Home / Hiburan / Spider-Man: Homecoming, Pulangnya Sang Muka Jaring Ke Marvel Studios (Spoilers Free)

Spider-Man: Homecoming, Pulangnya Sang Muka Jaring Ke Marvel Studios (Spoilers Free)

Spider-Man Homecoming
Source: Google Images

Sudah lama sekali guneman.co tidak menulis artikel tentang film yang sedang hangat atau baru saja tayang (terutama film-film yang erat dengan unsur komik dan budaya pop). Kali ini guneman.co akan bertemu kangen dengan kalian para sobat guneman segmen film dengan membahas film terbaru dari superhero bermuka jaring, Spider-Man.

Bila kita hitung, telah ada tiga film Spider-Man lengkap dengan sekuelnya serta tiga aktor yang berbeda menghiasi ranah film dengan tema jagoan super. Kepemilikan lisensi karakter dari studio menyebabkan sulitnya membuat film Spider-Man yang bisa dipakai untuk jangka panjang layaknya apa yang dilakukan oleh Marvel Cinematic Universe saat ini dengan berbagai film superhero mereka yang lambat laun mulai tidak bisa dihitung dengan jari menghiasi layar lebar.

Secerah harapan datang ketika Sony, sang pemegang lisensi karakter Spider-Man untuk layar lebar akhirnya memutuskan untuk mau “berbagi” dengan Marvel Studios untuk menggarap dan mencoba menyelamatkan nasib si muka jaring di layar lebar (mengingat dua film terakhir bisa dikatakan sangat biasa saja). Dengan kembalinya tokoh paling ikonik Marvel Comics ke Marvel Studios. Maka petualangan baru Spider-Man di universe yang lebih luas pun dimulai.

Dimulai dengan kemunculan si muka jaring yang sangat menyentak di Captain America: Civil War. Kini Peter Parker (diperankan Tom Holland) berada dalam masa magang menjadi superhero dalam pengawasan Tony Stark (Robert Downey Jr.) untuk menjadi seorang “friendly neighborhood Spider-Man”, superhero yang ramah pada masyarakat sekitar. Sembari menjadi superhero dan menjaga agar New York (terutama daerah Queens) tetap aman, Peter juga menjalani aktivitas biasa sebagai murid SMA berumur 15 tahun.

Menjaga identitasnya dari teman sekolah, bahkan sohib terdekatnya sendiri, Ned (diperankan Jacob Batalon) serta Bibi May (diperankan Marisa Tomei, ehe) Peter menahan diri dan terkekang oleh label murid cupu, meskipun kepintaran serta prestasinya terbukti di atas rata-rata. Selain itu Tony Stark yang terus mengawasinya juga makin menjadi beban pikirannya, Tony menganggap Spider-Man masih terlalu awal untuk membereskan masalah-masalah besar superhero. Sehingga Spider-Man terjebak dalam rutinitas sepele seperti menangkap maling kecil, menolong lansia tersesat, dan lain-lain.

Semua berubah ketika seorang mantan pegawai Damage Control (divisi yang dibentuk untuk membereskan sisa-sisa pertarungan besar yang dilakukan Avengers ataupun superhero lain) bernama Adrian Toomes (diperankan Michael Keaton) memutuskan bahwa perlakuan mereka yang menyebut dirinya “pahlawan super” sangat tidak adil untuk rakyat sipil, di mana hasil kerjanya sebagai Damage Control tidak sepadan dengan apa yang dia dapatkan.

Sementara para superhero dengan angkuhnya terus bermain pahlawan tanpa menggubris kerusakan-kerusakan yang harus dibereskan oleh orang-orang sipil. Berbekal teknologi-teknologi dari alien, musuh Avengers ataupun dari S.H.I.E.L.D. yang tercecer selama Avengers membereskan mereka, secara diam-diam Adrian membangun sebuah tim kecil yang mendaur ulang teknologi-teknologi tersebut menjadi senjata mematikan yang dia jual secara ilegal.

Tidak hanya itu, Adrian membangun sebuah kostum bersayap yang memungkinkan dirinya untuk terbang dan mencuri lebih banyak teknologi-teknologi hasil ceceran aksi Avengers di seluruh penjuru dunia demi keuntungannya. Adrian menyebut dirinya sendiri The Vulture. Avengers yang terlalu sibuk, Tony Stark yang sedang mengurusi banyak hal lain. Ini adalah kesempatan emas bagi Peter Parker untuk membuktikan dirinya bisa melakukan hal yang lebih sebagai Spider-Man dengan menghentikan teror yang dilakukan The Vulture.

Begitulah garis besar cerita dari Homecoming, sekarang mari kita bahas lebih mendalam filmnya.

Banyak orang mungkin sangat bosan dengan reset ulang kisah Spider-Man yang mungkin menjadi hal yang basi dan membosankan untuk mengulanginya dari awal seperti Peter Parker digigit laba-laba, Uncle Ben yang tewas, tidak lagi! Ya, origins Spider-Man tetaplah sama, Peter Parker tergigit laba-laba radioaktif yang memberikannya kemampuan seperti laba-laba seperti memanjat dinding, refleks dan kekuatan yang meningkat bagaikan seekor laba-laba.

Namun daripada berfokus pada kisah tersebut (yang mana hampir semua orang mungkin sudah tau bagaimana asal usul Spider-Man), film ini memulainya dengan timeskip ke beberapa waktu ke depan, yang mana bagian yang membosankan terlewati. Berbeda dari kedua aktor Peter Parker sebelumnya, kali ini Tom Holland menggambarkan Peter Parker yang masih bocah dan benar-benar belum mempunyai banyak pengalaman sebagai pahlawan super. Inilah yang membuat Spider-Man ke-tiga dalam hidup kita ini berbeda dengan yang dua seri pendahulunya.

Spider-Man yang masih clumsy dan butuh banyak pelatihan. Banyak sekali keputusan-keputusan bodoh dan tidak bijak yang Spider-Man ambil, bagaimana dia belajar untuk mengambil tindakan yang terbaik saat dihadapkan dengan kondisi genting. Bahkan bagaimana cara dia berhadapan dengan musuh kuat yang bisa membuat nyawanya melayang namun tidak membahayakan warga sipil di sekitar.

Hal-hal seperti ini yang membuat film ini sangat fresh dan baru dibandingkan film Spider-Man terdahulu, benar-benar bisa dikatakan film ini adalah wujud sempurna dari Spider-Man: year one. Dan lagi film ini adalah sebuah titik keseimbangan antara kisah superhero yang oldskool serta komikal, dipadu dengan era millenial superhero.

Kalian masih bisa menikmati indahnya Spider-Man yang sejatinya adalah insan yang kere namun memanfaatkan akalnya untuk memaksimalkan potensi sekitar serta hal-hal cheesy untuk kelas kisah superhero modern, namun juga dimanjakan dengan berbagai sentuhan hi-tech Spider-Man futuristik serta teknologi-teknologi yang digunakan baik oleh hero maupun villain. Sangat lihai untuk membaru di “era baru” film superhero beberapa tahun ke belakang ini.

Komposisi filmnya juga pas, selain aksi sang Spider-Man yang menjadi menu utama film, kehidupan sekolah Peter Parker serta berbagai lika-liku masa puber yang dialami anak seusianya juga menjadi konten yang menarik. Di mana terkadang Parker masih ingin show off kepada dunia dan berapi-api layaknya anak seusianya, bullying di lingkungan sekolah, hubungan Peter dengan May, Ned, Stark yang terkadang membuat gemas, bahkan cinta monyet ala anak SMA.

Semua ada, semua ditata dengan apik. Dan bagaimana semua titik yang berada di sekitar Peter Parker itu akhirnya bertemu dan menjadi permasalahan utama yang harus dipecahkan Spider-Man, sangat menyenangkan. Ringan, menegangkan, menghibur, bagaikan membaca komik 10 seri yang langsung tamat dan berlanjut tahun depan. Puas dengan kisah ini dan tidak perlu terburu-buru untuk membaca seri lanjutan.

Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan, film ini tidaklah sempurna, beberapa flaw kecil yang cukup mengganggu film antara lain penyakit utama adaptasi superhero komik ke layar kaca yaitu waste potensi karakter, serta beberapa scene pertarungan yang mustinya bisa jedar-jeder heboh namun ujungnya kentang, alias kena tanggung.

Flaw kecil tersebut semoga menjadi pembelajaran dan bisa hilang di film Spider-Man selanjutnya (mengingat potensi yang sangat baik kembalinya Spider-Man untuk meramaikan khasanah  film-film Marvel Cinematic Universe). Untungnya flaw tersebut ditutup oleh writing yang asyik, motivasi karakter yang solid, serta porsi tiap karakter yang tidak berlebihan, bahkan Tony Stark yang biasanya porsinya menjengkelkan keberadaannya  jadi sangat pas di film ini.

Tidaklah perlu kita pikirkan beberapa kekurangan kecil tersebut. Marilah kita nikmati cerita yang fresh, soundtrack serta scoring yang oke punya termasuk theme song classic dari Spider-Man, humor-humor segar agar tidak terlalu spaneng saat menonton film ini, serta kenyataan menyenangkan bahwa Spider-Man layar lebar sudah bisa bergabung dengan jajaran-jajaran karakter Marvel yang lain untuk meramaikan kisah epic superhero yang mungkin saja akan terjadi di masa depan!

Sekian tulisan dari saya, sampai jumpa di lain waktu. Saya ingatkan sekali lagi, penulisan yang benar bukanlah “spiderman” namun memakai “-” (hypen) di tengah, “Spider-Man”. Kenapa hal ini penting? Karena pengetahuan dan fakta kecil ini yang bisa membedakan anda dengan orang-orang awam di luar sana, hehehe.

Selamat menikmati filmnya, jangan lupa ada DUA post-credit scene akhir film yang sayang untuk kamu lewatkan!

Komentar

About Bagus Hendy

Suka baca komik, suka main DotA. Kadang-kadang nyanyi, kadang-kadang nulis, tapi lebih sering tidur dan bercanda.

Check Also

Kecewa dengan Film Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald

Alur yang sangat lambat, lemah pembangunan karakter, plot amburadul, dan hanya tawarkan sedikit nostalgia merupakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *