Home / Artikel / Rayakan Urip Mung Mampir Bingung Bersama Maudy Ayunda

Rayakan Urip Mung Mampir Bingung Bersama Maudy Ayunda

maudy ayunda
Source: Google Images

OKE, kali ini seorang penyanyi bernama Maudy Ayunda menggegerkan jagat maya. Karena dia mengunggah dua foto berbeda yang sombong amat sangat menginspirasi banyak orang. Lantaran dia diterima dua kampus bergengsi di Amerika Serikat yakni Harvard dan Stanford untuk melanjutkan studi S-2. Karena diterima dua kampus sekaligus, Maudy Ayunda pun bingung dan dilanda dilema. Perlu diketahui, sebelumnya Maudy Ayunda sudah meraih gelar sarjana di studi Philosophy, Politics and Economics (PPE) di Universitas Oxford, Inggris.

Karena unggahannya tersebut, mendadak seluruh warganet merasa hina karena sejauh ini hanya menggalaukan hal-hal receh ketika bingung memilih makan di rumah atau di warteg. Ditambah lagi, setelah unggahan itu ramai dibahas, Maudy Ayunda pun ngetwit dengan nada yang cukup membuat saya atau mungkin juga kalian makin ingin berteriak.

Doain yaa temen2 aku harap kesempatan ini bisa aku gunakan untuk membantu banyak orang nantinya.

Rasanya setelah membaca twit di atas, saya ingin membisikkan ke telinganya, SELAMAT YAAA. Tapi apa daya, saya mampu memberikan selamat via Twitter saja. Meski begitu, perlu kita sadari bersama bahwa memang urip mung kanggo mampir bingung. Jadi enggak usah terlalu diambil pusing, lebih baik diambil hikmahnya saja.

Sejak mbrojol di dunia kita sudah dibingungkan cara untuk minta makan ketika lapar, karena belum bisa bicara, akhirnya cara yang kita ambil ialah merengek menangis sekencang-kencangnya agar segera dikasih makan berupa ASI. Agak gede sedikit, kita dibingungkan enaknya main di rumah saja atau lari-larian di luar rumah. Tetapi kebingungan itu masih atas kendali orang kita masing-masing, ada yang membebaskan, ada juga yang membatasi.

Lalu ketika sudah masuk dunia sekolah ada banyak kebingungan ketika mengerjakan tugas, enaknya dikerjakan di rumah atau nyontek saja pas di sekolah. Ketika mengerjakan ulangan pun dilema, enaknya nyontek sebelahmu yang jarang belajar atau temanmu yang sudah pasti pintar tapi jarak dengan bangkumu sangat jauh. Karena itu, biasanya sejak masuk sekolah pertama selalu ada jargon bahwa tempat duduk dan teman sebangkumu menentukan prestasimu.

Tak berhenti di situ, saat lulus dari bangku SMA, kalian mulai bingung ingin kuliah di mana dan jurusan apa atau bahkan sebaiknya langsung bekerja saja. Kita memang selalu dibenturkan dengan banyak pilihan, karena tidak ingin menyesal di kemudian hari. Ketika sudah berkuliah, banyak yang merasa salah jurusan. Itulah konsekuensi dalam hidup, penyesalan selalu datang terlambat.

Hidup pun masih terus berjalan, seusai lulus kuliah, kalian bingung cari kerja. Maksud hati ingin bekerja di perusahaan yang mapan atau jadi pegawai negeri sipil (PNS), tapi ternyata karir masih saja seret. Kebingungan berlanjut ketika menentukan pasangan hidup. Ada yang memang punya banyak pilihan karena sudah ada standard pasangan hidup yang sudah dipasang, namun ada juga yang sudah punya pasangan namun menunggu kepastian. Karena itu, biasanya karena terlalu lama tenggelam dalam standard tersebut, banyak insan yang tak kunjung naik ke pelaminan, itu hal yang lumrah bukan hal yang menghebohkan.

Kalau saya sih memutuskan menikah karena ingin mengganti rasa bingung saya menjalani hidup dan menambah tanggung jawab dalam hidup. Sebab, usia sudah pas, sudah berpenghasilan, dan sudah berpacaran cukup lama. Jadi, kalau mau ditunda lagi, saya pun bingung mau ngapain. Masak selalu dibingungkan perihal mengingatkan pacar untuk makan tiap hari atau agenda kencan tiap bulan di kota seberang, sebab LDR. Jadi, langkah simpelnya ya harus siap menikah. Biar bagaimanapun kepastian dan kemantapan hati itu sudah dibicarakan secara matang antara dua pihak.

Selama sudah menikah, juga sudah dibayang-bayangi ketika kelak diberikan tanggung jawab baru oleh sang pencipta untuk merawat seorang anak atau dua orang anak atau tiga orang anak atau seterusnya. Saya bingung tentunya akan memilih gaya mendidik anak yang seperti apa nantinya. Kelak juga ketika sudah beranjak besar, saya tentu akan dilema akan menyekolahkan anak saya kelak di mana. Ahhh, memang hidup ini hanya untuk mampir bingung.

Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin berpesan kepada Maudy Ayunda agar terus bersemangat, manfaatkan previlege kesempatan tersebut sebaik mungkin. Jangan buang waktu untuk bergalau hal-hal tidak pasti. Banggakan kedua orang tuamu dan netizen yang setia menanti karya-karya terbaikmu. Semoga pilihan yang kamu ambil bisa memberikan dampak baik bagi masyarakat sekitarmu.

Lalu, bagi kalian semua netizen se-Indonesia juga jangan patah semangat. Masih banyak asa yang bisa diraih kalau kalian mau berusaha. Hidup memang enggak seringan biji zakar, jadi maknailah hidup dengan penuh angkara murka semangat yang cetar.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *