Home / Artikel / Apa yang Membuatmu Pulang Kampung Halaman?

Apa yang Membuatmu Pulang Kampung Halaman?

pulang kampung
Source: Google Images

Apa yang membuatmu pulang kampung halaman? Karena rindu atau ingin berkontribusi di lingkup kecil yang ada di kampung halamanmu?.

Rumah adalah sebuah tempat yang terbuat dari kasih sayang. Tempat berlindung dari berbagai ancaman. Dan sebenar-benarnya tempat untuk pulang, di dunia.

Rumah adalah harta yang paling berharga, karena di sana tempat tinggal keluarga. Seperti kata Abah di sinetron Keluarga Cemara :

Harta yang paling berharga,..  adalah keluarga. Mutiara tiada tara, adalah….. Keluargaaaa”.

Banyak kenangan yang terjadi seiring berjalannya waktu. Mulai kita kecil seukuran biji salak sampai segede kingkong, semuanya terjadi di rumah. Lalu ketika kita sudah dewasa, kita mulai merantau entah untuk melanjutkan pendidikan, bekerja atau membina rumah tangga di kota yang baru. Tapi tetap saja, rumah adalah rumah, kenangan tetap abadi, yang fana itu waktu.

Bicara tentang rumah, bicara tentang kampung halaman. Kita pasti akan kangen ketika lama tidak pulang ke kampung halaman. Saking tidak kuatnya menahan kangen ini sampai aku sendiri  memutuskan untuk bekerja di kampung halaman di Kabupaten Bojonegoro dan meninggalkan pekerjaan lamaku. Kalo kata orang jawa, “mangan ora mangan seng penting kumpul”. Walaupun dari segi finansial di kota besar lebih menggiurkan, tapi membangun desa dan menjadikannya berkembang mengikuti kota besar lebih romantis kalo menurutku.

Banyak yang bisa kita kembangkan di desa. Karena rata-rata sumber daya alam di desa kurang dimaksimalkan. Tidak maksimalnya sumber daya alam bisa jadi diakibatkan karena sumber daya manusia yang kurang terampil di desa kita atau karena manusia yang terampil di desa berbondong-bondong menuju kota untuk bekerja. Atau ada tenaga terampil yang mau menetap di desa, tetapi tidak mau memaksimalkan sumber daya alam yang ada. Rumit.

Duh, kenapa aku jadi bahas hal-hal yang serius ya, padahal tadinya aku mau nulis hal-hal yang romantis dan jenaka. Karena memang rubrik serius kadang membuatku jadi kurus, karena tidak ter-urus. Seperti desaku yang jalan-nya cuma lurus, tapi tanahnya tandus.

Aku enggak nyalahin pemerintah. Aku cuma nyalahin diri sendiri, kenapa Aku enggak bisa punya otoritas kaya pemerintah biar bisa buat perda sendiri. Biar petani bisa jual berasnya sendiri tanpa takut saingan sama beras tetangga. Biar anak-anak kita minum susu sapi bukan susu kotak dan susu tabung.

Menjadi romantis di desa tak perlu mencari suasana. Karena setiap sudut desaku adalah keromantisan. Bahkan hembusan angin ketika ngopi di pos ronda ada sisi romantisnya juga, selain masuk angin dan ngantuk.

Dulu Almarhum Kakekku sangat suka duduk di depan selasar ketika sore hari. Ketika aku tanya kenapa suka duduk di depan, alasannya adalah karena di selasar kita bisa melihat orang lalu-lalang. Selain itu interaksi dengan tetangga juga sering terjadi ketika kita duduk di selasar. Berbeda dengan ketika di kota. Pagar-pagar rumah yang tinggi membuat kita sulit untuk sekadar say-hi ke tetangga. Ketika aku mencoba untuk duduk di selasar pada senja hari sambil minum kopi. Aku merasa anak indie sekali. Suasana yang sangat romantis.

Lalu aku sampai  pada sebuah konklusi bahwa tak perlu mencari cinta jauh-jauh. Cinta dan keromantisan sudah terbangun jauh sebelum kita menyadari apa itu cinta. Cinta-lah yang seharusnya membuat kita kembali ke kampung halaman. Walaupun hanya setahun sekali pulang ke rumah, minimal kita bisa nostalgia dengan cinta itu lagi.  Minimal dengan setahun sekali pulang, kita jadi tahu tanah kita masih utuh, dan kenangan masih bersemayam di atas tumpukan batu dan rumput ilalang.

Komentar

About Billy Herba

Check Also

Senja

Cara Asyik Menikmati Senja Para Kaum Urban

Sore hari sepulang kerja atau aktivitas lain paling enak ya beristirahat. Apalagi kalau sedari pagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *