Home / Artikel / 7 Fakta Seputar Mitos HIV AIDS

7 Fakta Seputar Mitos HIV AIDS

fakta mitos hiv aids
Source: Google Images

Adapun mitos HIV AIDS juga banyak yang perl diluruskan. Sebab, di kalangan masyarakat seringkali tersiar mitos-mitos terhadap penyakit HIV dan AIDS yang menyuburkan stigma terhadap ODHA.

MESKI setiap 1 Desember peringatan Hari AIDS Sedunia, kampanye dan sosialisasi mengenai penyakit HIV dan AIDS, namun masih saja ada masyarakat yang belum sepenuhnya memahami dan bersikap terbuka pada para penderita. Kondisi ini terlihat dari adanya stigma negatif yang berujung pada diskriminasi. Karena, tak semua masyarakat sebenarnya mendapatkan pemahaman dan informasi yang tepat terkait penyakit satu ini. Karena itu kampanye harus terus dilakukan.

Setidaknya Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang masih sering menerima perlakuan tidak semestinya itu menurun. Karena penghapusan stigma itu bisa membuat beberapa dari mereka untuk membuka status terhadap pasangan atau sengaja mengubah perilaku untuk menghindari reaksi negatif. Reaksi ini tentunya dapat menghambat usaha untuk mengintervensi penyebaran HIV dan AIDS.

Stigma dan diskriminasi sendiri pun dapat muncul dari adanya respon masyarakat pada HIV dan AIDS yang berlebihan. Ancaman kepada individu yang terinfeksi atau yang termasuk dalam kelompok tertentu telah meluas. Mengingat HIV dan AIDS sering diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian, banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima, bahkan takut terhadap penyakit ini.

Adapun mitos HIV AIDS juga banyak yang perl diluruskan. Sebab, di kalangan masyarakat seringkali tersiar mitos-mitos terhadap penyakit HIV dan AIDS yang menyuburkan stigma terhadap ODHA. Mitos-mitos tersebut hendaknya diluruskan dengan banyak kampanye yang masif. Sehingga masyarakat luas lebih paham dan toleran dengan para ODHA. Mitos-mitos itu perlu diluruskan dengan fakta-fakta, di antaranya:

1. HIV dan AIDS itu Berbeda

HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS adalah dua hal yang berbeda. HIV adalah nama virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh sementara AIDS adalah tahap akhir dan kelanjutan dari infeksi HIV jangka panjang setelah sistem imun tubuh akhirnya rusak. Tidak semua orang yang positif HIV otomatis juga terjangkit AIDS. Pengobatan HIV yang tepat guna bisa memperlambat atau menghentikan perkembangan virus HIV, yang pada akhirnya turut mencegah risiko AIDS. Jarak virus HIV berkembang jadi AIDS sekitar 9-11 tahun.

2. HIV/AIDS Paling Banyak Serang Ibu Rumah Tangga

Seks vaginal (penetrasi penis-vagina) tanpa kondom menjadi cara penularan HIV dengan angka kejadian yang cenderung tinggi. Seks oral juga tergolong sebagai faktor risiko penularan infeksi HIV. Mengutip laporan teranyar dari Kemenkes, tren infeksi HIV selama 2010-2017 terus dominan terjadi pada golongan heteroseksual. Infodatin AIDS juga menunjukkan bahwa penderita HIV/AIDS di Indonesia paling banyak justru berasal dari kelompok ibu rumah tangga dan pekerja (baik kantoran, wirausaha, maupun tenaga medis). Meski begitu, seks anal tetap memiliki risiko infeksi HIV paling tinggi di antara metode seksual lainnya.

3. Penularan HIV/AIDS Melalui Darah, Sperma, Cairan Vagina, ASI, dan Anus

Beragam penelitian membuktikan bahwa HIV dan AIDS tidak disebarkan melalui sentuhan kulit (seperti dari bersalaman, berpelukan, atau tidur malam di atas ranjang yang sama), air mata, keringat, atau pertukaran air liur seperti saat berciuman. Anda tidak akan tertular HIV saat berada di satu ruangan dan menghirup udara yang sama dengan ODHA, menyentuh barang-barang yang telah disentuh oleh ODHA, meminum dari gelas yang telah digunakan oleh ODHA, memeluk/mencium/berjabat tangan dengan ODHA, maupun berbagi peralatan makan dengan ODHA.

Selain itu, sampai detik ini tidak ada bukti medis yang dapat menunjukkan bahwa gigitan nyamuk bisa jadi perantara penyebaran virus HIV bahkan di tempat yang rawan HIV dan banyak nyamuknya. Saat nyamuk berpindah lokasi gigit, mereka tidak akan mengalirkan darah milik orang sebelumnya kepada ‘mangsa’ selanjutnya. Selain itu, umur virus HIV dalam serangga juga tidak akan bertahan lama.

4. Umur Para ODHA juga Bisa Panjang

Meskipun sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, namun ada jenis obat yang dapat memperlambat perkembangan virus. Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV). ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri, dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4. ARV juga memungkinkan para ODHA untuk hidup lebih panjang umur, serta dapat beraktivitas normal dan tetap produktif.

5. Tanda dan Gejala Virus HIV Baru Muncul Sekitar 10 Tahun

Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah kamu atau pasanganmu HIV positif adalah dengan tes HIV. Jadi, bagi kamu yang sering melakukan aktivitas seksual berisiko, sebaiknya segera lakukan tes HIV. Sebab, kami bisa terjangkit HIV positif tanpa menunjukkan gejala apapun selama bertahun-tahun. Gejala awal HIV bahkan bisa muncul 10 tahun setelah infeksi pertama, dan dapat berupa gejala mirip flu biasa.

6. Virus HIV mudah mati di udara bebas

Selain mudah mati di udara bebas. Virus tanpa inang yakni darah, cairan vagina, air mani dan ASI, akan mati kurang dari semenit. Virus HIV juga akan mati apabila terkena kaporit. Jadi tak perlu takut berenang di kolam renang.

7. Sel CD4 Minimal 500 per millimeter kubik

CD4 merupakan salah satu jenis sel darah yang menjadi bagian dari sistem pertahanan tubuh kita. Orang sehat memiliki jumlah CD4 500 hingga 1.500 per milimeter kubik. Tanpa pengobatan, HIV terus berkembang biak dan menghancurkan sel CD4. Jika jumlah CD4 seseorang turun di bawah 200, Virus HIV akan menang dan seseorang akan menderita Aids. Juga, jika seseorang dengan HIV mengembangkan infeksi oportunistik yang terkait dengan HIV, mereka masih dapat didiagnosis dengan AIDS, bahkan jika jumlah CD4 mereka di atas 200.

 

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *