Home / Artikel / Terorisme Tak Mengenal Agama

Terorisme Tak Mengenal Agama

terorisme
Source: Google Images

Saat bicara terorisme, mereka hanya seputar stigma kepada kaum muslim. Padahal idealnya mengakui bahwa teroris tak mengenal agama, bukan teroris tak beragama.

KIRA-kira akankah berakhir perang berlandaskan SARA? Saya kita perang memang tak akan pernah usai. Tapi setidaknya, setiap ada aksi terorisme jangan sebarluaskan. Namanya saja teroris, tentu niat utamanya menyebarkan teror ke semua orang. Namun entah mengapa ada saja orang yang berpesta pora menyebarluaskan aksi terorisme sebagai justifikasi agar lebih bisa empati. Inikah sifat manusia yang mirip predator? Sungguh menjijikkan.

Kasus tersebut saya amati ketika kasus terorisme di Selandia Baru baru-baru ini. Seorang teroris anti-muslim menembaki puluhan orang islam ketika menunaikan ibadah salat Jumat. Sangat kejam. Kita layak mengutuk aksi terorisme tersebut. Paham fasis menggerogoti otak teroris sehingga puluhan nyawa melayang.

Anehnya selain alasan untuk menjustifikasi aksi terorisme sebagai dasar untuk empati. Beberapa muslim di Indonesia yang tergolong konservatif juga ingin menjustifikasi bahwa teroris itu bukan muslim. Tapi seorang berkulit putih, berambut pirang, non-muslim, dan islamofobik. Bahkan, diperparah lagi ada juga yang berpendapat bahwa saat ini para muslim seharusnya dipersenjatai, karena dianggap muslim terus ditindas dan dianiaya. Rasanya pengin jungkar balik dan tepok jidat mengetahui argumen mereka.

Padahal hal terpenting yang bisa dilakukan ialah meminimalisasi potensi pertumpahan darah selanjutnya. Bukan malah mengglorifikasi aksi terorisme. Ada kemungkinan ketika ada fasis lain di seberang sana melihat video aksi terorisme bisa menjadi inspirasi. Sehingga caranya membunuh di-copycat kemudian hari. Tentu tidak menutup kemungkinan. Karena teroris sudah diselimuti kebencian yang meletup-letup.

Upaya justifikasi kepada khalayak bahwa teroris itu bukan dari muslim, alih-alih hanya bisa bertahan sesaat. Karena titik berat mereka hanya seputar stigma kepada kaum muslim. Padahal idealnya mengakui bahwa teroris tak mengenal agama, bukan teroris tak beragama. Karena semua agama atau ajaran kepercayaan lainnya punya sentimentil yang berbeda-beda. Sehingga para pemuka agama seharusnya mampu berkonsolidasi dengan baik kepada umatnya.

Apa salahnya meminimalisasi perang terjadi lagi? Apakah kalian mengharapkan lebih banyak lagi jatuh korban?. Kalau memang begitu, tentu kalian tidak ada bedanya dengan teroris-teroris tersebut. Pun kalian justru tidak mewakili islam yang rahmatan lil alamin, melainkan islam yang juga bisa menyebarkan ketakutan di setiap insan manusia. Tolonglah berpikir lebih jernih lagi ketika hendak mengambil keputusan di tengah-tengah isu SARA. Kalau hanya mengandalkan otot, jadinya peperangan yang tak bertepi. Karena aksi terorisme apapun sudah selayaknya dikecam. Tidak ada yang bisa dibenarkan

Perlu diketahui bersama, pria bersenjata yang diduga melakukan serangan itu, Brenton Tarrant warga Australia berusia 28 tahun, dalam pernyataan bertele-tele menganggap Trump “simbol baru identitas kulit putih”. Dia juga menyebut dilahirkan “dari kelas pekerja, keluarga berpenghasilan rendah yang memutuskan mengambil sikap untuk memastikan masa depan bagi rakyat saya.” Ia mengatakan melakukan serangan itu untuk “secara langsung mengurangi tingkat imigrasi ke tanah-tanah Eropa.”

Menurut informasi, sebelum melakukan aksi terornya, Tarrant menulis sebuah manifesto. Manifesto ‘The Great Replacement’ ini berisi 73 halaman dan berisi keinginannya untuk menyerang Muslim. Judul dokumen tersebut memiliki nama yang sama dengan teori konspirasi yang berasal dari Prancis.

Sementara itu, Senator Queensland Fraser Anning merilis pernyataan yang menyalahkan imigran muslim sebagai penyebab aksi penembakan di Selandia Baru. Pernyataan kontroversial Anning ini mendulang kecaman, salah satunya dari mantan Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull. Perdana Menteri Australia saat ini, Scott Morrison, juga ikut mengecam. Menurutnya, pernyataan Anning tak punya tempat di Australia, apalagi di parlemen.

 

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

legalisasi ganja

Thailand Sudah Legalisasi Ganja Medis, Indonesia Kapan?

Apa susahnya sih menaikkan status legalisasi ganja di Indonesia?. Toh, ladang ganja ada di mana-mana, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *