Home / Artikel / Pasangan Dildo Melawan Politik Tak Etis dengan Isu Ranjang

Pasangan Dildo Melawan Politik Tak Etis dengan Isu Ranjang

dildo
Source: Google Images

Jadi, apa yang menjadikan pasang capres-cawapres fiktif DiLdo lebih mampu diterima masyarakat? Perpaduan humor dan isu seksual. Humor, umor, cairan. Humor sejatinya hadir untuk mencairkan ketegangan, kekakuan, kebekuan, dan tidak dapat dipungkiri, selain tertawa, manusia butuh bersenggama. DiLdo menyentuh titik paling penting itu.

Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan hadirnya sosok Nurhadi, calon presiden lawakan yang dipasangkan dengan Aldo, yakni calon wakil presiden hasil rekaan. Nurhadi-Aldo muncul dengan singkatan nyentrik yang cukup menggelitik, DiLdo, benda berbentuk alat kelamin laki-laki yang difungsikan sebagai alat ganti penetrasi. Dengan mengusung tagline berbau seksual, DiLdo berhasil mendapatkan perhatian masyarakat dunia maya, khususnya anak muda.

Saya bertanya-tanya bagaimana DiLdo bisa dengan mudah diterima masyarakat? Padahal perkara seksual adalah perkara yang tabu dibicarakan di muka publik. Dari sini, saya berangkat untuk melakukan penelitian kecil melalui diskusi-diskusi informal di warung-warung kopi dan obrolan di dunia maya.

Pertama dan yang paling utama, yang bisa saya simpulkan, adalah kegagalan politisi kita untuk membangun politik yang etis. Sejauh ini, kita disuguhkan dua tokoh pilihan, kubu petahana dan kubu penantang. Kita secara terang-terangan menyaksikan keduanya saling bertarung bahkan dengan cara yang sama sekali tidak pantas dipertontonkan di muka publik. Tentu kita masih ingat kasus RS dengan berita bohong yang dibuatnya, manipulasi kotak suara, dan yang paling menggelitik adalah pemberian penghargaan pencipta hoax kepada kubu penantang.

Apakah figur-figur seperti itu yang kemudian akan kita amanahi untuk memimpin bangsa ini selama 5 tahun ke depan? Anak-anak kecil yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan permen yang dimau. Termasuk mengabaikan etika dalam berpolitik. Banyak dari rekan diskusi saya yang  kemudian mengatakan untuk abstain di PEMILU April nanti.

Politik yang tidak etis seperti ini bukan hanya terjadi menjelang momen PEMILU, tapi juga dipertontonkan di ruang-ruang sidang, serta banyaknya politisi yang terjerat kasus korupsi. Contoh saja kasus yang baru-baru ini terjadi, Ketua DPRD mencabut keris karena berseteru dengan peserta rapat lainnya. Lagi, kita harus terus ingat sejarah yang mencatat korupsi jama’ah yang dilakukan oleh anggota DPRD Malang, yang menjadi cermin betapa busuknya perilaku-perilaku elite politik kita. Belum lagi serangkaian manipulasi yang membawa-serta nama agama untuk kepentingan politik.

Serangkaian kasus-kasus di atas yang kemudian membuat masyarakat pesimis terhadap masa depan politik di Indonesia. Namun menariknya politik adalah bahwa ia dibenci sedemikian rupa, namun tak satu pun lepas membicarakannya. Hal ini yang menjadikan DiLdo dapat diterima baik oleh masyarakat. Kita tetap bisa membicarakan politik sekaligus tidak berkaitan dengannya.

Sejauh ini, masyarakat kita hidup di bawah tekanan, mulai dari tekanan ekonomi hingga tekanan batin, urusan yang paling personal. Daripada janji-janji surga, masyarakat lebih butuh banyak tertawa. Bersama-sama menerima segala kepahitan yang ditawarkan hidup. Itu mengapa tayangan-tayangan yang mengandung humor (yang bahkan recehan) terus laku.

DiLdo mengusung perihal seksual di dalam kampanyenya. Suatu yang sebelumnya kita anggap terlalu tabu untuk dibicarakan di depan publik, tapi juga sekaligus kebutuhan setiap makhluk hidup. Tim kampanye membungkusnya dengan humor, supaya dengan mudah diterima, karena hakikatnya manusia selalu mencari kebahagian, dan kelucuan adalah salah satu jalan.

Ketiga calon sama-sama memunculkan ketidakpantasan, ketidaklayakan. Jadi, apa yang menjadikan DiLdo lebih mampu diterima masyarakat? Perpaduan humor dan isu seksual. Humor, umor, cairan. Humor sejatinya hadir untuk mencairkan ketegangan, kekakuan, kebekuan, dan tidak dapat dipungkiri, selain tertawa, manusia butuh bersenggama. DiLdo menyentuh titik paling penting itu.

Apa yang kedua? Penulis lupa memisahkan mereka. Pertama dan kedua. Wkwkwk

Komentar

About Chusnul Chotimmah

Check Also

nurhadi-aldo

Nurhadi-Aldo: Oase di Kala Pilpres 2019

TAK ada menyangka sebuah foto-foto meme iseng Nurhadi-Aldo yang dibuat oleh seseorang asal Yogyakarta bernama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *