Home / Tips / Ragam Tips Menjawab Pertanyaan Kapan Nikah ala Kutu Buku

Ragam Tips Menjawab Pertanyaan Kapan Nikah ala Kutu Buku

kapan nikah
Source: Google Images

Ada banyak tips untuk menjawab pertanyaan kapan nikah ala kutu buku. Iya, kutu buku itu pasti lebih seru dibanding kalian yang sibuk pacaran tapi enggak pernah baca buku. Dangkal.

Kenapa setiap orang dewasa harus menikah?

Tidak, tulisan ini tidak bertujuan untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan di atas. Saya memang benar-benar sedang bertanya. Bahwa apa yang melandasi setiap pertanyaan basa-basi, “kapan nikah?” Atau sindiran semacam, “ditunggu undangannya ya.” Padahal tidak semua orang merencanakan pernikahan dalam hidupnya. Tapi bagaimana pun, pertanyaan memang layaknya dijawab.

Sebagai perempuan di usia 20-sekian (lebihnya banyak), saya sudah tentu mendapatkan berondongan pertanyaan kapan menikah, mana gandengannya, kapan nyebar undangan dan tetek-bengek lainnya. Risih? Sempat, tapi karena sudah terbiasa, pertanyaan itu tidak lagi berarti apa-apa. Tapi, bagaimana sih menjawab serangkaian pertanyaan-pertanyaan itu?. Saya kasih tips menghadapi pertanyaan semacam itu.

Pertama yang harus diperhatikan adalah siapa yang bertanya. Jika itu adalah teman lama yang hanya bertujuan basa-basi semata, maka hanya tertawa adalah jawaban yang tepat. Mereka tidak butuh jawaban, mereka hanya butuh sekadar berbincang salam haha-hihi dan pulang.

Maka sedekahi mereka dengan senyum. Cukup, tapi kalau mereka menimpali dengan perkataan, “lho ditanya malah senyam-senyum.” Maka, tertawalah, kemudian jawab, “seperti mati, perkara jodoh dan pernikahan juga masih jadi rahasia Tuhan.” Sepertinya akan selesai. Jika tidak, tinggal tanya kembali, “lha kamu matinya kapan?”

Kedua, jika yang bertanya adalah teman dekatmu dan pertanyaan tersebut diulang-ulang. Layaknya tayangan upin dan ipin yang terus diulang-ulang dan selamanya upin dan ipin adalah murid TK yang tak kunjung naik level ke SD. Kemungkinan besar teman dekatmu ini kekurangan hal untuk dibahas. Pinjami dia buku, ajak dia nonton, atau jalan-jalan ke tempat baru.

Tapi kalau kamu ingin menanggapinya dengan serius, maka jawaban yang tepat adalah dengan bertanya kembali. Sesuatu yang tidak kamu ketahui memang tidak bisa kamu jawab, untuk itu tanyakan. “Dahulukan apa sebelum kapan. Coba, menurutmu apa sih pernikahan itu?”.

Ajak mereka berdiskusi perihal pernikahan dan pentingnya melangsungkan pernikahan. “Kenapa menurutmu orang mau atau harus menikah?” jawaban menyempurnakan ibadah atau melanjutkan keturunan bagi saya adalah jawaban yang sangat basi karena terlalu mudah dipatahkan. Masih mau nanya gimana matahin jawaban di atas? KEBACUT! Kalau sudah mengerucut, tanyakan kembali, “jadi, kamu masih mau nanya kapan saya nikah?”.

Nah, yang ketiga ini agak rese. Jika pertanyaan kapan nikah datangnya dari tetangga kepo yang gemar nyinyir ketika sedang belanja di warung depan atau sedang tahlil bersama. Memang tidak ada jawaban yang tepat, tapi bisa dihadapi dengan gurauan, “lakon menang mburi, Mbak/Mas. Ojo kuatir.” Atau jika kamu mau guyonan yang sedikit lebih satir, “aku mau jadi Bisma, menyingkirkan nafsu duniawiku.”

Bisma adalah tokoh wayang yang memutuskan untuk tidak menikah agar ayahnya, Prabu Sentanu sapat mempersunting Dewi Durgandhini yang meminta takhta Raja untuk keturunannya sebagai mas kawin. Bisma merelakan tahta yang akan diwarisinya dan mengambil jalan sunyi untuk tidak menikah agar tidak mempunyai keturunan yang kelak akan memperebutkan tahta raja tersebut.

Nafsu akan kuasa seperti halnya nafsu akan kebutuhan seksual, sama-sama menguasai manusia. Menjadi Brahmacari adalah sindiran tepat bagi mereka yang memutuskan cepat-cepat menikah agar menghindari zina. Tapi, konsekuensi dari memberikan jawaban seperti itu adalah tidak juga ada dalam hubungan pacaran. Sebab, itu juga yang akan menjadi celahnya melancarkan serangan kembali.

Keempat, ini yang harus sangat berhati-hati, memberikan jawaban pada keluarga. Sebab ada harapan Ayah dan Ibumu. Mereka adalah dua orang yang bukan hanya sekadar bertanya, tapi benar-benar ingin mendengar jawaban yang kamu berikan.

Sebagai penulis artikel, saya tidak punya tips manjur menghadapi pertanyaan ini, tapi coba jelaskan dengan cara terbaikmu pada mereka. Entah perkara belum atau tidak adanya keinginan menikah, masih menikmati masa lajang, belum memiliki calon, atau belum siap secara mental dan materi. Orang tua, saya percaya, mereka akan mengerti.

Jika mereka tidak sungkan mengulang pertanyaan yang sama, jangan sungkan mengulang jawaban yang sama. Kejenuhan adalah niscaya, maka tunggu waktunya mereka jenuh dan berhenti untuk berputar-putar dengan urusan personal orang lain. Jika pertanyaan dan argumen mereka berbeda tiap waktu, maka kamu juga harus meng-upgrade diri dengan menunjukkan hal lain yang lebih menjadi prioritasmu. Karir cemerlang, misal.

Atau jika hal tersebut begitu susah, maka coba saja lebih banyak membaca buku dan membangun rumah baca, melahirkan karya daripada sekadar melahirkan cebong kampret yang kerjaannya debat di sosial media, lebih banyak membaca kitab suci (kali aja ada santriwan-santriwati yang justru kecantol), lebih banyak memberi makan kucing atau anjing liar, atau berkebun sajalah, merawat alam sebisanya, karena manusia sudah banyak merusak. Maka datangnya kamu merawat bumi adalah pertolongan.

Komentar

About Chusnul Chotimmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *