pertama ini saya yakin memaknai musik hanya sebagai hiburan dan menjadikan musik sebagai latar saat bekerja. Kelompok kedua adalah orang-orang yang kemudian mengamini, lalu merasakan pengalaman religius dalam hal disandera musik. Setelah membaca tulisannya mengenai The Walkmen, saya harus merelakan kuota internet habis karena mengunduh semua katalog album band tersebut. Belum lagi berhari-hari ini saya cukup sering disibukkan mendengarkan album semata wayang Young Marble Giants juga karena salah satu esai dalam buku ini.

Pada sampul belakang dijelaskan bahwa buku ini membahas musik yang bukan liga utama seperti dalam buku Lokasi Tidak Ditemukan. Memang kemudian banyak nama baru yang belum saya kenal semacam Volcano Choir, Minuteman, atau This Heat. Kecenderungan buku ini yang membahas nama yang sering dilupakan pada saat berbicara musik sebenarnya salah satu keuntungan yang tentu akan memperkaya pengetahuan musik kita.

Selain membahas musik-musik yang eksotis, untuk kalian yang cukup malas membaca berita politik dari media arus utama, karena banyak dari berita tersebut sudah ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu. Membaca buku ini pada beberapa tulisan sama saja dengan membaca berita politik, bedanya yang sudah tersortir, bukan untuk kepentingan salah satu pihak. Paling penting dengan kadar yang lebih menyenagkan dan tidak membosankan, seperti pada tulisan Tim, A Replacement atau juga This Heat, Deceit, dan Penyakit Demokrasi dimana Taufiq menguliti sistem demokrasi di negara yang dibilang kampiun demokrasi.

Bagi saya buku ini banyak menegaskan bahwa ini adalah musik seorang hipster, musik yang tidak semua kalangan bisa menikmati. Apalagi pada bagian akhir buku, Taufiq seperti memberi sebuah konklusi dengan tulisan lamanya mengenai hipster yaitu The Thirtysomethings Are Not All Allright atau juga pada Rock Is Dead, Long Live Jazz. Pemaknaan hipster yang sangat awal adalah para penggemar musik jazz yang fanatik. Siapa tahu di masa yang akan datang buku ini menjadi kitab suci bagi para hipster?.

Komentar

About Dyan Hendrawan

Terobsesi untuk membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *