Home / Hiburan / Review Black Panther: Ketika Teknologi, Politik, dan Budaya Melebur Dalam Dunia Superhero

Review Black Panther: Ketika Teknologi, Politik, dan Budaya Melebur Dalam Dunia Superhero

BLACK PANTHER
Source: Google Images

Setelah cukup lama tidak menulis ulasan film superhero untuk kalian. Berhubung tahun ini diawali dengan (satu lagi) film dari studio kesayangan kita semua. Tempat di mana segudang superhero bertengger di layar lebar, Marvel Studios. Maka kita mulai saja review film Black Panther ini, karena cukup lama tidak bertemu. Kali ini saya akan mencoba me-review dengan format yang agak sedikit berbeda. Tentu saja bebas spoiler jadi aman untuk kalian yang belum menonton. Langsung kita mulai saja ya!

Plot

Secara garis besar, timeline film ini terjadi setelah insiden di film Captain America ketiga: Civil War. Di mana sang pangeran Wakanda, T’Challa (diperankan Chadwik Boseman) harus kembali ke tanah kelahirannya, benua Afrika. Kemudian naik tahta menggantikan ayahandanya, T’Chaka (diperankan John Kani) untuk menjadi Raja Wakanda. Wakanda merupakan sebuah Negara yang menutup diri dari dunia luar. Selain itu, Wakanda juga Negara yang sangat high-tech dipadu dengan kebudayaan benua afrika yang sangat kental.

Dan juga merupakan sumber utama logam Vibranium. Salah satu logam terkuat di Marvel Cinematic Universe (bahan utama dari tameng Captain America). Namun T’Challa tidak semudah itu untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai raja Wakanda. Sebab, di saat itu juga sebuah rahasia kelam Wakanda di masa lalu beserta muatan politik internal setiap Tribes di Wakanda mengancam dan menggerogoti kemakmuran negara ini.

Persiapan Menonton

Untuk bisa dengan khusyuk menonton film ini, tentu saja kalian disarankan untuk mengikuti film-film MCU sebelum Black Panther. Namun esensi utama yang harus kalian tonton (kalau kalian terlalu malas flashback MCU dari awal) adalah Avengers: Age of Ultron (2015), serta Captain America: Civil War (2016).

Pengenalan Serta Jembatan Antara Adaptasi Film Dengan Sumber Utama (Buku Komik)

Secara keseluruhan film Black Panther sangat bisa dinikmati oleh masyarakat yang tidak membaca komiknya sekalipun. Dalam film telah dijelaskan secara gamblang asal-usul Black Panther beserta semua kekuatan yang dimilikinya tanpa harus membelot jauh dari material asli berupa komik dari publisher terkenal, Marvel Comics. Semua superpower yang dia miliki dengan ditambah teknologi Wakanda yang membantunya lebih baik. Semua digamblangkan film dengan sangat oke. Tentu saja dengan beberapa penyesuaian agar karakter Black Panther bisa setara (tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat) dengan superhero lain di universe film ini.

Tidak hanya itu, peran Negara Wakanda yang merupakan salah satu sektor yang paling penting di dunia komik Marvel juga diadaptasi dengan sangat baik di film ini. Bagaimana asal-usul Negara ini, serta apa saja yang membuat Wakanda menjadi istimewa dan mampu mengejar tempat keistimewaan tersebut di adaptasi layar lebar meskipun MCU (Marvel Cinematic Universe) sendiri sudah berjalan selama satu dekade. Tidak hanya itu, origins dari karakter-karakter pendukung beserta villain. Meskipun tentunya dengan berbagai adaptasi supaya match dengan universe yang sedang berjalan. Saya rasa akan memuaskan dua belah pihak. Baik itu penonton kasual, maupun fans dari buku komiknya.

Wakanda

Salah satu aspek yang jadi daya tarik paling menawan dari film ini. Bahkan jika filmnya sucks sekalipun, aspek ini tetap akan menyelamatkannya adalah portrayal Wakanda di film ini. Tanpa bermaksud spoiler, Wakanda memang satu Negara di dunia Marvel yang memiliki kemajuan teknologi paling mutakhir dibandingkan Negara lain di dunia. Namun Wakanda juga masih syarat akan budaya benua di mana Negara ini berpijak, Benua Afrika.

Jadi kalian bisa dengan sangat menikmati pernak-pernik Negara futuristik ini beserta muatan lokal budaya yang mana kedua hal tersebut berpadu menjadi kombinasi yang menawan. Belum lagi attention to details yang sangat ditonjolkan di film ini. Semua tribes, budaya, pernak-pernik teknologi, serta kehidupan Wakanda sangat disesuaikan dengan kondisi nyata saduran Negara-negara di Afrika. Tentu saja dengan research yang sangat mendalam dari tim kreatif film ini, menjadikan semua detil tentang Wakanda beserta masyarakatnya akan sangat memanjakan kalian.

CGI

Harus diakui berdasarkan penilaian pribadi saya, penggunaan CGI di film ini terutama untuk beberapa part sangatlah mengganggu. Mari kita kesampingkan penggambaran Afrika dan Wakanda yang mana pengambilan gambar film ini secara mengejutkan tidak dilakukan di Afrika. Jadi tentu saja teknologi CGI menjadi senjata utama untuk menggambarkan benua Afrika di film ini dikarenakan CGI untuk Wakanda dirasa sangat smooth. Terlebih lagi tidak ada tolok ukur resmi bagaimana Wakanda harus digambarkan selain bagaimana yang tergambar di komik (karena ini Negara fiksi, tentu saja).

Dan menyangkut topik sebelumnya tentang attention to details Negara Wakanda di film merupakan hal yang top notch. Namun sayangnya, sebagian besar adegan laga di film ini, terutama saat T’Challa memakai kostum Black Panther, dipenuhi CGI yang cukup mengganggu sampai mengurangi esensial hand-to-hand combat maupun perkelahian memakai senjata tradisional afrika (namun futuristic versi Wakanda). Sampai hal ini saya rasakan mengganggu adegan-adegan laga penting dalam film.

Tone Film

Bagaimana dengan konflik yang disajikan?. Secara penulisa, alur cerita film ini cukup sederhana. Kalian setelah menonton mungkin mempunyai pikiran kalau inti cerita film ini bahkan terlalu sederhana. Hal itu tidak jadi soal karena motivasi pribadi baik karakter protagonis maupun antagonis sudah ditulis dengan cukup baik di film ini. Yang terpenting adalah, film ini tidak terlalu mengikuti pattern film-film MCU yang penuh canda tawa (beberapa malah terkesan canda tawa yang berlebihan dan dipaksakan untuk memberi tone film). Namun film ini juga anti yang namanya gloomy serta hal-hal yang terlampau suram (thanks, Disney). Buat saya ini sangat perlu, karena… apa kalian tidak terlalu bosan dengan pattern haha hihi dari MCU?

Verdict

Buat saya, seperti yang saya sudah bahas di atas. Pengenalan sosok Black Panther serta attention to the detail Wakanda merupakan hal yang luar biasa. Banyak hal yang saya bisa nikmati di detil-detil kecil yang disuguhkan Ryan Coogler (sang sutradara) serta para tim di film ini. Suasana santai yang diberikan juga cukup, ada sedikit beberapa scene canda tawa yang tidak dipaksakan dibalut hal-hal ultra serius seperti politik kerajaan serta konspirasi yang akan kita jumpai di film ini.

Namun alur yang simpel akan membuat kita berpikir bahwa film ini berjalan begitu cepat. Serta penyakit utama MCU: waste of character potential akan tetap kita jumpai di film ini (haha). Dan juga hal yang paling mengganggu yang sudah saya sebut di atas: CGI saat adegan laga. Jadi kesimpulan terakhir?. Tetap saya menganggap Black Panther di atas mayoritas film-film MCU yang lain, usaha untuk membuat tone yang beda serta perhatian pada hal-hal kecil yang menyenangkan akan membuat kita kagum tidak hanya ke Iron Man, Thor, atau Captain America. Inilah raja Wakanda sekaligus pahlawan super kalian, Black Panther!

Sekian review Guneman untuk film Black Panther, semoga kalian menyukai format review seperti ini. Dan mohon maaf karena saya tidak terlalu memberi informasi untuk cast serta karakter di film ini. Karena kalian bisa melihatnya dengan sangat mudah di google/imdb/situs film yang lain, tapi jangan deh… mending tonton filmnya dulu tanpa tahu karakter-karakternya. Pasti lebih nikmat. Selamat menonton dan sampai jumpa di review selanjutnya!

PS: ada dua post-credit scene yang kurang lebih sangat asoy sebagai persiapan mahakarya MCU: Infinity War.

Komentar

About Bagus Hendy

Suka baca komik, suka main DotA. Kadang-kadang nyanyi, kadang-kadang nulis, tapi lebih sering tidur dan bercanda.

Check Also

film superhero

Kesuksesan Film Superhero di Oscar 2019

Pada Academy Awards atau Piala Oscar 2019, dua film superhero yang berasal dari buku komik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *