Home / Artikel / Persibo dan Bupati Bojonegoro

Persibo dan Bupati Bojonegoro

Manajemen Persibo
Sally Atyasasmi (Bendahara Persibo) bersama para suporter Persibo. (anin)

Perlu diketahui, ada deretan Bupati Bojonegoro yang punya kontribusi aktif kepada kesebelasan Persibo Bojonegoro.

Kiprah Persibo di persepakbolaan tanah air tak bisa dilepaskan dari sosok Bupati Bojonegoro. Dari waktu ke waktu, Bupati kabupaten Bojonegoro memegang peranan penting dalam mengembangkan klub kebanggaan warga Bojonegoro tersebut. Meski belakangan banyak aturan yang mengurangi gerak pemimpin daerah dalam mengurus klub sepakbola, toh kenyataan di lapangan berbicara lain.

Dalam sejarahnya, ada empat nama Bupati Bojonegoro yang memegang peranan penting dalam perkembangan Persibo Bojonegoro sejak berdiri pada tahun 1949. Siapa sajakah mereka? Mari kita bedah keempat Bupati Bojonegoro yang sempat terlibat aktif dalam membangun Persibo Bojonegoro.

Raden Tumenggung Sukardi

Nama Raden Tumenggung Sukardi mungkin cukup asing di telinga masyarakat Bojonegoro. Belum banyak yang tahu bahwa beliau merupakan sosok bangsawan yang sempat memimpin Bojonegoro dari tahun 1949 hingga 1950. R. Tumenggung Sukardi merupakan sosok yang berperan besar dalam mendirikan Persibo Bojonegoro. Tak banyak literatur yang bisa dijadikan rujukan untuk mengetahui hubungan langsung antara Persibo dan R. Tumenggung Sukardi. Namun dari penelitian yang dilakukan oleh wartawan asal Malang, sosok R. Tumenggung Sukardi memang menjadi nama yang bertanggung jawab terhadap berdirinya Persibo.

Tak banyak klub sepakbola yang ada di Indonesia saat itu. Usai kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 mulai banyak bermunculan klub-klub sepakbola baru yang berasal dari berbagai daerah. Munculnya Persibo Bojonegoro pada tahun 1949 menambah jumlah klub sepakbola di Indonesia yang sebelumnya hanya didominasi oleh klub-klub yang berasal dari kota besar macam PSM Makassar, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persib Bandung, PSIM Jogja hingga Persis Solo. Uniknya, usia Persibo Bojonegoro lebih tua dibandingkan dengan klub-klub ternama Indonesia seperti PSMS Medan (1950), Arema Malang (1987), Persipura (1963) hingga Persela Lamongan (1967).

H.M. Atlan

Meski berdiri sejak tahun 1949, nama Persibo Bojonegoro masih asing di telinga pencinta sepakbola nasional, bahkan di telinga warga Bojonegoro sendiri. Hal ini dikarenakan Persibo tak mengikuti kompetisi resmi di bawah PSSI seperti Perserikatan maupun Liga Indonesia. Baru di akhir tahun 90an dan awal 2000an Persibo mulai bangkit. Sosok yang paling bertanggung jawab atas bangkitnya Persibo tersebut adalah M. Atlan yang menjabat Bupati Bojonegoro dari tahun 1998 hingga 2003.
Sosok Almarhum M. Atlan sampai saat ini memang dikenang sebagai pemimpin yang gila bola. Salah satu kebijakannya adalah menghidupkan Persibo Bojonegoro. Di bawah kepemimpinan M. Atlan, Persibo mulai mengikuti kompetisi resmi PSSI yakni divisi dua pada tahun 2000. Tak sekedar mengikutsertakan Persibo di kompetisi resmi PSSI, Atlan juga berhasil menghidupkan gairah persepakbolaan di bumi Angling Dharma.

Kegilaan H. Atlan kepada sepakbola dan khususnya Persibo memang tak perlu dipertanyakan lagi. Apabila tak ada halangan, Atlan selalu menyempatkan diri untuk datang langsung ke stadion Letjen H. Sudirman untuk memberikan dukungan langsung kepada Persibo. Bahkan dari cerita seorang official yang pernah menangani Persibo di era M. Atlan, sang bupati sangat royal dalam memberikan bonus. Pernah suatu ketika sang Bupati melempar-lemparkan uang kepada para pemain Persibo sebagai bonus. Di bawah “kendali” M. Atlan, Persibo sempat menorehkan prestasi gemilang yakni promosi ke divisi satu Liga Indonesia yang saat itu merupakan kompetisi kasta kedua di Indonesia (sekarang setara Liga 2 Indonesia). Para pencinta Persibo Bojonegoro harus berterima kasih kepada M. Atlan. Beliau berhasil membangun pondasi kuat untuk Persibo Bojonegoro.

H.M. Santoso

Sosok Bupati Bojonegoro selanjutnya yang meneruskan warisan Persibo adalah Kolonel Inf (Purn) H.M. Santoso. Usai Atlan wafat dan jabatan Bupati berakhir, muncul sosok H.M. Santoso sebagai pemimpin baru Bojonegoro. Beruntung bagi Persibo karena H.M. Santoso merupakan sosok pemimpin yang juga gila bola. Bahkan bisa dibilang jika Persibo Bojonegoro adalah anak emas dari H.M. Santoso.

Di era kepemimpinan Bupati H.M. Santoso, Persibo Bojonegoro terus mendapatkan suntikan dana segar dari APBD kabupaten Bojonegoro untuk terus berkiprah di persepakbolaan nasional. Santoso sendiri tak kalah loyal seperti M. Atlan. Bupati yang punya latar belakang militer tersebut dikenal suka memberikan bonus uang kepada para pemain dalam jumlah yang cukup besar. Untuk Persibo Bojonegoro, H.M. Santoso memang tak perhitungan.

Tak hanya klub atau pemainnya saja yang dimanja, namun juga para pendukungnya. Di masa kepemimpinan Santoso, stadion Letjen H. Sudirman mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pelan tapi pasti tribun penonton mulai dibangun. Sebelumnya, tribun penonton stadion Letjen H. Sudirman hanya ada di bagian barat saja (VIP). Tak cukup sampai disitu, Santoso juga tak segan untuk “membiayai” keberangkatan para suporter yang akan mendukung Persibo bermain di luar kota.

Sayang, kiprah H.M. Santoso dalam menangani Persibo Bojonegoro hanya seumur jagung. Setelah gagal dalam Pikada 2008, Santoso terjerat kasus korupsi yang membuatnya kini ditahan di lembaga permasyarakatan Bojonegoro.

H. Suyoto

Tongkat estafet Persibo Bojonegoro kini beralih ke tangan H. Suyoto yang dilantik sebagai Bupati Bojonegoro pada tahun 2008. Menjabat selama dua periode, Suyoto juga terlibat langsung dalam mengurus Persibo Bojonegoro. Tak bisa dipungkiri di masa kepemimpinan pria yanga akrab disapa Kang Yoto itu, Persibo berhasil meraih deretan prestasi tertinggi yakni juara divisi utama 2009/2010 dan juga kampiun Piala Indonesia 2012. Namun jangan melupakan juga fakta bahwa masa terburuk dan terkelam Persibo Bojonegoro juga terjadi di era Bupati Suyoto.

Peraturan Mendagri yang melarang APBD untuk klub professional di Indonesia membuat Persibo yang saat itu baru promosi ke kasta tertinggi sepakbola nasional (ISL 2010/2011) menjadi kalang kabut. Kang Yoto tentu menjalankan peraturan tersebut sehingga Persibo harus mencari dana lain. Hingga akhirnya muncul dualisme PSSI yang membuat persepakbolaan Indonesia menjadi carut marut dan Persibo pun ikut terkena imbasnya.

Di tengah karut marutnya persepakbolaan Indonesia itu, Persibo malah meraih prestasi gemilang yakni menjadi juara Piala Indonesia pada tahun 2012. Karena menjadi juara Piala Indonesia, maka secara otomatis Persibo berhak berlaga di ajang AFC Cup mewakili Indonesia. Di tengah kesulitan yang ada, Persibo akhirnya mampu tampil di AFC Cup 2013. Sayangnya, di kompetisi tingkat Asia tersebut, Persibo menjadi bulan-bulanan. Bahkan sempat menjadi sorotan media internasional ketika kalah 8-0 dari klub Hongkong, Sunray Cave dengan menyisakan kurang dari 8 pemain di lapangan sehingga wasit menghentikan permainan. Tak bisa dibantah lagi apabila era terbaik dan terburuk Persibo ada pada masa kepemimpinan Suyoto sebagai Bupati Bojonegoro.

Pada tahun 2018 ini, Bojonegoro akan memiliki sosok pemimpin baru. Para pendukung serta pencinta Persibo tentunya ingin memiliki pemimpin yang tak hanya mampu memajukan Bojonegoro tapi juga secara khusus juga peduli dengan Persibo. Meski tak boleh terlibat aktif dalam kepengurusan, peran Bupati dalam membangun Persibo memang sangat diharapkan. Kebijakan-kebijakan yang diambil bisa berdampak langsung kepada Laskar Angling Dharma ke depan. Patut ditunggu komitmen Bupati baru Bojonegoro dalam membangun Persibo Bojonegoro.

Komentar

About Mahfudin Akbar

Penggila sportainment yang suka balapan dengan bus dan truk tronton di jalur Pantura.

Check Also

gusti randa

Gusti Randa dan Gunjingan-Gunjingan Busuknya

Tabrak aturan dan regulasi. Membuat keputusan yang kontraproduktif. Hal-hal yang membuat sosok Gusti Randa jadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *