Home / Artikel / Kalau Enggak Suka Baca Buku, Jangan Sita Buku

Kalau Enggak Suka Baca Buku, Jangan Sita Buku

jangan sita buku
Source: Google Images

Lebih baik jangan sita buku, kalau tidak ingin dicap sebagai aparat yang minim prestasi.

ENGGAK pernah tahu isi bukunya, tapi secara serampangan menyita buku sesuka hati. Tapi wajar juga sih mereka yang hobi sita buku itu memang jarang membaca buku. Bahkan malas untuk mencari tahu landasan hukumnya ketika melakukan aksi penyitaan buku. Akhirnya blunder dan dipermalukan banyak orang. Sebegitu alerginya dengan wawasan dan ilmu pengetahuan.

Padahal sejak zaman baheula sudah diingatkan bahwa buku itu jendela dunia. Bagaimana mungkin bisa tahu kalau buku sitaan belum dibaca, lalu secara sepihak menuduh isi bukunya bernafaskan paham yang bertentangan dengan pancasila. Ayolah jangan membodohi diri sendiri, jangan suka menyimpulkan suatu isu hanya judulnya, konten itu perlu dikaji lebih dalam.

Adapun pada 2010 silam, Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutus bahwa pengamanan barang-barang cetakan secara sepihak sebagaimana tercantum dalam UU no. 4/PNPS/1963 bertentangan dengan UUD 1945. Menurut MK pelarangan atau penyitaan buku semestinya dilakukan setelah melalui proses peradilan. Jadi, kalian para penjual buku kiri, jangan pernah takut. Kita bersama-sama.

Sungguh memalukan bukan ketika gerombolan TNI dan kejari menyita buku di Kediri dan Padang awal tahun akhir-akhir 2018 lalu. Jadi, sudah jelas tindakan penyitaan buku itu merupakan inkonstitusional. Apa tidak malu dengan tindakan itu?. Kalau tidak malu ya enggak apa-apa. Toh, pada dasarnya bagi bapak-bapak itu sudah dipastikan malas membaca. Hobinya hanya mengeluh.

Beberapa buku yang disita memang secara eksplisit membeberkan perihal komunisme. Salah satu buku itu adalah terjemahan Manifesto Partai Komunis karya Karl Marx dan Frederich Engels. Juga satu buku akademis berjudul Komunisme Ala Aidit karya Peter Edman. Namun, menuduh penjualan buku-buku itu sebagai bentuk propaganda komunisme tentu saja terlalu subjektif.

Ironisnya, aparat justru salah sasaran. Beberapa buku sebenarnya tak ada hubungannya dengan propaganda PKI. Bahkan, ada buku yang justru menyudutkan PKI tetapi malah kena sikat. Tanda bahwa TNI dan aparat lainnya tak mengerti sepenuhnya atas apa yang mereka tuduhkan.

Namun, sayangnya kekonyolan itu terus ber;anjut. Karena kebanyakan para aparat di lapangan paling suka menggunakan dasar Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1996 soal pembubaran PKI dan melarang komunisme, larangan terhadap penyebaran ajaran-ajaran komunisme, Leninisme, dan Marxisme. Untungnya, ada banyak buku kiri yangg banyak menyebarkan tentang paham-paham tersebut tanpa harus pakai cover buku dengan logo palu arit.

Buku yang seharusnya jadi senjata malah jadi bahan buaronan. Sebegitu takutnya denagn kumpulan kata-kata. Hobi menyita buku sudah dilakukan sejak Soekarno, Soeharto, hingga sekarang, Tentu kalau yang paling terbarusangatĀ  blundeer. Jadi, sebaiknya ditertawakan saja.

Ke depannya semua tokok buku seharusnya memasang tulisan hasil MK pada 2010 terkait dihapuskannua penyitaan buku. Kalau pun harus disita harus melalui proses peradilan. Jadi, tidak bisa semena-mena. Selama berumur panjang perlawanan!

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

Komunisme

Masih Ada yang Lebih Berbahaya dari Komunisme

Isu komunisme kembali muncul dan berhembus di berbagai media komunikasi. Sepertinya, kabar ini sudah menjadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *