Home / Artikel / Kasus Intoleransi Masih Marak Selama 2018

Kasus Intoleransi Masih Marak Selama 2018

kasus intoleransi
Source: Google Images

Laporan Setara Institute menyebutkan bahwa kasus intoleransi semakin berdenyut di nadi keindonesiaan kita. Sepanjang 2017, terjadi 155 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di 29 provinsi di Indonesia. Sementara, selama 2018 ini, intolerasi juga masih memenuhi wajah keindonesiaan kita. Kita masih belum lupa tentang kasus pembubaran kegiatan bakti sosial Gereja Katholik St Paulus Pringplayan, Bantul, Yogyakarta. Lalu, tragedi penyerangan di Gereja Katolik St Lidwina, Trihanggo Sleman, dan pengusiran seorang biksu di Tangerang, Banten.

Idealny, masyarakat Indonesia harus selalu mengingat bahwa negaranya manganut slogan bhinneka tunggal ika. Jadi, tidak alasan bagi kita untuk terpecah belah. Karena konsekuensi hidup di Indonesia harus mampu bertoleransi. Karena Indonesia itu negara yang majemuk. Apabila ada beberapa dari kalian ingin memberi makan ego sendiri dengan cara menentang ajaran atau kepercayaan lagi, kehancuran tentu akan menjadi keniscayaan. Justru dengan banyaknya kasus intoleransi di Indonesia baru-baru ini yang semakin marak tentu harus menjadi sinyal bersama.

1. Puluhan Kasus Intoleransi di Wilayah Yogyakarta

Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) DIY mencatat ada 10 kasus intoleransi yang didominasi kasus kebebasan beragama dan berkeyakinan di DIY pada 2018. Ke-10 kasus ini terdiri atas enam kasus baru dan empat kasus lama yang belum selesai.

Koordinator ANBTI DIY Agnes Dwi Rusjiyati menjelaskan keempat kasus lama yang belum selesai tersebut adalah Pemkab Gunungkidul yang belum menerbitkan izin mendirikan bangunan (IMB) bagi permohonan klasis GKJ Wonosari. Meskipun mereka sudah menang di Pengadilan Tinggi Usaha Negara (PTUN). Dan beberapa kasus penutupan tempat ibadah di Sleman beberapa tahun lalu yang belum selesai.

Untuk kasus baru pada 2018, dia menjelaskan dimulai sejak Januari saat pembubaran bakti sosial di Pringgolayan, Banguntapan, Bantul. Lalu penyerangan Gereja St Lidwina di Sleman. Berikutnya, ada penyerangan atau penolakan acara sedekah laut di Pantai Baru, Bantul. Penyerangan di Pengadilan Negeri Bantul terkait kasus pameran Wiji Tukul. Hingga kasus terbaru pemotongan salib nisan warga Katolik di Kotagede, Yogyakarta.

2. Perusakan Salah Satu Masjid di Tuban

Penyerangan tempat ibadah kembali terjadi. Kali ini, masjid Baiturrahim di Tuban, Jawa Timur diserang sekolompok orang. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, perusakan masjid terjadi pada Selasa (13/2/2018) pukul 01.00 WIB. Pada pukul 03.00 WIB, Polres Tuban langsung mengamankan para pelaku yang berjumlah dua orang.

Satu pelaku bernama M Zaenudin, 40, warga Desa Karangharjo RT 02 RW 01, Kecamatan Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Zaenudin diamankan di Polda Jatim karena indikasi gangguan jiwa, satu lain masih dalam penangangan Polres Tuban. Sebelum kejadian, pelaku Zaenudin pada malam hari mencari-cari seorang Kiai Pondok Al Ishlahiyah, Gus Mad. Seorang warga, Muhammad, sempat menanyakan tujuan pelaku mencari-cari hingga ke belakang masjid. Namun, pelaku malah marah dan memukul Muhammad.

Pelaku kemudian pemecahan kaca masjid, hingga masyarakat sekitar menangkapnya. Pelaku kemudian diserahkan kepada kepolisian setempat. Dalam proses pemeriksaan, kepolisian menemukan buku-buku ilmu sufi dan buku makrifat. Namun dugaan ilmu menyimpang dan lain-lain masih dikembangkan Polda Jatim.

3. Salah Satu Biksu di Tangerang Dipersekusi

Kasus kekerasan agama pertama sepanjang 2018 yakni persekusi terhadap Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Rabu (7/2/2018) silam. Sekelompok orang tiba-tiba menggerebek kediaman Mulyanto. Mereka menuding sang biksu sering mengadakan kegiatan ibadah agama Buddha di rumahnya. Yang lebih ekstrem lagi, orang-orang itu menuding ada upaya dari Mulyanto untuk mengajak warga sekitar berpindah agama.

Dari video yang beredar hingga viral itu, Mulyanto kemudian diminta membuat surat pernyataan dan meninggalkan rumahnya pada 4 hingga 10 Februari 2018. Di bagian akhir video, ia mengaku siap diproses secara hukum jika terbukti melanggar surat pernyataan tersebut. Romo Kartika yang mewakili pemuka agama Buddha membantah akan dilakukan kegiatan ibadah di Desa Babat. Ia juga membantah akan dibangun Vihara di area tersebut.

Ia menjelaskan setiap Minggu Biksu Mulyanto mendapat kunjungan dari warga dari luar Desa Babat, karena ingin memberikan bekal makanan. Mulyanto pun membalasnya dengan mendoakan orang-orang yang telah memberikan bekal makanan itu. Romo Kartika mengakui ada kekeliruan, sehingga terdapat mispersepsi terhadap kegiatan Biksu Mulyanto. Sedangkan, petinggi di desa tersebut mengklaim mereka tidak anti terhadap warga dari agama lain. Bahkan, mereka menyebut sejak dulu selalu bersikap toleran terhadap pemeluk agama lain baik itu Nasrani, Buddha atau Khonghucu.

3. Dua Tokoh Islam Terkena Serangan Brutal

Setara Institut menyebutkan terjadi dua serangan brutal terhadap tokoh agama. Pertama penganiayaan ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) HR Prawoto, oleh orang tak dikenal pada Kamis (1/2/2018), hingga nyawanya tak dapat diselamatkan. Kedua, penganiayaan pada ulama, tokoh NU, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka Bandung, Jawa Barat, KH Umar Basri pada Sabtu (27/1/2018).

4. Ancaman bom di kelenteng Kwan Tee Koen Karawang

Selain penyerangan gereja, pada hari yang sama juga terjadi ancaman ledakan bom di Kelenteng Kwan Tee Koen, Karawang, Jawa Barat. Tersangka bernama Dadang Purnama alias Daeng alias Dawer Bin Adang Rahmat. Kapolres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan mengatakan ancaman bom bermula dari kedatangan Dawer ke kelenteng, untuk memberikan Alquran kecil kepada pengurus kelenteng pada Minggu 11 Februari 2018, sekitar pukul 05.15 WIB.

Setelah membuka Alquran, Handy mengatakan, pengurus menemukan selembar kertas berisi ancaman bom dan permintaan puluhan juta rupiah. Kertas tersebut bertuliskan, “Rp63.000.000, Sejarah Pembodohan Uang. Sudah terungkap sekarang mending loe TF : ke Rek gua 1091620125 (BCA) atau GUA BOM ini tempat loe’.” Setelah menyelidiki kasus ini, Senin (12/2/2018), sekitar pukul 01.00 WIB polisi menangkap Dawer di rumah orang tuanya di Babakan Sananga Timur, RT 001 RW 004, Kelurahan Adiarsa Timur, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Polisi menyita sejumlah barang bukti dari penangkapan pelaku yang kelahiran Cirebon, 1 September 1993 itu, di antaranya satu Alquran kecil sampul warna merah yang ditemukan di kelenteng), uang selembar pecahan Rp10 ribu, satu lembar kertas berisi ancaman, dan satu buku berjudul Aku Cinta Islam.

5. Pura di Lumayang Dirusak Oleh Orang Tidak Dikenal

masyarakat Lumajang digegerkan dengan perusakan sebuah Pura di daerah Senduro. Para pelaku menghancurkan setidaknya tiga arca“Pelaku ini sepertinya memanfaatkan kasus yang ada sekarang ini. Makanya harus diusut mulai sekarang. Jangan sampai meluas,” tegas Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera saat melakukan konferensi pers, Senin (19/2/2018) silam. Tak hanya Polda Jawa Timur, Frans mengatakan bahwa kasus ini juga mendapat perhatian dari Mabes Polri. Wakapolri, Komjen Syafruddin langsung turun ke lapangan untuk memeriksa kejadian tersebut.

6. Penyerangan Ulama di Lamongan

Penyerangan terhadap ulama juga menimpa seorang kiai di Lamongan bernama Abdul Hakam Mubarok pada Minggu (19/2/2018) silam. Korban yang merupakan pengasuh Pondok Karangasem Paciran Lamongan tersebut diserang oleh seorang pria yang berlagak gila. Namun, saksi mata yang berada di lokasi mengatakan bahwa tampilan pelaku tak seperti orang gila karena tak tampak kumal. Bahkan, gigi dan baju yang dipakainya tampak bersih. Yang lebih janggal, pelaku diketahui sudah mondar-mandir di lokasi sejak beberapa hari sebelumnya. Sempat menuai amarah massa, pria berambut cepak itu pun diamankan di Mapolsek Paciran. Informasi terakhir, pria tersebut dibawa ke RS Bhayangkara untuk diperiksa kejiawaannya.

7. Larangan Memakai Cadar di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Kesimpulan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yudian Wahyudi, yang mengaitkan cadar dengan radikalisme tentu sangat tidak bisa dibenarkan. Apalagi ia menduga para mahasiswi yang mengenakan cadar merupakan penganut Islam yang menentang ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Islam moderat yang diusung kampus tersebut.

Sebelumnya, di kampus itu memang beredar foto 30 mahasiswi yang memperagakan atribut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sedang beraktivitas di kampus UIN. Padahal HTI merupakan organisasi yang dilarang pemerintah. Tanpa pertimbangan matang, Rektor lalu menerbitkan surat yang memerintahkan pendataan dan pembinaan. Hasilnya, didapati 41 mahasiswi bercadar dari berbagai fakultas. Kemudian keluarlah larangan tersebut.

Menghalau paham radikalisme dan ekstremisme dengan melarang perempuan memakai cadar sama artinya seperti mengidentikkan cadar dengan ekstremisme. Padahal tak semua orang yang bercadar memiliki ideologi radikal. Demikian pula, tak dapat dipastikan bahwa orang yang dipaksa melepaskan cadar akan otomatis tidak radikal lagi.

8. Survei: Kalimantan Utara Paling Toleran, Aceh Paling Intoleran

Indeks Kota Toleran (IKT) dalam riset SETARA Institute, adalah kota yang memiliki beberapa atribut. Di antaranya, pemerintah kota tersebut memiliki regulasi yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi, baik dalam bentuk perencanaan maupun pelaksanaan. Selanjutnya, pernyataan dan tindakan aparatur pemerintah kota tersebut kondusif bagi praktik dan promosi toleransi. Kemudian, di kota tersebut, tingkat peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan rendah atau tidak ada sama sekali.

Dan yang terakhir, kota tersebut menunjukkan upaya yang cukup dalam tata kelola keberagaman identitas keagamaan warganya. Menariknya, Banda Aceh, masuk dalam daftar 10 kota paling intoleran (bottom ten). Selain Banda Aceh, juga masuk dalam bottom ten, secara berurutan yakni Sabang, Medan, Makassar, Bogor, Depok, Padang, Cilegon, Jakarta, dan Tanjung Balai. Sebaliknya, 10 kota dengan skor toleransi tertinggi yakni Singkawang, Salatiga, Pematang Siantar, Manado, Ambon, Bekasi, Kupang, Tomohon, Binjai, dan terakhir Surabaya.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *