Home / Artikel / Sepak Terjang Vigit Waluyo di Persepakbolaan Indonesia

Sepak Terjang Vigit Waluyo di Persepakbolaan Indonesia

Vigit waluyo
Source: Google Images

Nama Vigit Waluyo sedang ramai diperbincangkan oleh pencinta sepakbola Indonesia. Berawal dari salah satu episode Mata Najwa di TV, sosok yang dianggap sebagai mafia sepakbola Indonesia tersebut menjadi topik perbincangan hangat di masyarakat. Lalu, siapakah sosok Vigit Waluyo tersebut.

“Menurut saya, semua pemain dan pelatih yang berkiprah di Liga Indonesia tahu siapa itu Vigit Waluyo,” ujar pelatih timnas U-16, Fachri Husaeni.

Ungkapan Fachri Husaeni tersebut dilontarkan pada acara Mata Najwa. Eks pemain timnas itu menjadi salah satu narasumber di episode Mata Najwa “PSSI Bisa Apa”. Saat itu, Najwa Shihab bertanya apakah Fachri mengenal Vigit Waluyo yang disebut oleh Bambang Suryo (eks runner situs judi online) sebagai mafia sepakbola Indonesia.

Vigit Waluyo bukanlah sosok asing di persepakbolaan Indonesia. Saat era Liga Sepakbola Galatama, Ia sempat membantu Ayahnya, HM Mislan untuk menangani klub Bali, Gelora Dewata. Klub Gelora Dewata yang didirikan oleh HM Mislan kemudian berganti nama menjadi Delta Raya Sidoarjo atau Deltras.

Setelah berganti nama menjadi Deltras, Vigit Waluyo terlibat aktif di jajaran manajemen klub Sidoarjo tersebut. Vigit bahkan pernah menjabat sebagai penanggung jawab Deltras Sidoarjo pada kurun waktu 2008 hingga 2011. Vigit sempat memberikan tongkat kepengurusan kepada anak perempuannya, Ayu Sartika.

Ayu Sartika menjabat sebagai manajer Deltras dari tahun 2009 hingga 2011. Di tangannya, Deltras berhasil dikembalikan ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia pada tahun 2010. Ayu Sartika sendiri menikah dengan pesepakbola asing yang sudah malang melintang di Indonesia, Danilo Fernando. Eks pemain Persebaya dan Persik Kediri itu kini berada di jajaran staf pelatih PSS Sleman.

Kembali ke Vigit Waluyo. Setelah menangani Deltras, Vigit kemudian menjadi bagian dari Persatuan Sepakbola Kutai Barat atau Persikubar. Klub yang tampil di Divisi Utama tersebut disulap menjadi Persebaya Surabaya DU akibat dualisme Liga Indonesia pada tahun 2012 dan 2013. Persikubar atau Persebaya DU ini lantas menjadi klub Bhayangkara FC yang pernah menjuarai Liga 1 Indonesia pada tahun 2017. Ia punya pengaruh besar dalam jual beli klub Liga Indonesia.

Selain Deltras dan Persikubar, ada beberapa klub Liga Indonesia yang mendapat campur tangan Vigit Waluyo. Diantaranya adalah PSIR Rembang, Perseba Bangkalan dan PSBK Kota Blitar. Satu benang merah yang bisa ditarik adalah Vigit lebih sering menangani tim-tim yang berada di kasta kedua sepakbola Indonesia.

Perjalanan Vigit Waluyo kemudian berlanjut di klub PSMP Mojokerto Putera. Vigit cukup lama menangani tim yang berdiri sejak . PSMP adalah tim langganan 8 besar kasta kedua Liga Indonesia. Uniknya, PSMP selalu gagal lolos ke babak selanjutnya ketika masuk ke babak 8 besar.

Contoh terakhir ketika PSMP berpeluang lolos ke babak 4 besar Liga 2 2018. Di pertandingan terakhir melawan tuan rumah Aceh United, PSMP memiliki kesempatan untuk lolos 4 besar ketika mendapatkan hadiah tendangan penalti di menit akhir babak kedua. Saat itu skor masih 3-2 untuk keunggulan Aceh United.

Jika berhasil mencetak gol dan meraih satu poin, PSMP berhak lolos karena di saat yang bersamaan Kalteng Putera dikalahkan oleh PSS Sleman. Poin PSMP dan Kalteng Putra menjadi sama di klasemen. Tapi PSMP masih unggul head to head.

Namun, pemain PSMP yang menjadi eksekutor, Krisnha Adi seperti enggan memasukkan bola ke gawang. Tendangan penalti itu pun gagal masuk dan melebar jauh dari sasaran. Skor 3-2 untuk kemenangan Aceh United bertahan. PSMP pun gagal lolos.

Tendangan penalti Krisna Adi pun langsung viral di dunia maya. Mata Najwa pun menyoroti hal tersebut. Pencinta sepakbola pun mengaitkan hal tersebut dengan sosok Vigit Waluyo yang punya peran besar dalam klub PSMP.

Vigit Waluyo sebenarnya juga merupakan buronan Kejaksaan Jawa Timur. Ia terlibat korupsi dana pinjaman PDAM ketika masih menangani Deltras Sidoarjo. Uniknya lagi, meski sudah ditetapkan sebagai buronan, Vigit masih bisa melenggang santai. Bahkan ada yang pernah melihat keberadaan Vigit di stadion Maguwoharjo pada akhir November 2018 ketika PSS melawan Kalteng Putra.

Kekuatan Vigit Waluyo memang tak terbantahkan lagi. Meski namanya selalu diasosiasikan dengan istilah “mafia” dan sudah ditetapkan sebagai buronan kejaksaan, Vigit nyatanya masih bebas berkeliaran.

Nama Vigit Waluyo sudah disebut. Semua hal yang berkaitan sudah diumbar. Segala macam peristiwa ganjil pun sudah dibuka ke publik. Apakah PSSI akan bertindak? Nampaknya tidak. Tinggal menunggu beberapa minggu atau beberapa bulan lagi untuk melupakan kasus dan sosok Vigit Waluyo. Hal ini akan menguap begitu saja dan peristiwa yang sama akan kembali terulang. Toh, kasus sepakbola gajah antara PSS dan PSIS tahun 2014 silam tak membuat “orang-orang” ini kapok bukan?

Komentar

About Mahfudin Akbar

Penggila sportainment yang suka balapan dengan bus dan truk tronton di jalur Pantura.

Check Also

wartawan baik

5 Alasan Kenapa Wartawan Harus Baik

Kalau wartawan baik, timnasnya juga akan baik. Kalimat tersebut dilontarkan oleh Ketua Umum PSSI, Edy …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *