Home / Artikel / Kampanye Murahan Hanya Demi Justifikasi

Kampanye Murahan Hanya Demi Justifikasi

Kampanye murahan
Source: Google Images

ADA banyak kampanye murahan di sekeliling kita. Banyak orang selalu butuh justifikasi atas semua tindakannya. Setidaknya pembenaran dari kampanye murahan itu tentu untuk memberi makan ego mereka. Eneg rasanya ketika sebuah perbuatan yang sebenarnya banal, tapi tiba-tiba digadang-gadang sehingga diberi ruang untuk diglorifikasi berlebihan.

Banyak hal-hal risih yang saya rasakan ketika ada kampanye yang kesannya terlalu memaksakan. Justru jatuhnya kegiatan itu seperti tak ada esensinya sama sekali. Salah satu kampanye yang saya dukung ialah kampanye legalisasi ganja. Karena ganja untuk kehidupan. Toh yang diperjuangkan ganja sebagai obat, bukan berarti ganja bisa didapatkan seenak udel kita.

Kampanye Rokok

Beberapa umat muslim mengharamkan rokok karena terlalu banyak mudharat dibanding manfaatnya. Lalu, tiba-tiba ada gitu segelintir perokok yang mengkampanyekan rokok secara masif. Kampanye juga sangat biasa. Saya sih curiga komunitas yang berkampanye juga dapat sokongan dana dari korporasi rokok. Karena rokok juga dari dulu duelnya dengan industri farmasi. Bukan hal baru yang mengagetkan jagat raya.

Ngerokok ya ngerokok saja, tak butuh justifikasi hingga perlu dikampanyekan. Risiko ditanggung masing-masing. Jadi enggak perlu berlebihan. Saya pun muak dengan mereka yang antirokok. Bisanya bikin rincian uang yang bisa disisihkan apabila tidak merokok. Padahal ujung-ujungnya sama-sama tidak memiliki tabungan yang mumpuni. Hanya sebatas teori yang jauh dari implementasi.

Kampanye Poligami

Enggak habis pikir dengan orang-orang yang menyisihkan waktunya untuk jadi juru kampanye poligami. Sungguh ambisius sekali agenda kalian itu. Tanpa dikampanyekan pun sudah banyak pria yang terobsesi untuk poligami. Hal yang paling memuakkan ketika narasi yang digunakan sangat dangkal. Menangkal perzinahan dan memperbanyak keturunan muslim. Dasar pemikirannya sangat tidak esensial. Bicaranya masih sebatas kuantitas, bukan kualitas. Percuma banyak muslim tapi enggak pintar.

Kampanye Pemilu

Tak perlu ditanyakan lagi kalau urusan pemilu. Rata-rata orang muak mendengar janji-janji busuk para calon. Ujung-ujungnya pas hari pemungutan suara, mereka yang merasa muak itu pun tetap menggunakan hak pilihnya secara sah. Sungguh paradoks isi pemikiran masyarakat ketika dihadapkan oleh hajat pemilu. Mereka tahu kalau para calon itu hanya omong kosong, tapi mereka juga tetap mencoblos secara sah.

Kalian pun pasti tahu kalau kampanye pemilu itu pasti ada sponsornya. Ketika berhasil terpilih, si presiden, anggota DPR, bupati, walikota, maupun gubernur tentu ada politik balas budi. Lantas siapa yang sengsara? Tentunya lagi-lagi rakyat yang menimpa kesusahan itu.

Kampanye Go Green

Isu global warming sempat diglorifikasi habis-habisan beberapa tahun lalu. Sehingga kampanye go green menjadi sangat seksi untuk diperbincangkan. Go green seakan solusi dari semuanya. Padahal di dalamnya juga bermunculan kapital-kapital baru. Enggak jauh beda sebelum ada kampanye go green. Sebut saja kampanye diet plastik, akhirnya lahir komoditas-komoditas baru berupa tas jinjing untuk berbelanja. Lalu, gerakan earth hour yang diadakan foya-foya tiap tahunnya juga didanai oleh korporasi-korporasi yang jelas-jelas merusak lingkungan. Jadi, sebenarnya tidak ada yang bisa diharapkan dari itu semua.

Kampanye Hijrah

Wah kalau ini memang gila sih. Hijrah sudah seperti komoditas yang laris manis di Indonesia. Kondisi masyarakat yang mayoritas memeluk agama islam membuat kampanye hijrah begitu cepat bergulir. Bahkan tahun 2018 lalu diadakan Hijrah Fest. Banyak anak muda yang butuh justifikasi bahwa dirinya telah menjadi pribadi yang lebih baik. Ya memang sedangkal itu mereka memaknai hijrah. Paling mudah mengetahui hijrah yang dilakukan oleh para pemuda itu dengan mengecek akun media sosialnya. Coba deh cek akun Instagram-nya, pasti isinya ceramah-ceramah dan dalil-dalil. Tiba-tiba semua foto lama sudah lenyap ditelan bumi.

 

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *