Home / Hiburan / Sayang, Film Yowis Ben Kurang Mengeksplorasi Malang

Sayang, Film Yowis Ben Kurang Mengeksplorasi Malang

film yowis ben
Source: Google Images

Film Yowis Ben sekilas merupakan karya yang sangat menjanjikan. Bertemakan kehidupan anak sekolah (setelah meledaknya tema serupa di film Dilan 1990). Tidak bertemakan Jakarta melainkan kota Malang yang sarat dengan estetika (tidak kalah dengan Bandung atau kota lain). Ditambah penuh nuansa musikal di mana bermain band merupakan motivasi karakter utama.

Dan gimmick utama yaitu keseluruhan film (tidak keseluruhan sih, mungkin 85%-90%) yang memakai bahasa Jawa menyesuaikan latar film yang berada di kota Malang. Poin yang paling terakhir sebenarnya menjadi pedang bermata dua untuk film Yowis Ben. Di mana satu sisi (tanpa bermaksud rasis) akan menarik hati penonton yang fasih berbahasa jawa. Namun tentunya akan menimbulkan keributan bagi warga indonesia (terutama warganet) yang tidak berbahasa Jawa.

Gimmick utama film Yowis Ben yang memakai bahasa jawa dipertegas dengan pemeran utama yang fasih berbahasa Jawa. Bayu Skak (Bayu), Joshua Suherman (Doni), Tutus Thomson (Yayan), yang memang lahir dan besar di Jawa Timur. Ditambah tokoh antagonis Indra Wijaya (Roy) yang memang menempuh kuliah di kota Malang. Selain dedengkot-dedengkot tokoh yang tentu fasih berbahasa Jawa.

Para aktor lain juga musti diacungi jempol dengan usaha mereka untuk berdialek Jawa meskipun bahasa Jawa bukanlah bahasa sehari-hari mereka. Cut Meyriska (Susan), Brandon Salim (Nando), Arief Didu (Cak Jon) dan beberapa aktor lain adalah aktor-aktor utama sekaligus pendukung yang tidak berdialek Jawa. Namun mereka berusaha menggunakan bahasa Jawa dalam film ini (terutama Cak Jon yang diceritakan sebagai paman si Bayu).

Dan kalian tahu apalagi yang asyik dari film ini?. Semua dialog berbahasa Jawa tidak akan membuat orang yang tidak berbahasa Jawa bingung karena telah tersedia subtitle yang membantu jalannya film dari awal hingga akhir. Itung-itung kalian yang tidak paham bahasa Jawa akan belajar satu dua kata, terlebih kata-kata yang sering diucapkan.

Ya, mungkin hal-hal di atas sudah sering kalian baca di review-review yang beredar, benar bukan?. Namun, di sini saya akan membahas hal-hal yang disayangkan mengingat potensi film ini begitu besar untuk menjadi film SMA yang memorable layaknya Suck Seed, AADC atau Catatan Akhir Sekolah.

Hal pertama yang saya amati dari film Yowis Ben adalah dari gaya guyonannya yang sangat familier bila kita berbahasa Jawa sehari-hari. Umpatan kasar seperti jancuk akan jadi bunyi rutin di film ini. Ya, ini memang tidak jadi masalah untuk sebagian besar orang terutama warganet sih. Namun untuk orang tua yang mengajak anak kecilnya untuk menonton (terutama di lingkungan berbahasa Jawa) jelas ini bakal jadi hal yang bisa jadi akan ditiru oleh anak-anak.

Membayangkan saat saya seumuran bocah dan ngomong jancuk di muka umum pasti langsung ditempeleng orang tua saya. Saya melihat ada ortu-anak yang walkout saat menonton film ini di bioskop kota saya. Saya juga mungkin tidak akan mengira bila cukup banyak umpatan kasar yang lazimnya dipakai di bahasa Jawa sehari-hari di film ini. It’s ok but it’s not cool at all kalau menurut saya.

Yang kedua, seperti halnya film haha hihi Indonesia masa kini, banyak scene yang membuat penonton yang nonton se-theater bersama saya tertawa sampai terpingkal-pingkal. Sedangkan saya hanya diam membatin “wow, hebat ya orang-orang ini bisa tertawa karena hal kayak gini”. Dan itu terjadi berulang-ulang sampai saya bosan menghitung. Kalau masalah ini, personal sih, karena mungkin pasar humor saya tidak di level ini. Ya baguslah kalau banyak orang terhibur.

Nb: Dan seperti biasa di saat scene yang bikin saya tertawa, malah penonton yang lain tidak seberapa tertawa.

Yang ketiga dari plot, bagaimana ya kalau menggambarkannya. Plot di film Yowis Ben juga nanggung sekali. Mau dibikin film yang santai melambai semacam May Who? (Thailand) juga kurang. Mau dibikin film remaja serius dikit semacam Solanin (Jepang) juga enggak bisa. Sebenarnya banyak konflik-konflik internal para tokoh utama yang menarik untuk dikulik serta hal-hal ringan yang menghibur.

Namun film ini kayak hilang arah dan jadinya malah “lho, kok gini aja sih?” atau mungkin “Kok FTV banget gini?”. Karena memang yang saya rasakan lambat laun menonton film ini seperti menonton cerita sekelas FTV. Sayang banget lho padahal beberapa hal sudah dikemas secara bagus, seperti musikalnya serta akting nuansa Jawa yang kental dari tokoh utamanya.

Yang keempat, product placement-nya cukup mengganggu, hehe.

Yang kelima adalah PENYAKIT dari film-film lokal haha hihi stendap komedi masa kini (dan yang membuat saya paling triggered): CAMEO TIDAK PENTING yang bermunculan di film ini. Oke, teori memperbanyak cameo dari influencer media sosial untuk menambah daya tarik penonton film itu lama-lama amat sangat memuakkan. Malahan di Yowis Ben beberapa cameo yang sangat tidak penting keberadaannya dan merusak satu scene (kalian kalau nonton mungkin tahu siapa cameo yang saya maksud).

Mengingat betapa tidak pentingnya dan betapa tidak berharganya kemunculan orang ini membuat saya mengalami saat-saat yang buruk dan membuat saya enggan menonton film ini dua kali karena trauma pada satu scene. Tolonglah untuk kalian para seniman film, hentikan tren tolol memperbanyak cameo influencer media sosial yang berpengikut banyak untuk menjaring penonton. Tidak semua influencer bisa fit-in ke film kalian, dan malah jatuhnya bila terlalu dipaksakan bisa sangat membuat orang terganggu.

Yang keenam, masih berhubungan dengan banyaknya cameo yang muncul. Saya yakin secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh ke alokasi anggaran produksi film ini. Satu yang sangat sangat sangat disayangkan. Shooting di kota Malang yang sudut-sudutnya begitu keren untuk diambil. Namun pada nyatanya spot pengambilan gambar yang dipakai bisa dihitung jari saja. Di antaranya Kampung Jodipan (rumah Bayu di film), SMA Dempo (sekolah), dan Musium Angkut (produk placement mengganggu).

Lalu scene sempit seperti studio/panggung tempat main band. Tak lupa dalam rumah Bayu atau rumah Nando atau rumah Doni, Radio Elfara (tempat saya pernah direct selling CD JKT48), dan sekelebat tempat aestethic di Malang (Gereja Katedral Ijen dan Alun-Alun Malang). Jadi, saya kembali menyesalkan uang produksi yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pengambilan di ratusan spot asyik kota Malang malah dipakai untuk hal tidak penting. Agak saru sebenarnya bila film ini dikoar-koar “mengobati rasa rindu Kota Malang”, lha wong scene-nya ya di tempat-tempat itu saja, malah orang yang tidak pernah ke Malang juga mana tahu kalau shooting-nya di kota Malang.

Tenang, tulisan saya setelah ini akan berakhir. Kalau kalian menganggap tulisan saya isinya cuma keluhan tentang film Yowis Ben, kalian salah. Banyak hal yang saya cukup sukai dari film ini. Musikalnya digarap dengan serius adalah hal utama yang saya sukai, karena lama terasa tidak menonton film bertemakan main band produksi lokal.

Beberapa cameo juga sangat on point seperti dedengkot ludruk Jawa Timur (Cak Kartolo dan Cak Sapari), munculnya salah satu ikon musik indie Kota Malang (Adit “SATCF”, well penonton kota saya pada gak ngeh saat doi muncul), serta banyolan yang mostly garing untuk saya (maafkan seleraku) namun satu dua scene banyolan cukup out of the box dan bisa membuat saya tersenyum dan melupakan permasalahan dunia sejenak.

Mungkin tujuan dari penulisan ini, menyambung glorifikasi film ini, serta drama yang terjadi ketika film ini mulai tayang. Sudahlah, semua tidak seheboh itu dan tidak perlu ada drama berlebihan. Intinya kalian yang punya uang, kalian yang punya hak untuk menonton atau tidak. Saya cuma memberi sudut pandang dari saya, karena komentar itu sangat gampang dan semua orang bebas berkomentar.

Lagi-lagi buat saya, adanya Yowis Ben ini angin baru untuk industri film Indonesia. Membuktikan bahwa genre dan style film yang dibuat belakangan ini makin beragam. Karena tidaklah kita muak dengan tren film setan porno, remake tidak jelas, pamer glamor dengan shooting di luar negeri dan properti mahal — tapi konten filmnya mbelgedes. Yowis Ben patut diacungi jempol dengan mencoba menghidupkan lagi musikal dalam film, serta keunikan bahasa yang digunakan di keseluruhan film.

Akhir kata, semoga film Indonesia makin jaya.

Komentar

About Bagus Hendy

Suka baca komik, suka main DotA. Kadang-kadang nyanyi, kadang-kadang nulis, tapi lebih sering tidur dan bercanda.

Check Also

Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang

Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang

Kasus-kasus penistaan agama dari masa ke masa memang tak bisa berhenti. Lawakan dianggap mengancam keimanan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *