Home / Hiburan / Ultras dan Kebangkitan Oranger Squadra

Ultras dan Kebangkitan Oranger Squadra

curva nord 1949
Source: Google Images

Kehadiran ultras menyasar sisi urban. Menguatkan suasana kosmopolis di setiap dukungan dan penampilannya. Bahkan, satu hal yang tak pernah tertinggal adalah kecenderungan kreativitas. Baik dalam proses menampilkan dukungan maupun dalam hal menciptakan yel dan lagu kebangsaan.

Bagi yang sering nonton laga Persibo Bojonegoro di Stadion Letjend H. Soedirman, pasti kerap menyaksikan aksi-aksi suporter teaterikal yang kerap membikin hati para penonton merinding. Iya, benar sekali. Mereka jenis suporter bermazhab ultras. Penampilan dan polah mereka memang sedikit di luar kebiasaan dan berbasis kreativitas.

Semenjak Persibo kembali mengikuti liga resmi PSSI, lebih tepatnya Liga 3 Zona Jatim tahun ini, memang jihadist tribun itu kerap mendominasi perhatian para penonton—selain tingkah polah para pemain yang rebutan bola, tentunya. Kehadiran mereka memang terlihat menonjol di kompetisi tahun ini. Maklum, meski lahir sejak beberapa tahun lalu, ultras berjuluk Curva Nord 1949 itu baru bisa total mengaktualisasikan diri tahun ini.

Ultras memang bukan sekadar kumpulan pendukung bola biasa. Mereka kelompok suporter idealis, progresif dan militan yang mendukung klub kebanggaan dengan segenap hasrat semangat hingga cucuran keringat. Lebih dari itu, mereka juga tidak segan menampilkan pertunjukan atraktif di atas tribun. Nah, menampilkan pertunjukan atraktif ini lah yang menjadi pembeda antara penonton, pendukung biasa, hingga ultras.

Lahir di Italia, ultras merupakan mazhab suporter dengan gaya dukung penuh teaterikal. Kerap menampilkan pertunjukan spektakuler seperti kostum yang terkoordinir, kibaran bendera, hingga spanduk raksasa. Bahkan, kerap juga mempertontonkan pertunjukan asap warna-warni, nyala kembang api, hingga koreografi yang dipimpin seorang dirigen berjuluk CapoTifoso. Dan yang paling memukau adalah mereka selalu berdiri selama menonton pertandingan sambil bernyanyi.

Dalam tradisi ultras, mereka menempati dan menguasai salah satu sisi tribun stadion. Biasanya di belakang gawang yang kemudian lazim dikenal dengan sebutan “curva”. Ultras menempati salah satu curva itu, baik nord (utara) maupun sud (selatan), secara konsisten. Di Bojonegoro, kita mengenal Curva Nord 1949 Persibo sebagai penjaga tribun utara. Karena memang posisi mereka di tribun bagian utara.

Di Bojonegoro, kehadiran ultras menyasar sisi urban. Ada suasana kosmopolis dalam setiap dukungan dan penampilannya. Bahkan, satu hal yang tidak pernah ditinggalkan adalah kecenderungan kreatif. Baik dalam proses menampilkan dukungan maupun dalam hal menciptakan yel dan anthem.

Tentunya, kesan-kesan seperti itu secara otomatis mampu menghilangkan bentuk dukungan kampunganisme. Sebab, pendukung yang ingin bertindak kampungan bakal malu dengan sendirinya. Alhasil, pendukung yang sebelumnya berperilaku kampungan, mau tidak mau, bakal tertular menjadi pendukung yang elegan nan kreatif.

Kehadiran pendukung berkecenderungan kompak dan kreatif seperti itu, tentu sangat berpengaruh pada para pemain persibo (Oranger Squadra). Secara tidak langsung, dari sisi psikologis mereka mendapat dukungan luar biasa. Di mana, setiap saat selalu mendengar sorak dukungan. Baik dalam posisi kalah maupun menang. Bahkan, meski bermain di kandang lawan. Mengingat, Ultras identik dengan pendukung militan.

Dari sisi manajemen pun, kehadiran ultras juga sangat membantu biaya operasional klub. Kita tahu, penyokong anggaran terbesar klub sepakbola adalah biaya pembelian tiket. Sebab, klub sepakbola merupakan rumah kapitalisme: industri. Nah, keberadaan ultras, harus diakui, kerap membuat manajemen mampu tidur dengan tenang. Manajemen bahagia karena bisa dipastikan mendapat pembeli tiket yang setia.

Fakta itu masih diberi bonus dengan kecenderungan ultras yang mudah menebar virus dukungan. Hampir dipastikan, setiap saat jumlah ultras terus bertambah. Sebab, menyasar pendukung usia muda dan remaja. Kita tahu, idealisme dan pemuda sangat dekat. Karena ultras jenis pendukung idealis, secara otomatis proses regenerasi mudah didapat.

Atas dasar itu, sebenarnya, ultras memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah kebijakan manajemen klub. Sebab, andai manajemen berperilaku buruk dalam pengelolaan klub misalnya. Seluruh ultras kompak tidak datang ke stadion. Bisa dipastikan, kondisi itu bakal membuat manajemen kelimpungan.

Maka, jangan heran jika di beberapa negara, ada sejumlah ultras yang direkrut menjadi bagian dari manajemen untuk menjadi panitia penyelenggaraan sepakbola. Tentu itu untuk “mengamankan” kondusivitas tribun agar tetap ramai penonton.

Satu hal yang perlu disyukuri manajemen Persibo Bojonegoro adalah memiliki suporter fanatik dari berbagai unsur. Selain unsur progresif  (Curva Nord) juga memiliki pendukung berhaluan konservatif (Boromania). Dua unsur pendukung ini sama-sama memiliki kontribusi positif untuk Persibo. Baik kontribusi sokongan mental di tengah lapangan, maupun sokongan keuangan klub melalui pembelian tiket.

Dan yang terbaik dari itu adalah kedua unsur suporter tidak saling gesekan. Meski berbeda ideologi, keduanya tetap bersatu memberikan dukungan. Seperti Brigata Curva Sud (BCS) bersama Slemania dan  Curva Boys 1967 bersama LA Mania, Curva Nord 1949 bersama Boromania juga memiliki visi dukungan untuk klub yang sama: Persibo.

Nah, jika dua dukungan (berupa kekuatan mental pemain di tengah lapangan dan kekuatan keuangan klub di atas meja pengelolaan) telah dimiliki, tentu hanya satu hal yang sedang ditunggu; bangkit dan menjuarai kompetisi.

Komentar

About Wahyu Rizkiawan

Pembaca buku garis lemas dan mengelola web utopis bernama ranahperumda.net

Check Also

ketahanan pangan

Bojonegoro sebagai Ikon Ketahanan Pangan Nusantara

Bojonegoro adalah wujud ketahanan pangan nasional. Kalimat yang terlihat bombastis dan mencengangkan tersebut benar adanya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *