Home / Tips / Mari Berpikir secara Rasional: Persiapan di Tahun Politik

Mari Berpikir secara Rasional: Persiapan di Tahun Politik

tahun politik
Source: Google Images

Tahun politik telah tiba, di mana tahun ini Pilkada serentak akan dilaksanakan. Dan kemudian akan diikuti dengan Pileg serta Pilpres di tahun 2019. Menilik kembali pada pengalaman lalu, betapa terasa menjengkelkan pesta demokrasi tersebut berlangsung. Silakan cek media sosial kalian, betapa sesak masalah perpolitikan ini memenuhi lini masa. Selain dari terbitnya berita-berita dengan sumber dan data yang tidak jelas (fake news) dan munculnya provokator-provokator tidak bertanggungjawab (bot, anonim, oknum-oknum sok tahu, dll), ke-baper-an politik yang nirfaedah terus timbul dan tenggelam baik dari pihak yang menang, maupun yang kalah.

Memang tidak bisa disangkal bahwa dalam proses mendukung seorang sosok, faktor perasaan sering atau bahkan hampir selalu menjadi pemeran utama (dan pada beberapa hal memang perlu). Namun, bukankah baper yang tidak didukung oleh pikiran rasional merupakan sesuatu yang merugikan?. Sebuah penelitian berjudul “Trust Your Gut or Think Carefully? Examining Whether an Intuitive, Versus a Systematic, Mode of Thought Produces Greater Empathic Accuracy” oleh Professor Jennifer Lerner dari Harvard University dan Christine Ma-Kellams dari University of La Verne menunjukkan bahwa emosi atau perasaan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan (alias baper)—yang, berdasarkan hasil penelitian, tidak memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan keputusan berdasarkan pemikiran yang sistematis, bahkan pada ke-baper-an tertentu mengantarmu pada keputusan yang jelas-jelas salah. Nampaknya, pernyataan “Jangan mengambil keputusan ketika marah, dan jangan berjanji ketika bahagia” bukan merupakan pernyataan asal belaka.

Lalu, bagaimana caranya agar tidak terlalu baper dalam mendukung atau menyampaikan aspirasi politik kita? Berikut kami coba merangkum trik atau latihan berpikir rasional (yang ternyata memang bisa dipelajari), sehingga dapat menimimalisir sumpek yang sudah-sudah:

1. Perbanyak kepustakaan

Kepustakaan merupakan landasan dasar untuk dapat berpikir secara rasional. Di era digital saat ini, kepustakaan dapat kita dapatkan di mana saja dan dalam berbagai bentuk, baik tertulis, verbal, dan visual. Semakin banyak literatur yang kamu miliki, semakin banyak landasan informasi untuk pengambilan keputusan. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah untuk tidak menngambil kepustakaan dari satu perspektif saja. Penelitian di Ohio State University menunjukkan bahwa subjek penelitian cenderung hanya membaca artikel yang sesuai dengan pandangan politik mereka. Maka, usahakanlah agar kepustakaanmu tetap seimbang.

2. Pahami motivasi kepustakaan

Perlu disadari bahwa setiap produk literasi merupakan sarana dalam penyampaian informasi, dan setiap informasi yang disampaikan akan selalu memiliki maksud dan tujuan. Pada sudut pandang politik, produk literasi tersebut adalah kampanye. Sebuah informasi dapat disampaikan dengan berbeda meski artian yang dimiliki tetap sama, contoh simpel dan umumnya adalah pada pernyataan “air di gelas tinggal setengah” dan “air di gelas masih setengah”. Mengetahui motivasi pada kepustakaan dapat membantumu untuk tetap memeroleh informasi secara seimbang.

3. Pahami adanya bias politik dalam diri sendiri

Sama halnya dengan motivasi pada kepustakaan, kita juga perlu menyadari adanya bias politik dalam diri sendiri. Sebagai contoh, orang yang memiliki pandangan politik sosialis, akan cenderung tidak membaca kepustakaan yang bersifat konservatif. Memahami adanya kecenderungan tersebut adalah awal untuk terbuka terhadap pandangan politik lain sehingga dapat memperdalam posisi dan memperkaya perspektif keputusan politik. Hal termudah untuk menghindari kecenderungan tersebut adalah dengan mencoba melihat dari perspektif lain sebelum mengambil keputusan, sama seperti yang dilakukan oleh Andy Grove, sebagai Presiden perusahaan Intel di tahun 1985, yang kemudian dikenal sebagai The Revolving Door Test.

4. Kumpulkan dan teliti informasi

Pada suatu pagi yang cerah, notifikasi pada gawaimu begitu banyak, dan setelah dibuka ternyata berasal dari sebuah grup chat yang diramaikan oleh sebuah berita viral diiringi dengan komentar persekusi oleh anggota grup tersebut. Beberapa hari atau minggu kemudian, ternyata berita tersebut terbukti palsu alias hoax, komentator mendadak sepi dan diam seakan tidak memiliki salah dan dosa. Tipikal netizen. Jangan jadi tipikal netizen, jadilah warga negara yang cerdas dengan meneliti ulang informasi yang ada.

5. Fokus, jangan terbuai

Merupakan sebuah tugas politisi untuk pandai berkomunikasi, yaitu dengan tujuan agar kebijakan politik yang diembannya dapat terlaksana. Pastikan kebijakan politik yang anda dukung benar-benar sesuai dengan apa yang anda inginkan, dan tidak terbuai dengan pesona yang disampaikan oleh politikus tersebut. Kami berikan contoh sederhana: Hakikat gelas adalah sebagai wadah air minum, ketika sebuah kebijakan politik memutuskan untuk membuat gelas dengan desain berlubang demi estetika, maka keputusan tersebut akan merusak hakikat gelas tersebut karena membuatnya tidak dapat menampung air minum.

6. Catat

Kemampuan otak manusia terbatas. Mencatat memudahkan kita untuk melakukan perbandingan sebelum mengambil keputusan. Lebih lanjut, mencatat dapat melatih untuk berpikir secara dialektis, sehingga dapat menghasilkan pandangan-pandangan baru.

7. Diskusikan

Sama halnya dengan memperbanyak kepustakaan, diskusi dapat menambah perspektif kita akan suatu hal. Diskusi juga dapat melatih kemampuan komunikasi dan menyampaikan pendapat. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa setiap orang memiliki landasan berpikir masing-masing, sikap untuk berpikir secara terbuka dan tidak terlalu emosional adalah modal untuk diskusi yang sehat dan menyenangkan.

Rumit? Ya. Apabila dibandingkan dengan hanya setuju dan asal bertindak layaknya persecutor netizens. Namun bisa dilakukan. Di era digital saat ini informasi bertukar sangat cepat. Bahkan, bisa dibilang terlalu cepat pada tahap yang membahayakan, oleh karena itu kami menyarankan untuk mulai berpikir secara rasional. Sekali lagi kami tidak menyalahkan untuk mengedepankan perasaan dalam mengambil keputusan, hanya saja perlu diingat bahwa perasaan mudah berubah dan diprovokasi, sehingga berpikir secara rasional akan sangat membantu. Salam, dan selamat berpolitik.

Komentar

About Aldyon Restu Azkarahman

Tidak mudah terkejut.

Check Also

jokowi kalah pilpres

Kebangetan Kalau Jokowi Kalah Pilpres

Kalau Jokowi kalah Pilpres 2019, tentu kebangetan. Punya kuasa dan APBN itu modal paling berharga. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *