Home / Hiburan / Mari Tenggelam Dalam Dimensi Hip-hop

Mari Tenggelam Dalam Dimensi Hip-hop

Hip-Hop
Source: Google Images

Pada awal April lalu, di Guneman ada sebuah tulisan berupa resensi buku Pop Kosong Berbunyi Nyaring karya Taufiq Rahman yang ditulis oleh Dyan Hendrawan. Seklebat itu juga, saya merasa ingin meresensi buku juga, namun bukan karya Taufiq Rahman. Melainkan buku yang disunting oleh pendiri Elevation Record dan Book itu. Buku tersebut berjudul Setelah Boombox Usai Menyalak karya musisi hip-hop tanah air yang selalu mampu merapal rima mujarab yang mampu menusuk-nusuk sanubari dan relung hati yakni Herry Sutresna a.k.a Ucok Homicide a.k.a Morgue Vanguard.

Mengagumi Herry Sutresna memang meledak-ledak, karena bisa dibilang saya fans fanatisnya.  Sebagai seorang musisi, jangan ditanyakan lagi karya-karyanya. Bersama kolektif hip-hop asal Bandung bernama Homicide, Ucok, begitu dia akrab dipanggil, membuat saya jatuh cinta tanpa syarat. Walau proses jatuh cinta itu sudah terlambat, sebab kugiran yang terbentuk pada 1994 itu sudah membubarkan diri pada 2007. Meski demikian, saya masih bersyukur karena masih mampu menikmati re-issue Homicide – Complete Discography yang dirilis pada penghujung Februari 2017 lalu oleh label rekamannya sendiri, Grimloc Records.

Sepertinya cukup muqodimah saya di atas, sebaiknya saya segera masuk kepada topik utama untuk meresensi buku Setelah Boombox Usai Menyalak. Bagi saya yang sebenarnya tidak begitu mengenal terlalu dalam seluk beluk tentang hip-hop, lewat buku setebal 226 halaman itulah saya baru paham bahwa hip-hop pun bisa lebih mampu mengusung aroma perlawanan dibanding musik punk. Rasanya saya diajak oleh Ucok untuk menyelami apa itu musik hip-hop sebenarnya. Ucok pun mengajak pikiran serta imajinasi pembaca seperti bertamasya sekaligus tenggelam dalam dimensi hip-hop. Buku ini sangat cocok dijadikan buku saku yang bisa dibawa kapanpun kalian mau, sebab ada banyak mixtape yang telah diramu dengan apik oleh Ucok.

Buku ini berisi kumpulan tulisan yang sebenarnya sudah beredar di berbagai media cetak, daring, dan blog pribadi Ucok sendiri. Proses pembuatannya pun cukup singkat, hanya sekitar satu bulan kata sang penyunting, Taufiq Rahman. Ucok hanya mengerucutkan tulisan-tulisan yang memang fokus membahas tentang musik-musik serta opini Ucok menguliti sebuah album musik hip-hop. Walaupun memang isi buku ini mayoritas membahas musik hip-hop. Namun, ketika kamu membaca keseluruhan 27 bab buku ini, kamu akan menemukan korelasi musik dengan buah pemikiran para tokoh seperti Karl Marx, Nietzsche, Albert Camus, dan Jean-Paul Sartre. Adapun pembahasan tentang musik Hardcore dan Punk. Menurut saya, Ucok sangat apik menganalogikan musik dan ideologi yang ia yakini. Pembaca seperti dimanjakan membaca dengan tenang lembar demi lenbar selanjutnya.

Tak heran apabila Ucok memiliki keberpihakan terhadap ideologi para tokoh yang saya sebutkan tadi. Karena ternyata dalam buku tersebut Ucok menceritakan bahwa Bapanya merupakan sosok yang pernah menjadi anggota sebuah organisasi pelajar yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sehingga tak pelak, Ucok sangat mengutuk neoliberalisme dan pasar bebas, sebab ada trah pemberontak dari sang Bapa.

Pria yang sempat aktif dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) semasa orde baru itu juga mengenalkan sosok dirinya lewat buku itu dengan sangat ramah dan tanpa rasa jaim. Sosok Ucok yang selalu garang ketika menjadi MC ternyata di masa mudanya pun pernah alay, saya sempat mengeryitkan dahi seraya menyunggingkan bibir saat membacanya. Ucok di masa-masa awal mengenal tiga figur hip-hop yakni Run DMC, LL Cool J, dan Beastie Boys selalu melakukan ritual wajib mencoreti sampul kaset dengan nama alias sok hip-hop seperti Rap Master Cox, Dirty ‘Rap’ Herry, Herry Boogaloo, dan sebagainya. Sebuah trivia yang cukup unik bagi saya.

Dia pun mampu menumpahkan segala kecintaannya dengan kolektif hip-hop asal New York yang digawangi oleh Chuck D dkk yakni Public Enemy. Tak habis-habisnya, Ucok sangat mengagumi Public Enemy, khususnya pembahasan seru yang diulas oleh kritikus musik Christopher R. Weingarten di seri buku 33 1/3 rilisan Continuum Books. Dari seri buku 33 1/3 tersebut, Ucok menemukan beberapa eksperimen dalam proses engineering, scratching, dekontruksi, bahkan rekontruksi. Bahwa ada eksperimen dengan sengaja menginjak-injak piringan hitam sebelum di-sample, jika rekaman piringa hitam tersebut bersuara terlalu ‘jernih’.

 “Weingarten lebih dari sekadar memaparkan bagaimana Terminator-X menemukan teknik scratch yang bising atau Shocklee membiarkan meteran peak menyala merah pada saat mastering. Ia memperlakukan sample yang dipergunakan Public Enemy dalam It Takes Nation of Millions Hold Us Back sebagai gerbang untuk masuk ke wilayah yang lebih luas. Wilayah yang dapat menguak sejarah dan tradisi-tradisi folk tersembunyi (yang luputdari perhatian pembacaan sejarah mainstream).” Setelah Boombox Usai Menyalak, Halaman 30.

Kalau boleh menyarankan, ketika kamu membaca buku ini lebih nyaman ditemani oleh layanan musik daring agar kamu bisa menyelami musik hip-hop yang disarankan oleh Ucok. Saya pun seketika mengenal kugiran yang cukup unik dan keren seperti Godspeed You! Black Emperor. Ucok memberikan referensi musik yang jauh melebihi ekspektasi saya. Dari buku tersebut saya menemukan musisi jazz yang menyuarakan perlawanan dan menurut saya musisi tersebut sekaligus mengusung aliran spoken words yakni Amiri Baraka. Lalu, saya menemukan kugiran post-punk asal Inggris yaitu Scritti Politti.

Adapun sosok Ian Mackaye penggawa kugiran Minor Threat dan Fugazi pun tak terlewatkan diulas oleh Ucok. Sebab hampir semua mixtape HC/Punk milik Ucok diberi titel ‘Ian Mackaye is My Saviour’. Dalam bab 10 Lagu Protes Lokal Terbaik, Ucok juga mampu menganalogikan teriakan Tremor sang vokalis Milisi Kecoa saat meneriakkan frase ‘Kami Marah’ dengan intonasi Ian Mackaye paka pada ‘In My Eyes’ tiga dekade lalu kala Minor Threat mengkudeta pemaknaan punk era Sex Pistols.

Dari buku ini juga, saya mengetahui bahwa Ucok ternyata memiliki penyakit asma. Sempat terheran, sebab dia seorang rapper yang barang tentu harus memiliki nafas yang panjang untuk merapal rima-rima cadasnya. Pada akhir tulisan ini, saya sangat merekomendasikan buku ini kepada kalian yang suka perlawanan dan musik beraroma perlawanan. Tabik.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

Sebuah Obituari Latah untuk Homicide

Entah sudah berapa banyak obituari yang ditujukan untuk kolektif hip-hop Homicide asal Bandung yang sangat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *