Home / Artikel / Guru Honorer Ada dan Terus Berlipat Ganda

Guru Honorer Ada dan Terus Berlipat Ganda

Guru honorer
Source: Google Images

HANYA ada satu kata, LAWAN!. Jumlah guru honorer di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 juta orang. Tapi perkiraan saya, jumlah itu lebih banyak lagi. Karena data itu diambil kalau si guru honorer sudah punya NUPTK. Sehingga, mereka ada dan terus berlipat ganda.

Guru honorer butuh banyak keberanian melewati berbagai rintangan. Gaji hanya Rp 150 ribu – Rp 300 ribu per bulan. Tapi anehnya selalu dianggap maklum. Berarti negara memang kurang becus mengurus kesejahteraan guru. Namun, penginnya bisa punya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Padahal menggaji guru honorer saja tidak bisa profesional. Heran melihatnya.

Keberanian-keberanian itu sepertinya kurang diluapkan secara maksimal. Demonstrasi yang diadakan guru honorer kerap kali kurang greget, tak seperti demo buruh. Seharusnya, momen May Day juga bisa dimanfaatkan guru honorer, kompak bikin mogok massal. Karena sudah kewajiban sekolah untuk menggaji karyawan sesuai UMR. Sekolah juga industri. Kalau tidak mampu bayar sesuai UMR, tak perlu rekrut honorer.

Jangan takut dibilang guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa kok minta gaji UMR. Di sini kita bicara profesionalitas. Kalau perlu hapus saja kutipan itu dalam kamus kita, cukup menyesatkan. Kalau dibiarkan begitu saja, negara ini tetap menyepelekan kondisi guru honorer. Dianggapnya guru itu memang perlu untuk mengabdi dulu, jadi wajar. Pembenaran model begitu tuh yang bikin guru honorer sengsara.

Masih belum berhenti di situ, para guru honorer pun perlu lebih lincah lagi cari penghasilan tambahan. Banyak sekali bisnis sampingan yang tak butuh modal yang besar. Apalagi sudah berkeluarga, gaji guru honorer kerap habis hanya untuk transportasi. Gaji Rp 10 per hari kalah dengan gaji kuli bangunan Rp 85 ribu per hari. Karena itu, saya terus mendukung apabila guru honorer terus adakan demonstrasi. Jangan pernah berhenti berjuang.

Bagi mereka yang hobinya sok tahu dan alergi ketika melihat guru honorer demo atau mogok mengajar. Sebaiknya berkaca dulu, lihat realita yang mereka sedang hadapi. Mengabdi untuk negara, namun tidak ada penghargaan sedikit pun. Mau bilang kalau profesi guru itu panggilan dari hati?. Kalau setengah hati mending enggak usah jadi guru?. Dasar mental penjajah. Dasar mental orba. Mau sampai kapan nasib guru honorer itu terpuruk?. Tolonglah, pikir lagi segala logika sampah kalian itu.

Lalu, bagi kalian para calon guru dari berbagai kampus, mari perjuangkan para guru honorer. Jangan takut jadi guru honorer. Tapi jangan lagi mau disuruh mengabdi beberapa tahun dulu dengan gaji jauh dari UMR. Itu merupakan pembodohan massal yang diciptakan oleh negara. Dana BOS (bantuan operasional sekolah) seharusnya sudah termasuk gaji UMR guru honorer. Jumlah guru honorer seharusnya atas sepengetahuan pemerintah pusat. Jadi semuanya jelas, itung-itungannya juga jelas.

Tapi sayangnya, negara enggan mengontrolnya. Bahkan negara malas untuk melihat rasio jumlah sekolah dan jumlah siswa. Kalau rasio sudah seimbang, seharusnya banyak sekolah yang dimerger. Selain itu, negara juga tak lagi berikan izin pendirian sekolah dari berbagai yayasan. Pendidikan memang sudah jadi industri mesin pencari uang. Kini banyak sekali sekolah swasta berdiri. Tapi gaji guru atau stafnya pun sangat diragukan sesuai dengan UMR. Selalu menyedihkan.

Terus berjuang guru honorer!

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

3 Pilar di Negara Indonesia yang Membanggakan

Indonesia, Negara bekas jajahan Belanda dan Jepang. Negara yang sering disebut bangsa inlander. Bangga? Mungkin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *