Home / Artikel / Bertoleransi Untuk Hidup Atau Hidup Untuk Bertoleransi?

Bertoleransi Untuk Hidup Atau Hidup Untuk Bertoleransi?

bertoleransi
Source: Google Images

Apa sih susahnya bertoleransi?. Kita tinggal diam sambil angguk-angguk kalau pendapat orang berseberangan dengan kita. Toh benar atau salah pendapat kita lah yang paling benar.

Kehidupan ini sungguh sangat berat. Bermacam masalah terus berdatangan seakan kita tak diberi kesempatan untuk beristirahat. Semakin kita “ditempa” semakin berubah pola pikir kita. Lalu terciptalah karakter-karakter baru. Ada yang jadi penyabar, pemaaf, pencaci, pembenci, dan lain-lain.

Pernahkah kamu bercita-cita untuk menjadi pembenci ?. Atau seorang pendendam yang siap mengacungkan pedang kepada semua orang yang berani menantang?. Aku rasa tidak ada seorangpun yang ingin menjadi orang jahat. Bahkan menurutku tidak ada orang jahat di muka bumi ini, yang ada adalah orang yang berbeda pola pikirnya.

Pola pikirlah yang membuat manusia mempunyai variasi. Sebagian, memandang rokok itu sah, sebagian lagi bilang haram. Ada yang menyuruhku untuk menikah jika aku sudah bisa mencinta, tapi aku memilih mencinta dalam diam, karena dalam diam tidak aku dapati penolakan. Semuanya sah, kita mempunyai penilaian terhadap benar dan salah serta punya hak dan tanggung jawab atas pilihan kita.

Tulisan ini aku tulis pada tanggal 15 Maret 2019. Tepat di hari terjadinya penembakan yang menewaskan 49 orang di Christchurch, New Zealand. Sebuah tragedi yang menjadi cambuk dan renungan untuk kita semua bahwa toleransi adalah hal yang sangat penting.

Coba kita renungkan betapa hal ini terus terjadi lagi dan lagi seakan kita tak pernah belajar pada masa lalu. Dan yang lebih membuatku kecewa, setelah kejadian ini berbagai pihak malah saling tuding. Seakan kejadian ini adalah peristiwa yang biasa terjadi setiap pagi, dan tugas kita mendebatnya sampai terjadi esok lagi.

Berapa banyak kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi dan hanya menjadi bahan penelitian tanpa ada kesimpulan. Berapa banyak jiwa yang melayang hanya menjadi objek pembicaraan dari satu rapat ke rapat yang lain.

Apa sih susahnya bertoleransi ?. Kita tinggal diam sambil angguk-angguk kalau pendapat orang berseberangan dengan kita. Toh benar atau salah pendapat kita lah yang paling benar. Enggak perlu sampai adu bacot,saling tunjuk atau jotos-jotosan. Buat apa buang-buang energi untuk sesuatu yang tidak dapat kita menangkan.

Memang susah untuk menerima pendapat orang, apalagi kalau pendapatnya berseberangan dengan kita. Tapi kalau dipikirkan lagi, sebenarnya itulah tujuan manusia bersosialisasi. Kita bersosial karena kita berbeda. Kita membutuhkan perbedaan karena kita tidak bisa mengatasi semua hal di dunia jika semuanya sama. Jika semua orang ingin jadi pelukis, siapa yang akan mengobati penyakit dan menanam padi?. Seberapa pintar dan luas wawasan kita, sampai kita mau membuat semuanya sama?. Atau pertanyaanya adalah seberapa serakah kita sampai seluruh dunia ingin kita genggam ?.

Apakah kita benar-benar tidak tahu? Atau pura –pura tidak tahu karena takut ancaman dari ras lain dan menganggap kehidupan di dunia hanya sebatas seleksi alam ? lalu berbondong bondong membangun koalisi agar terhindar dari kepunahan ?. La wong suwargo wani di kapling, kok isih wedi mati ??? 

Komentar

About Billy Herba

Check Also

mantan

Mantan, Lupakan atau Jadikan Teman?

Sebuah penelitian yang diterbitkan  oleh jurnalrisa mengungkapkan bahwa seseorang yang berteman dengan mantan pacar berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *