Home / Artikel / Revisi Atau Tolak RUU Permusikan?

Revisi Atau Tolak RUU Permusikan?

tolak ruu permusikan
Source: Google Images

Wajib suarakan Tolak RUU Permusikan. Jangan sekali-kali beri ruang yang berlebihan kepada negara untuk mengatur kreativitasmu. Sebab, di kemudian hari tentu akan tiba masanya negara bertindak sewenang-wenang.

KETIKA mencuat pemberitaan rancangan undang-undang (RUU) yang mengatur gerak musisi, saat itu pula dengan lantang suarakan tolak RUU Permusikan. Karena musik dilahirkan dari sebuah kreasi yang tidak bisa dibatasi. Semua orang berhak membuat musiknya masing-masing. Bait demi bait hingga menjadi suatu keutuhan lirik tidak bisa dipenjarakan oleh RUU Permusikan. Negara tak memiliki hak untuk mengatur kreativitas. Karya terbaik lebih elok apabila lahir dari ketulusan hati.

Tetapi anehnya, masih ada beberapa musisi yang memilih untuk merevisi RUU Permusikan. Apa yang mereka harapkan dengan hasil revisi RUU Permusikan?. Padahal implementasi UU Perlindungan Hak Cipta tak berfungsi secara nyata. Pembajakan masih marak. Masyarakat masih banyak yang ignoran dengan urusan hak cipta. Dianggapnya selama bisa didapatkan secara gratis, buat apa harus susah-susah untuk beli.

Kembali lagi itu hak kalian para musisi. Kalau diamati orang-orang yang berkeinginan untuk merevisi juga datang dari musisi arus utama. Merasa RUU Permusikan itu angin segar yang layak dinikmati semua musisi Indonesia. Usulnya pun datang dari Anang Hermansyah yang kebetulan menduduki kursi anggota Komisi X DPR RI. Sulit untuk tidak meragukannya. Selalu berlindung di balik kalimat, niatnya baik agar pelaku-pelaku di dalam industri musik itu sejahtera. Sudahlah tak perlu klise, UU Perlindungan Hak Cipta itu sudah pas, tinggal diimplementasikan agar bisa sejahtera.

Tidak menutup kemungkinan ke depannya apabila ada sosok dari pelaku seni lain yang kebetulan jadi anggota DPR lalu mengusulkan RUU lain. Semisal RUU Perfilman, RUU Persastraan, RUU Perlukisan, RUU Perpatungan, atau RUU sampah lainnya. Karena itu, jangan sekali-kali beri ruang yang berlebihan kepada negara untuk mengatur kreativitasmu. Sebab, di kemudian hari tentu akan tiba masanya negara bertindak sewenang-wenang. Sehingga suarakan dengan lantang tolak RUU Permusikan.

Tolak RUU Permusikan disuarakan karena urgensi hanya masalah perut. Padahal di luar sana masih banyak jiwa-jiwa yang terancam karena belum ada UU yang mengaturnya. Tak perlu jadi manusia manja apabila gagal sejahtera dari industri musik. Dan tak perlu juga sok perhatian dengan nasib musisi, hei para wakil rakyat. Urus masalah yang lebih urgen, jangan buang-buang uang rakyat hanya untuk RUU Permusikan. Kalian seperti menganggap permusikan di Indonesia di ambang kehancuran.

Lebih baik revisi UU ITE agar tidak ada lagi orang yang dikriminalisasi. Kubur baik-baik niat kalian untuk membatasi para musisi. Kekonyolan yang juga dilahirkan dari RUU Permusikan ialah uji kompetensi. Katanya biar mudah cari job di luar negeri. Omong kosong. Musik itu masalah selera. Kalau memang musiknya enak didengar, siapapun bisa manggung di luar negeri. Bermusik juga mengandalkan koneksi, sehingga membuka jalan musisi Indonesia berkarya di kancah internasional.

Semoga saja suara tolak RUU Permusikan tetap lantang didengungkan. Agar RUU tersebut dihapuskan saja dari program legislasi nasional (prolegnas). Sebab, berkarya adalah salah satu cara menjadi individu merdeka. Jangan lembek dengan negara. Suara rakyat, suara tuhan. Jangan sekali-kali mundur ke belakang. Teruslah berkarya musisi Indonesia, tolak RUU Permusikan.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

RUU Permusikan

RUU Permusikan Lahir Dari Naskah Akademik yang Buruk

RASANYA ingin marah-marah ketika melihat naskah akademik RUU Permusikan yang mengambil sumbernya dari blog siswa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *