Home / Artikel / Deretan Tren Memuakkan Para Generasi Milenial

Deretan Tren Memuakkan Para Generasi Milenial

tren memuakkan
Source: Google Images

TREN demi tren memuakkan telah dilewati para generasi milenial. Mengapa memuakkan? Karena overrated. Saya tak ingin membahas tren fashion, karena sudah pasti akan terus berubah. Lebih baik membahas tren-tren yang lahir dari sekumpulan orang yang bisa memengaruhi banyak orang. Bahkan hal yang paling mengagetkan ketika sebuah agama menjadi komoditas. Mengklaim diri paling suci dibanding orang lain.

Saya akan mengurutkan sesuai dengan masanya. Saya pun termasuk orang melewati deretan tren memuakkan tersebut. Ada rasa menyesal ketika mengikuti tren itu menjadi sosok yang hobi menghina orang lain yang tak sependapat.

Poser Skena Musik Cadas

Musik cadas menggebrak tahun 90-an. Berbagai aliran musik cadas seperti punk, metal, hardcore, dan sebagainya sangat dielu-elukan. Ada masanya ketika mendengarkan musik menye-menye itu malu. Musik bertema cinta-cintaan dianggap lemah. Sebut saja Kangen Band yang dipersekusi oleh para pecinta musik cadas. Rasanya musik tanpa distorsi itu hampa.

Hampir tiap kota kecil maupun besar melahirkan skena musik cadas. Mereka saling berjejaring lewat media sosial seperti Friendster atau MySpace. Banyak band-band musik cadas lahir. Jumlah penggemarnya pun semakin masif. Namun ternyata di ujung jalan terasa sangat antiklimaks. Karena band-band musik cadas itu justru beralih ke major label. Sehingga tak lagi istimewa di mata mereka yang merasa paling cutting edge.

Perlu diketahui, cutting edge ialah antitesis dari mainstream. Apabila cutting edge adalah sikap memotong tepian sebagai arus yang dipakai untuk melawan arus utama (mainstream).

Mendaku Diri Sebagai Straight Edge atau Vegan

Seiring dengan meningkatnya musik cadas. Beberapa influencer dari musik cadas itu beberapa membuat tepian baru. Karena musik cadas kerap dengan hal-hal negatif. Tepian baru itu menciptakan tren straight edge atau vegan. Tren itu hadir juga sebagai antitesis bahwa tak selamanya musik cadas itu dekat dengan alkhohol dan kekerasan. Tapi bisa hidup lebih sehat dengan tidak konsumsi rokok, meminum alkhohol, anti kekerasan, dan anti seks bebas. Biasanya mereka yang sudah straight edge juga mendadak menjadi vegan karena terpengaruh sang influencer. Vegan lebih jauh lagi penerapannya dibanding vegetarian. Vegan sudah pasti tidak memakan hewan atau menggunakan barang berbahan hewan.

Ketika tren itu mulai menggema, banyak dari mereka sangat berlebihan menghakimi mereka yang masih dianggap negatif. Padahal ada hal yang lebih esensial dari straight edge atau vegan itu. Ian Mackaye dari band hardcore Minor Threat yang mempopulerkannya hendak melawan kapitalisme. Bukan hanya sekadar untuk hidup sehat saja. Jadi perlawanan itu bukan hanya tidak mengkonsumsi, tapi juga menolak keberadaan perusahaan rokok atau alkhohol di banyak tempat. Percuma kalian mengaku straight edge tapi suka datang di acara yang disponsori oleh rokok atau alkhohol. Konyol.

Bersepeda Fixie Merasa Paling Go Green

Sepeda fixed gear atau biasa disingkat fixie sempat ngetren di tahun 2009-an. Bermunculan komunitas-komunitas fixie di banyak kota. Kemudian juga menjalar jargon bike to work. Uniknya kemunculan hobi bersepeda ini disangkutpautkan dengan kampanye go green. Padahal hanya sekadar tren yang akhirnya ditelan oleh zaman. Tapi tidak menutup kemungkin tren sepeda fixie akan lahir kembali di kemudian hari. Tren sepeda fixie juga diikuti dengan isu global warming, hingga akhirnya lahir komunitas earth hour yang dirayakan tiap tahun.

Menjamurnya Tren Colour Run

Olahraga lari pun jadi komoditas. Banyak event organizer yang mengadakannya di berbagai kota. Hal terpenting dalam event lomba lari itu ialah pamer sepatu running kepada khalayak. Biar bagaimanapun tidak bisa disalahkan. Tren berolahraga tentu baik kalau konsisten. Beda ceritanya kalau hanya untuk ajang pamer saja.

Sibuk Mendewakan Musik Folks atau Post-Rock

Masih di 2009-an, musik cadas mulai tenggelam. Musik mainstream di televisi juga berangsur turun penggemarnya. Tiba-tiba aliran musik folks atau post-rock merajai di berbagai lini. Penggemarnya juga tak kalah militan seperti ketika musik cadas menggema. Lirik-lirik bersajak dengan format akustik makin digandrungi. Ada kemungkinan para pelaku sejarah yang dulunya suka musik cadas, ketika sudah beranjak dewasa memilih musik yang cukup kalem. Ada kebosanan yang hinggap sepertinya.

Menyalahkan Rokok, Tapi Beralih ke Vape

Sekitar tahun 2011-an rokok elektrik atau biasa dikenal vape mulai banyak peminatnya. Teknologi vape pun semakin canggih. Liquid yang ditawarkan juga semakin beragam. Beberapa pengguna vape yang latah biasanya secara berlebihan menyalahkan rokok. Menganggap vape lebih sehat dibanding rokok. Kekonyolan tak berhenti di situ. Pengguna vape juga terkadang kurang beretika saat berada di tempat. Dalih mereka seragam, vape tidak mengeluarkan asap melainkan uap.

Obsesi Jadi Vlogger Sampai Blingsatan

Platform YouTube yang akhirnya bisa dipakai untuk mengais rezeki mengakibatkan para generasi milenial secara blingsatan terobsesi jadi youtuber. Tren memuakkan ini pun menjamur di berbagai lapisan masyarakat. Cara apapun mereka lancarkan agar bisa mendapat dolar dari internet. Alih-alih berikan konten yang bagus, justru hanya sibuk cari sensasi. Banyak dari mereka mengelukan YouTube lebih dari televisi. Tapi kenyataannya banyak drama dan settingan juga di YouTube. Jadi tak ada bedanya. Hanya berpindah platform saja.

Latah Hijrah, Merasa Paling Suci

Mental holier-than-thou bertebaran di berbagai linimasa media sosial. Menaknai kata hijrah secara dangkal. Hijrah pun menjadi komoditas yang menggiurkan. Banyak ustaz baru yang tidak tahu asal muasalnya. Tiba-tiba ceramah, lalu banyak orang mengagumi para ustaz dadakan itu. Padahal hijrah kan ingin berubah jadi orang yang lebih baik. Tapi kenyataannya menghakimi orang lain kotor, bukan malah memberikan contoh yang baik agar bisa ditiru. Tak heran banyak orang juga yang jengah dengan tren memuakkan itu. Hijrah hanya sebagai tameng untuk menghujat orang berseberangan. Sungguh tren memuakkan.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

profesi keren di era digital

7 Profesi Keren di Era Digital

GENERASI milenial punya preferensi masing-masing ketika ditanya kelak ingin berprofesi apa. Ada banyak profesi keren …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *