Home / Artikel / Nasib Perokok dan Merokok Selalu Disisihkan

Nasib Perokok dan Merokok Selalu Disisihkan

merokok dan perokok
Source: Google Images

Entah sampai kapan nasib perokok dan merokok selalu disisihkan?. Apa bedanya dengan jenis makanan atau minuman lainnya yang apabila dikonsumsi berlebihan juga bisa menyebabkan kematian.

Merokok adalah kegiatan menghisap lintingan tembakau yang sudah dibakar. Dibakar dengan rindu, kadang api cemburu. Merokok adalah kegiatan yang sudah menjadi tradisi dan kebiasaan umum bagi masyarakat dunia. Sedangkan perokok merupakan orang yang merokok, hidup hanya sekali tapi selalu dapat stigma seumur hidup.

Padahal dari dulu rokok selalu ada di setiap kisah sejarah, dari zaman edo di Jepang, yang mengidentikkan rokok adalah kejantanan. Sedangkan, wanita dilarang merokok karena melambangkan ketidaksucian. Sampai kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno. Ia merupakan panglima perang kepercayaan Sultan Agung yang menjual rokok “klobot” (rokok kretek dengan bungkus daun jangung kering). Pun disukai pembeli terutama kaum laki-laki, karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.

Rokok juga tidak bisa luput dari sejarah panjang berdirinya Negara kita.

Dalam buku-buku sejarah yang kita baca, biasanya runtutan peristiwanya selalu ditulis secara formal, seperti peristiwa penyandraan Ir soekarno dan Bung Hatta di Rengasdengklok. Di buku sejarah, dalam peristiwa rengasdengklok, yang kita tahu Bung Karno dan Bung Hatta diculik dan dibawa ke rengasdengklok oleh pemuda yang di antaranya adalah Sukarni, Aidit, Mochamad Saleh, dan lain-lain untuk didesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan.

Padahal selalu ada rentetan suasana peristiwa di setiap kejadian, enggak mungkin mereka cuman dibawa terus Aidit hanya ngomong:

Pak Karno, Bung Hatta njuk ndang di Proklamirke kemerdekaane…. Mumpung jepang lagek bar dibom.”

Lalu dijawab :

Oke, besok kita rapatkan .”

Kan enggak mungkin. Apalagi rata-rata mereka merokok. Meskipun sempat ada perdebatan terkait DN Aidit itu perokok atau bukan. Tetapi, kemungkinan besar mereka ngobrol di teras, ngopi santai, sambil udud. Sembari mereka udud mereka juga bisa sambil nyemil pisang goreng, itu kan romantis banget. Aku yakin mereka juga suka hal-hal romantis.

Lalu di masa kini, rokok masih identik dengan kejantanan dan istilah-istilah romantis lain untuk menggambarkan kelelakian. Karena memang kebanyakan perokok adalah lelaki. Kalau ada cewek yang ngerokok, pasti opini umum pertama yang tertanam di masyarakat kita adalah nakal, binal, dan bispak.

Kenapa tercipta opini ini? Padahal kalau kita kaji ulang hubungan kegiatan merokok dan identitas nakal itu berbeda. Merokok adalah kegiatan menghisap, lalu menyebul asap tembakau yang terbakar. Bagi sebagian orang efeknya adalah pikiran jadi lega, enak dibuat mikir. Sedangkan definisi kata nakal menurutku adalah bertindak di luar batas dan merugikan orang lain. Contoh: kalau ada iring-iringan mantanmu menikah trus kamu lari sambil teriak:

Sayanggg jangan tinggalkan aku..”. Itu baru nakal.

Merokok juga diidentikkan dengan turunnya kesadaran masyarakat akan kesehatan. Merokok dianggap sebagai kegiatan yang tidak sehat,karena katanya rokok terdiri dari racun-racun yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Alasan ini juga yang kadang dipakai wanita untuk menolak cinta lelaki perokok. Merokok seperti momok menakutkan, penyakit yang menggerogoti kejiwaan.

Padahal penjual rokok kretek pertama yang diciptakan oleh Pak Djamari, Dia itu orang Kudus pertama yang menjual rokok kretek adalah untuk alasan kesehatan. Waktu itu orang Kudus ketika dadanya sakit menggunakan minyak cengkeh yang cara kerjanya dioles.  Lalu Pak Djamari berinisiatif untuk mencampur tembakau dan cengkeh yang kemudian dikenal dengan sebutan “Rokok Obat” waktu itu.

Berarti mana yang benar? Rokok adalah obat? Atau rokok adalah racun?. Kalau menurut saya, antara obat dan racun adalah satu hal yang hampir sama, Karena hanya dibedakan oleh kabut pemahaman yang tipis. Mungkin lebih ke dosis atau pengolahanlah yang menyebabkannya berbeda. Air putih yang kita tahu sangat menyehatkan juga bisa menimbulkan masalah pada aliran darah, sebaliknya racun dari ular dapat dijadikan obat penawar jika diolah dengan benar. Karena itu, logo apotek itu ular berbisa, sebab apabila obat dikonsumsi secara serampangan tentu akan jadi racun.

Dari sudut pandang perokok sendiri, kegiatan merokok adalah kegiatan untuk menghilangkan jenuh, menenangkan pikiran, meningkatkan percaya diri, dan lain-lain. Mereka cenderung percaya bahwa merokok adalah obat paling ampuh untuk mengatasi segala permasalahan di muka bumi ini.

Walaupun kebanyakan perokok di Indonesia adalah warga dengan taraf ekonomi rendah, ketika mereka ngudud dan minum kopi. Mereka terlihat bahagia, keadaan ini sangat berbeda dari pendapat bahwa kemiskinan menimbulkan kesengsaraan. Jika, walaupun mereka miskin tapi tetap ada kebahagiaan di hidup mereka karena mereka masih bisa rokokan, maka rokok adalah sebenar-benarnya penawar kemiskinan.

Dan warga yang digolongkan miskin pun tidak pernah memaksakan untuk membeli rokok yang mahal. Mereka cenderung membeli rokok yang sesuai budget mereka. Saya juga sangat tidak setuju dengan keputusan pemerintah tentang meningkatkan tarif cukai rokok yang dibarengi dengan meningkatnya harga rokok, karena sama saja dengan merampas kebahagiaan rakyat. Wong kebahagiaan kita ini cuma udud sambil rokokan,masa ya mau diambil.

Terlepas dari benar atau tidak benarnya rokok adalah tergantung individu itu sendiri. Karena memang kebenaran adalah milik Gusti ALLAH. Kalau mau merokok, merokoklah secara bertanggung jawab. Kalau tidak suka merokok, jangan menaikkan harga rokok. Karena Hak Asasi Manusia sangat dijunjung tinggi di negeri ini, marilah kita saling menghargai dan bertoleransi. Dan kalau bisa, kalau temanmu kehabisan udud, bagilah ududmu walau satu batang, karena berbagi itu indah.

Komentar

About Billy Herba

Check Also

adnan buyung nasution

Adnan Buyung Nasution, Pejuang HAM dari Berbagai Era

Sosok almarhum Adnan Buyung Nasution tak bisa dilepaskan dari sejarah hak asasi manusia di Indonesia. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *