Home / Artikel / Wartawan Harus Baik dan Pejabat Harus Licik

Wartawan Harus Baik dan Pejabat Harus Licik

wartawan harus baik
Source: Google Images

Ungkapan wartawan harus baik ini tentu merujuk pada logika para perindu orde baru. Biasanya mereka pun termasuk orang yang kolot dan anti kritik. Dia ingin setiap gerak-geriknya tak terawasi oleh teropong para wartawan.

UNGKAPAN yang terlontar dari Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Edy Rahmayadi sempat gegerkan para pecinta sepakbola Indonesia. Karena ketika dirinya diwawancarai oleh para wartawan terkait gagalnya Timnas Indonesia mengarungi ajang AFF tahun ini, dia menjawab wartawannya harus baik biar timnasnya baik. Sehingga, para suporter timnas pun langsung membuat chants ‘wartawan harus baik’ sebagai ungkapan satire. Ungkapan yang sangat tidak memiliki korelasi tersebut menunjukkan kelemahan si mantan Pangkostrad yang juga merangkap sebagai Gubernur Sumatera Utara.

Omong-omong soal wartawan harus baik, memang kerap kali wartawan selalu jadi momok bagi para pejabat yang diduga kuat kerjanya kurang pas. Karena itu, para pejabat itu penginnya wartawan-wartawan itu harus baik, beritakan yang baik-baik saja, dan selalu tanya yang baik-baik saja. Lantas, sebaiknya jargon yang tepat ialah wartawan harus baik dan pejabat harus licik. Bahkan, kalau perlu ada juga terbesit harapan rakyat harus bodoh. Biar mudah dibodohi, bisa seleweng sana, seleweng sini. Semuanya yang licik ingin wartawan itu beritakan berita baik saja, karena seleweng itu hal lumrah bagi mereka. Mungkin buat uangrokok.

Namun, logika seperti itu memang subur di kalangan masyarakat. Khususnya masyarakat yang sudah terbuai rezim orde baru selama 32 tahun. Mereka di zaman itu tahunya berita ya yang baik saja, karena memang diatur oleh pemerintah dengan dalih stabilitas politik. Semuanya dimonopoli oleh Soeharto, ketika bersuara sedikit saja seputar bobroknya orde baru, kemungkinan besar media itu akan dibredel. Karena itu, rakyat manggut-manggut saja karena akses informasi yang terbatas. Padahal kenyamanan atau mungkin stabilitas ekonomi itu hanyalah semu belaka. Bom waktu pun meledak berupa krisis moneter 1998.

Rasanya konyol apabila ada orang masa sekarang yang tak pernah rasakan orde baru tapi rindu orde baru. Modal katanya-katanya dari orang-orang yang halusinasi tentang kebaikan orde baru. Padahal sekarang generasi internet, apa susahnya berselancar di google mencari catatan kelam masa orde baru dari media-media yang kredibel. Jangan cederai generasi internet. Jangan malas baca dan cari referensi terpercaya untuk pegangan.

Karena sudah saling mengakarnya pengaruh orde baru, mental pun terbentuk. Kembali lagi, ungkapan wartawan harus baik ini tentu merujuk pada logika para perindu orde baru. Biasanya mereka pun termasuk orang yang kolot dan anti kritik. Dia ingin setiap gerak-geriknya tak terawasi oleh teropong para wartawan. Padahal fungsi dasar wartawan itu menjadi kontrol sosial dan penyambung lidah masyarakat. Buktinya jumlah wartawan yang sudah menjamur saja masih banyak pejabat yang tidak takut dan masih melanggar hukum. Lalu bayangkan ketika wartawan hanya menulis berita yang baik-baik saja? Dari mana rakyat tahu kalau ada kebobrokan.

Maka dari itu, saya pun tak habis pikir dengan mereka yang dengan mudahnya bilang kalau bad news is a good news sudah tidak zaman. Bilang saja, kalau kalian itu takut dibongkar kebobrokannya. Lalu apa yang kalian harapkan dari good news?. Mungkin kalian lebih suka good news yang dibalut fake news atau good news yang dibungkus advertorial. Kalian tak perlu jadi manusia utopis. Sebab wartawan itu idealnya mengedepankan skeptisisme, bukan optimisme. Jadi dengan skeptis, wartawan bisa menggali lebih dalam sepak terjang para pejabat.

Apabila dalihnya banyak wartawan bodrek, salah sendiri kerja enggak becus. Kalau para pejabat itu kerja sesuai prosedur dan jujur buat apa takut dengan wartawan bodrek. Jangan suka memutarbalikkan fakta. Karena lagi-lagi publik yang menilai, biasanya kerap mengira profesi wartawan itu hanya cari-cari kasus biar dapat amplop. Seperti dipukul rata bahwa semua wartawan itu bodrek. Padahal tidak semua wartawan itu bisa dibeli. Ketika tidak bisa dibeli, baru deh kebingungan.

Kasus-kasus seperti itu bukan kasus yang baru. Karena masih banyak orang yang sulit menerima ugly truth. Mereka penginnya dapat informasi yang baik-baik saja. Eh, tahu gitu, mending hidup di surga sono. Enggak usah hidup di dunia. Kalau semua orang sudah jadi baik dan di jalan yang benar, buat apa hidup, karena pastinya kiamat.

Adapun apologi lain kenapa pemberitaan harus baik yakni katanya biar investor berani masuk. Astaga, rasanya lelah mendengar ungkapan-ungkapan seperti itu. Kok bisa-bisanya logika seperti itu terus dipakai. Lalu bagaimana cara tahu apabila banyak kasus kriminal, kalau hanya good news saja. Mungkin kumpulan orang bermental orba sudah menghasilkan produk media Good News From Indonesia. Makin ngelus dada kalau dengar GNFI, tapi tidak apa-apa mungkin mereka yang rindu orba bisa terobati membaca GNFI. Semua berita baik, menggugah semangat dan inspiratif. Selalu heboh ketika ada orang Indonesia berprestasi di ajang internasional.

Bahkan, baru saja terjadi, salah satu wartawan tirto.id Mawa Kresna rencananya akan dipolisikan oleh Staf Khusus Menristekdikti Abdul Wahid Maktub menggunakan UU ITE. Rencana laporkan polisi itu merupakan respon konyol akibat diberitakan keterlibatannya di balik kasus sindikat jual beli ijazah sarjana. Sekelas pejabat saja tak paham dengan kerja jurnalistik. Apabila tidak terima dengan pemberitaannya, narasumber punya kesempatan untuk gunakan hak jawab. Tidak dengan cara laporkan polisi.

Jadi memang benar, bahwa ketika jadi pejabat itu harus licik. Kalau perlu pengaruhi masyarakat tak terdidik untuk menghimpun massa kebodohan. Bilang ke seantero dunia bahwa wartawan harus baik agar sepakbola Indonesia punya prestasi yang moncer. Amin.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

wartawan baik

5 Alasan Kenapa Wartawan Harus Baik

Kalau wartawan baik, timnasnya juga akan baik. Kalimat tersebut dilontarkan oleh Ketua Umum PSSI, Edy …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *