Home / Artikel / Mengeluh Lapangan Kerja Sedikit, Tapi Malas Belajar dan Cari Pengalaman

Mengeluh Lapangan Kerja Sedikit, Tapi Malas Belajar dan Cari Pengalaman

lapangan kerja sedikit
Source: Google Images

Apabila negara hanya mampu memberikan lapangan kerja sedikit, jangan kaget. Karena percuma juga banyak berharap kepada negara. Kendali atas dirimu untuk bertahan hidup harus selalu diperjuangkan.

Pepatah Jawa mengatakan ‘ora obah, ora mamah‘ (tidak bergerak, tidak makan). Karena itu, jadi manusia jangan hanya dihabiskan untuk mengeluh. Karena selain buang-buang energi, kamu juga akan kelihatan seperti manusia lemah. Sebab, peluang sebenarnya bisa diciptakan apabila ada kemauan dari dalam dirimu. Tergantung bagaimana kamu melihat hidup ini layak diperjuangkan atau hanya sekadar untuk guyonan saja. Itu pilihanmu.

Selama ini, kerap kita dengar suara keluhan masyarakat yang menganggap negara tidak becus menyediakan lapangan kerja. Meski itu kenyataan, ada hal yang lebih urgen yakni menaikkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui jalur pendidikan. Lantas, keluhan pun tak kunjung usai. Keluhan berupa tuntutan kepada negara itu memang benar. Tapi juga perlu dibarengi dengan kualitas SDM yang memiliki kompetensi. Percuma lapangan kerja sangat banyak apabila SDM-nya tak memiliki keahlian.

Bahkan, ada beberapa orang yang saking putus asanya karena tak memiliki keahlian, ia memilih hijrah ke luar negeri. Karena di luar negeri yang lebih maju dibanding Indonesia mampu membayar gaji bulanan lebih tinggi. Padahal pekerjaan yang mereka kerjakan ialah menjadi pelayan, bell boy, atau asisten rumah tangga. Saya di sini tidak sedang mendeskreditkan tenaga kerja Indonesia (TKI). Sebab TKI juga menjadi penyumbang devisa bagi negara. Itu sudah menjadi hak mereka.

Tapi ada baiknya juga dengan kondisi lapangan kerja sedikit, seharusnya menjadi pemacu masyarakat untuk meningkatkan kualitas diri. Perlu diakui, ketika menjadi TKI sebagian besar taraf hidupnya akan membaik. Tapi kerap kali mereka canggung ketika pulang ke tanah kelahirannya. Bahkan tak heran sepulangnya menjadi TKI di luar negeri, justru tabungan habis begitu saja. Karena tidak memiliki kemampuan mengelola keuangan. Lalu, ketika di tanah kelahirannya, para TKI masih ditampar kenyataan bahwa menjadi pekerja kasar gajinya masih sangat sedikit.

Itulah alasan apabila negara hanya mampu memberikan lapangan kerja sedikit, jangan kaget. Karena percuma juga banyak berharap kepada negara. Kendali atas dirimu untuk bertahan hidup harus selalu diperjuangkan. Kamu harus giat belajar hal-hal baru dan giat mencari pengalaman yang bisa meningkatkan keahlianmu. Tak semua pekerjaan itu bergantung pada ijazah. Kalau perlu buatlah lapangan pekerjaan sendiri. Sebab sumber dari keluhanmu juga data dari kemalasan sekaligus ketakutan bersaing.

Saya ingin ambil contoh di kota kelahiran saya, Bojonegoro. Di kota saya, selama 2018, ada 18 ribu lapangan pekerjaan. Namun hanya 4.000 orang yang bersaing berebut lapangan pekerjaan itu. Lalu, orang yang berhasil mendapatkan lapangan pekerjaan itu hanya 2.000 orang. Sedangkan jumlah pengangguran di Bojonegoro masih 24 ribuan orang. Tentu ada banyak faktor yang menyebabkan sulitnya pengangguran itu turun. Pertama, banyak orang yang tidak sadar diri dengan kualitasnya, tapi kebanyakan memilih karena gengsi. Kedua, lapangan pekerjaan yang tersedia itu syarat kualifikasinya terlalu tinggi. Lagi-lagi, hal mendasar yang harus diperhatikan negara ialah pemerataan kualitas pendidikan.

Apabila kamu kritis, zaman sekarang banyak profesi baru yang bisa menjadi ceruk bagi kamu. Kalau perlu ciptakan sendiri peluang terhadap ceruk-ceruk tersebut.

Buang Jauh-jauh Rasa Gengsi

Gengsi hanya membuatmu mati kelaparan. Pahami dulu diri kamu, pahami dulu kualitas yang kamu miliki. Tak ada salahnya mencari pengalaman dari hal-hal yang dianggap rendahan. Tapi setidaknya, kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri. Tentunya, pekerjaan yang tidak menentang norma agama. Biar hasil yang kamu dapatkan lebih banyak memberikan barokah kepada orang-orang tersayang. Tak perlu gelap mata mencari jalan pintas untuk memberikan ego berupa gengsi.

Tak bisa dipungkiri nasib orang berbeda-beda. Ada yang karirnya melesat, ada juga yang lambat. Ada yang usahanya cepat besar, ada juga yang usahanya stagnan. Tapi hal terpenting sesuaikan gaya hidup kamu dengan penghasilanmu. Karena gengsi itulah sumber kehancuran tatanan hidup. Jadi, ketika sudah bekerja tapi merasa sulit menabung karena gaji pas-pasan jangan sibuk mengeluh. Ada baiknya berusaha mencari penghasilan tambahan atau mengubah gaya hidup yang sederhana alias tirakat.

Sepertinya, tulisan panjang kali lebar yang telah saya utarakan di atas terlihat sok menggurui. Tapi sebenarnya, saya juga sedang berusaha membuat pengingat bagi diri saya sendiri untuk menjalani hidup dengan penuh perjuangan. Saya tidak ingin berhenti dengan keluhan-keluhan. Sebab, hidup di negara ini tak pernah dijanjikan kepastian. Banyak omong kosong dan bualan belaka.

Tabik.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

pengangguran digaji

Pengangguran Digaji? Berikut Negara yang Sudah Menerapkannya

SETUJUKAH kalian dengan janji politik capres Jokowi kalau kelak pengangguran digaji menggunakan kartu pra kerja?. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *