Home / Romansa / Menikah? Cantik dan Ganteng Aja Enggak Cukup

Menikah? Cantik dan Ganteng Aja Enggak Cukup

Cantik dan ganteng
Source: Google Images

EKSPEKTASI kerap tak berbanding lurus dengan kenyataan, seperti halnya urusan cantik dan ganteng. Ketika hendak melintasi masa puber, muda-mudi pasti sibuk menentukan standar pasangannya. Seolah-olah semua harus ada standar. Padahal menentukan pasangan tidak seperti ketika hendak membeli barang. Pasangan itu kompleksitasnya sangat tinggi. Tak hanya sekadar urusan paras saja, tapi juga banyak faktor X lainnya.

Lebih baik kita bedah saja urusan ihwal menentukan pasangan hidup. Pertama-tama tentu akan melihat wujud fisiologis atau tampak luarnya. Banyak orang selalu bilang kalau cantik dan ganteng itu relatif. Tiap orang punya seleranya masing-masing. Tapi bagi saya pernyataan tersebut terlalu klise. Padahal hemat saya, cara menilai kecantikan dan kegantengan seseorang itu cukup mengandalkan panca indra. Apabila enak dipandang, harum bau badannya, merdu suaranya, santun tutur katanya, dan peka hatinya tentu bisa disebut cantik dan ganteng.

Adapun faktor X lainnya seperti kesehatan jasmani dan rohani. Lalu, urusan komitmen, tanggung jawab, atau kedewasaan masih perlu diuji. Karena hidup berpasang-pasangan itu pasti ada suka dan dukanya. Adapun faktor X yang kerap jadi bahan keributan yakni kemapanan. Biasanya sih yang terbebani golongan pria. Jamak pria menunda pernikahannya karena dirinya merasa belum mapan. Tapi tak sedikit juga pria yang nekat meminang pujaan hatinya meski belum mapan.

Idealnya urusan kemapanan itu dikomunikasikan sejak awal agar tidak miskomunikasi. Karena kesuksesan yang ditandai dengan kemapanan secara finansial juga sering dijadikan standar oleh perempuan. Kenapa hanya perempuan? Karena budaya patriarki memang masih subur di negara ini. Tak heran si pria yang sudah mapan juga memandang urusan cari pasangan seperti mencari trofi. Jadi beberapa pria yang sudah mapan harus mencari pasangan yang cantik. Tapi apakah cara mencari pasangan dengan cara seperti itu salah? Tentu tidak. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing.

Tapi bagi saya cara itu kurang pas. Karena memang tidak bisa disimplifikasi semudah itu. Apabila cara di atas digunakan, tidak menutup kemungkinan sosok suami atau istri hanya sebagai trofi bergilir. Semisal si suami jatuh miskin, istri akan meninggalkan untuk cari suami yang lebih kaya lagi. Bahkan meski tidak jatuh miskin, istri kalau ketemu yang jauh lebih kaya juga bisa berpaling. Begitupun suami, ketika kekayaan makin melejit, suami cari istri yang lebih cantik lagi atau bisa jadi tambah istri.

Berbeda ketika rumah tangga itu terbentuk kokoh karena keduanya sama-sama berjuang. Pasangan suami istri merasakan jatuh bangun bersama. Tentu rasanya lebih nikmat, karena ada pencapaian yang bisa dijadikan kepuasan tersendiri. Tapi ada juga yang lalai ketika sudah mencapai titik kemapanan finansial tersebut. Kalau hal itu terjadi, hidup sepertinya tidak bisa damai. Serba dihantui rasa kekurangan.

Cerita yang jabarkan bisa saja dianggap klise atau terkesan seperti sinetron. Namun realita memang terkadang tak sesuai dengan harapan. Bagi mereka yang masih muda, sebaiknya tidak gegabah mengambil keputusan. Di depan mata itu selalu ada banyak kemungkinan. Salah satu hal terpenting ketika hendak memutuskan menikah ialah jangan karena ingin mengubah pasanganmu. Jangan juga beralasan menikah karena ingin bahagia. Justru sebaiknya karena kalian bahagia, sehingga kalian menikah. Urusan menikah itu bagaimana bisa saling memberi. Bukan urusan saling menuntut.

Pikirkan baik-baik setiap ambil keputusan. Biar tidak tersesat di tengah jalan. Karena perkara mengambil keputusan juga butuh akal sehat. Renungkan secara seksama juga dampak positif dan negatifnya.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

Menikah Butuh Kematangan, Bukan Kemapanan

Kalimat menohok sekali? Ya, saya putuskan menikah butuh kematangan bukan kemapanan. Dikarenakan dewasa ini, seringkali …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *