Home / Artikel / Deretan Korban UU ITE Selama Satu Dekade

Deretan Korban UU ITE Selama Satu Dekade

korban uu ite
Source: Google Images

UU ITE sangat harus direvisi, karen sudah banyak jatuh korban UU ITE. Hak kebebasan berpendapat menjadi semakin terbatas. Seharusnya UU ITE lebih mengatur bagaimana perlindungan data di jagat maya yang mudah sekali disebar. Lalu, urusan-urusan penting lainnya. Kalau negara tidak mau dikritik, lebih baik jangan jadi pejabat atau birokrat. Konsekuensi seorang pemimpin ialah dikritik, karena masyarakat selalu butuh kejelasan terhadap seluruh kebijakan yang dibuat.

Jangan sampai UU ITE dijadikan alat birokrat untuk membunuh aspirasi rakyat.

1. Prita Mulyasari (2008-2012)

Setahun setelah UU No 11 Tahun 2008 itu diberlakukan. Prita Mulyasari jadi korban UU ITE pertama. Ia dilaporkan oleh RS Omni Internasional Alam Sutera Tangerang, karena mengirim surat elektronik yang berisi keluhan atas layanan rumah sakit itu kepada beberapa rekannya. Ketika proses hukum bergulir Prita sempat ditahan di Lapas Perempuan Tangerang.

Pengadilan Negeri (PN) Tangerang mewajibkan Prita membayar denda Rp 204 juta kepada RS Omni dan putusan ini dikukuhkan oleh Pengadilan Tinggi Banten. Putusan ini memicu simpati publik yang kemudian membentuk kelompok ‘’Koin Untuk Prita’’ yang akhirnya berhasil mengumpulkan Rp 825 juta, empat kali lipat dibanding denda yag harus dibayar Prita.

Melihat dukungan yang sangat besar itu, RS Omni mencabut gugatan perdata atas Prita sehingga ia terbebas dari kewajiban membayar denda. Namun di tingkat kasasi Prita tetap dinyatakan bersalah dan dipidana enam bulan penjara. Baru pada tahun 2012 Mahkamah Agung menyatakan Prita tidak bersalah

2. Ariel Noah (2010)

Ariel dijerat pasal berlapis dalam UU ITE dan juga UU Pornografi karena merekam video porno yang dituduh diperankan oleh dirinya dan dua perempuan mirip artis Luna Maya dan Cut Tari. Kasus ini menarik perhatian luas publik karena sebagian pakar hukum menilai Ariel tidak bersalah mengingat rekaman videonya untuk konsumsi pribadi sehingga tidak dapat dikatakan sebagai tindak pidana. Tetapi UU ITE menjeratnya karena kemudian rekaman video itu tersebar luas.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Bandung tahun 2010, Ariel dinyatakan bersalah dan divonis 3,5 tahun penjara dan denda 250 juta rupiah. Ia sempat dipenjara di Lapas Kebun Waru Bandung, sebelum akhirnya dipindahkan ke Mabes Polri dan kemudian ke Lapas Sukamiskin. Setelah mendapatkan beberapa kali remisi, Ariel hanya menjalani hukuman dua tahun satu bulan penjara.

3. Muhammad Arsyad (2013-2014)

Aktivis anti-korupsi ini diperiksa selama tiga hari di Polda Sulawesi Selatan dan dipenjara selama 100 hari di rutan Makassar setelah dituduh melanggar UU ITE pada tahun 2013 lalu. Ia dilaporkan oleh seorang anggota DPRD Kota Makassar dari Partai Golkar karena menulis pernyataan di BBM yang dinilai mencemarkan nama baik pengusaha Nurdin Halid.

Belum jelas bagaimana tulisan “No fear, Nurdin Halid koruptor! Jangan pilih adik koruptor!” itu tersebar luas, tetapi sebelum dijerat UU ITE ini, Arsyad juga dituduh menghina keluarga Nurdin Halid ketika menjadi narasumber di Studio Celebes TV Makassar pada 24 Juni 2013. Setelah siaran Arsyad dikeroyok sekelompok orang. Pelaku sempat ditahan, tetapi dibebaskan tak lama berselang.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Makassar pada 28 Mei 2014 Arsyad dibebaskan dari seluruh tuntutan jaksa karena tidak ada bukti kuat tentang kebenaran status BBM tersebut.

4. Muhadkly Acho (2017)

Komika Acho menjadi bukti UU ITE tidak dipergunakan semestinya. Justru UU ITE digunakan untuk menyerang konsumen. Kasus yang dialami Acho ialah pengembang apartemen Green Pramuka City melaporkan Acho karena mengeluh melalui blog pribadi pada 2015 silam. Keluhan Acho di antaranya soal sertifikat yang tak kunjung terbit, sistem perparkiran, tingginya biaya IPL (iuran pemeliharaan lingkungan), dan tentang adanya biaya supervisi yang dibebankan ketika ingin merenovasi unit apartemen.

Acho dilaporkan pada Agustus 2017 lalu, namun akhirnya berdamai pada September 2017. Karena banyak desakan publik yang menilai pengembang Green Pramuka City telah menyalahi aturan perlindungan konsumen.

5. Baiq Nuril (2018)

Baiq Nurildihukum enam bulan penjara dan dipidana denda senilai Rp 500 juta, dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan. Mantan guru honorer di SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pun merasa diperlakukan tidak adil lantaran dirinya adalah korban kasus perbuatan pelecehan yang dilakukan Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram, M. Pelecehan itu disebutnya terjadi lebih dari sekali.

6. Anindya Joediono (2018)

Aktivis Front Mahasiswa Nasional Universitas Narotama ini dijerat UU ITE karena mengunggah ‘curhat’ lewat akun Facebook pribadi, yang mengisahkan kronologi penggerebekan di asrama mahasiswa Papua di Jl. Kalasan 10 Tambaksari, Surabaya, oleh aparat keamanan Juli 2018, dan pelecehan seksual yang dialaminya.

Anindya menilai penggerebekan itu hanya untuk menghentikan diskusi tentang pelanggaran HAM di Papua, karena aparat gabung yang terdiri dari polisi, TNI dan Satpol PP ketika itu tidak dapat menunjukkan surat perintah penggerebekan mereka. Ketika kemudian diperiksa, Anindya dilecehkan secara seksual dan diseret beramai-ramai. Anindya menuliskan kronologi yang dialaminya di Facebook.

7. Ahmad Dhani (2019)

Akibat koar-koar di akun twitter-nya dengan konten yang tidak berbau ujaran kebencian, Ahmad Dhani dilaporkan telah menghina beberapa pesohor negeri ini. Akhirnya laporan itu berlanjut hingg ke meja hijau. Dan, Ahmad Dhani pun divonis 1,5 tahun. Saat ini, ia sedang mengupayakan banding.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

uu ite

UU ITE Dijadikan Alat Penguasa dan Pengusaha

Asas ketersinggungan hidup di Indonesia makin terwadahi semenjak adanya UU ITE (Undang-Undang Nomor 19 Tahun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *