Home / Tips / Memelihara Keinginan Sebagai Suatu Keinginan

Memelihara Keinginan Sebagai Suatu Keinginan

memelihara keinginan
Source: Google Images

Tapi penting bagi kita untuk memelihara keinginan. Sebab keinginan adalah dorongan bagi manusia untuk tetap melanjutkan hidup.

Hari ini saya dan ketiga teman pergi ke suatu tempat di Bojonegoro. Saya tidak tahu bagaimana harus menyebutnya, sebuah pemandian, sungai atau kali, atau apa. Tempatnya tidak cukup terkenal, tidak memiliki wahana permainan seperti tempat wisata lain, karena memang bukan tempat wisata. Di tempat itu, kami bisa berenang, dan dari berenang itu, mungkin, kepala kami bisa sedikit lebih dingin. Karena tidak banyak pengunjung, tentu saja tidak begitu ramai, sehingga memungkinkan bagi kami untuk menciptakan obrolan yang mendalam, hasil dari perenungan soal hidup dan sebagainya.

Saya sedang berdiri di atas kayu tumbang yang melintang di atas kali, melihat garis gelombang yang muncul di permukaan, setelah air hujan menghantam dan menyatu dengan air kali. Lalu, muncul keinginan di dalam diri saya untuk menceburkan diri ke dalam air. Tidak hanya menceburkan diri, tapi hilang dan menyatu. Dorongan itu mungkin muncul sesaat setelah saya merasa begitu tertarik dengan gelombang-gelombang air. Begitu menarik, dan saya tersihir. Aneh, bukan?

Saya kemudian teringat akan perkataan nenek saya dahulu. Beliau melarang saya agar jangan bermain di tambak atau bengawan, dan jangan datang ke sana dengan pikiran kosong. Sudah banyak orang-orang yang datang, lalu tiba-tiba menceburkan diri dan mati. Hal-hal tersebut seringkali dikaitkan dengan hal-hal mistis. Bukan saya tidak percaya, tapi bisa jadi, menceburkan diri adalah tindakan yang didorong oleh keinginan dari dalam diri mereka sendiri. Entah karena ada hal yang membuat mereka tertarik untuk masuk, atau ada hal yang mendorong mereka untuk lompat. Siapa yang tahu?

Berbicara tentang keinginan, saya suka mengibaratkan keinginan sebagai panggilan. Apapun bisa memanggil tapi kita bisa memilih untuk datang atau tidak datang memenuhi panggilan. Keinginan punya sensasi nikmat tersendiri, ia dibentuk oleh imajinasi kita akan satu atau beberapa hal, yang tentu saja sesuai dengan ide, ia tidak terbatas dan tak tergambarkan.

Tapi, begitu ia tercapai, terwujud, maka secara otomatis, pikiran-pikiran kita akan membuat batas idealnya. Ia tak lagi sebagai sesuatu yang tak tergambarkan, yang tak terbayangkan, tapi telah memiliki pakem-pakem tersendiri yang menjadikannya mudah untuk dibayangkan, dilakukan, dan tidak lagi menarik rasa penasaran kita.

Berbeda dengan panggilan nyata, keinginan punya dorongan kuat, yang membuat panggilan tidak bisa dengan mudah diabaikan. Karena kuat itu tadi, ia selalu menuntut kesegeraan, setidaknya bagi saya. Tapi begitu ia disegerakan, maka dengan segera pula ia pudar dari daftar. Kita semua tahu bahwa setiap manusia memiliki banyak keinginan dalam hidupnya. Apabila satu telah tercapai, maka keinginan-keinginan baru, keinginan-keinginan selanjutnya akan muncul, keinginan lama akan terkubur. Lalu, bagaimana menjaga keinginan agar tetap sebagai keinginan?

Letak dari kenikmatan ‘keinginan’ adalah berkeinginan itu sendiri. Kita meletakkan ingin sebagai suatu tujuan yang kita kejar, dan proses mengejar adalah kenikmatan yang sesungguhnya. Untuk menjaga keinginan tetap sebagai keinginan, tugas kita adalah menahan diri, membiarkan kita disiksa oleh rasa penasaran.

Enjoying the sensation of desire is a pleasure in itself and not always something we have to chase down and make visceral. So many of best moments in life are those that remain unrequited.”

Begitu kutipan dari sebuah artikel yang saya baca di situs theguardian.com. Suatu yang tak berbalas di dalam kutipan itu bisa kita maknai sebagai suatu yang tak tercapai. Banyak hal indah dalam hidup adalah suatu yang tetap tak terwujud. Cinta pertama misalnya, yang banyak dialami sebagai suatu yang gagal, tapi tetap tak terlupakan, yang akan kita kenang bahkan jika itu sudah lewat bertahun-tahun lamanya.

Apa yang salah dari menuruti keinginan? Tidak ada. Alamiahnya seseorang menuruti nafsu untuk mewujudkan keinginannya. Seperti misal keinginan untuk memiliki suatu buku bagus. Kamu membeli buku itu, kemudian membacanya, dan selesai. Jika menarik, maka kamu akan mrmbacanya dua, tiga, atau beberapa kali dan sudah itu saja.

Saya punya dua atau tiga orang teman yang punya kebiasaan unik dalam membeli buku. Mereka hampir selalu datang ke toko buku untuk melihat buku yang diinginkan tersusun rapi di rak toko buku. Beberapa memilih membacanya di tempat. Saya percaya mereka punya cukup uang untuk membeli buku tersebut, tapi mereka memilih untuk tidak memilikinya. Dengan membacanya di tempat, mereka tidak bisa langsung menamatkannya begitu saja.

Mereka butuh beberapa kali kembali ke toko buku itu, berdiri berlama-lama, atau jika tingkat ketidakpedulian mereka sudah sangat tinggi, mereka bisa memilih duduk di lantai toko dan membacanya sekuatnya, sebisanya, sebelum toko buku tutup atau jika bernasib buruk, maka pelayan akan menegur mereka. Ada perjuangan lebih yang diberikan untuk mencapai hal yang mereka inginkan. Tentu, hal yang semacam itu punya kenikmatan yang lebih panjang.

Disiksa rasa penasaran adalah kenikmatan tersendiri, setidaknya bagi saya pribadi. Kalimat barusan mungkin terdengar masokis, tapi penting bagi kita untuk memelihara keinginan. Sebab keinginan adalah dorongan bagi manusia untuk tetap melanjutkan hidup.

Komentar

About Chusnul Chotimmah

Check Also

4 Tindakan Positif untuk Mengatur Emosi

Berbicara tentang emosi, khalayak umum seringkali menganggap emosi itu cuma marah-marah atau nyolot. Padahal emosi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *