Home / Artikel / Tokoh Lokal dan Dunia Pengidap Disleksia

Tokoh Lokal dan Dunia Pengidap Disleksia

disleksia
Source: Google Images

Pernahkah Anda mendengar tentang disleksia? Ini adalah satu bentuk sindrom, dimana penderitanya mengalami gangguan pada struktur dan fungsi otak yang membuatnya mengalami kesulitan dalam belajar, terutama membaca.

Meski kesulitan memahami susunan alfabet, penderita disleksia tak selalu identik dengan kemampuan belajar yang rendah. Ini karena banyak dari mereka yang sukses, bahkan dapat menuai prestasi besar di dunia.

Da Vinci

Da Vinci adalah seorang pelukis dari Italia pada zaman renaisans yang karyanya seperti Mona Lisa dan The Last Supper melegenda hingga saat ini. Ia diduga mengidap disleksia karena catatan-catatan tangannya berantakan dan sulit dimengerti oleh orang-orang.

Hampir semua tulisan tangan yang ditulis Da Vinci dalam jurnalnya terbalik dari belakang ke depan dan hurufnya juga tak beraturan. Hal ini adalah suatu karakteristik orang-orang disleksia yang kidal.

Meski demikian ada juga sanggahan yang mengatakan Da Vinci tak punya disleksia tapi memang sengaja menulis seperti itu untuk membingungkan orang yang ingin mencuri idenya.

Thomas Edison

Saat dirinya kecil Thomas Edison adalah seseorang yang terkenal badung dan sulit diatur. Ia akan berbicara di dalam kelas ketika gurunya menjelaskan dan tak mau mendengar bila diberitahu. Edison diketahui sangat lemah di bidang matematika, menulis, dan berbicara sehingga ia hanya mampu bersekolah formal sampai tiga bulan.

Akan tetapi dirinya tak berhenti mencari ilmu. Lewat bimbingan dan dukungan lingkungan, Edison dewasa menjadi orang terkenal karena dirinya berhasil menemukan bola lampu.

Albert Einstein

Fisikawan Albert Einstein adalah seorang ilmuwan yang populer setelah ia mengenalkan teori relativitas kepada dunia. Einstein dikenang sebagai salah satu orang jenius yang dunia ini pernah miliki dan ilmunya juga terus dikembangkan.

Namun sebagai seorang anggota masyarakat, Einstein adalah seseorang yang sangat tertutup. Ia tak banyak bicara dan beberapa sumber menyebut dirinya bahkan kesulitan mengingat tanggal karena disleksia.

Steven Spielberg

Siapa yang tak tahu film layar lebar Jurrasic Park, Jaws, atau Indiana Jones?

Film-film tersebut adalah karya dari Steven Spielberg yang merupakan seorang pengidap disleksia. Di belakang layar ketika menyutradarai film ia seringkali menyempatkan diri untuk berbicara mengenai kondisi yang diidapnya.

Saat dirinya masih kecil di tahun 1950 ia mengaku menghabiskan waktu hampir dua tahun hanya untuk belajar membaca. Saat itu disleksia masih belum diakui sebagai suatu kondisi gangguan sehinga Steven sangat kesulitan menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya ke orang lain.

Ketidakmampuan Steven untuk membaca di kelas membuat ia menjadi target bullying oleh teman-teman dan guru mencapnya sebagai seseorang yang malas. Beruntung ia menemukan teman-teman yang mengenalkannya ke dunia perfilman.

“Film benar-benar membantu saya. Saya merasa tertolong dari rasa malu, bersalah,” kata Steven seperti dikutip dari ABC Australia.

Steve Jobs

Semasa hidupnya Steve Jobs diketahui sebagai CEO dari perusahaan raksasa Apple. Namun tahukah Anda bahwa ia sebetulnya adalah seorang pengidap disleksia?

Di sekolah Steve adalah sosok yang sangat biasa saja bahkan bisa dikatakan ia sulit menyelesaikan pendidikannya. Semasa kuliah ia bahkan hanya mampu bertahan hingga satu semester sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar karena merasa ilmu yang ia pelajari tak ada manfaat praktis untuk hidup.

Dengan menggunakan pengalamannya dan sedikit ilmu di sekolah, Steve pun berhasil menciptakan beragam produk Apple.

Deddy Corbuzier

Disleksia ini membuat Deddy sempat tak naik kelas saat SD. “Saya tidak naik kelas, tapi ayah tidak marah,” katanya. Padahal, saat itu ayahnya tidak tahu dia mengidap disleksia. Itulah yang membuat Deddy semakin kagum pada ayahnya.

Ia baru menyadari dirinya mengidap disleksia saat SMA. Ia sering bingung karena sering lupa. Yang pasti ia tidak bisa ingat nama orang, apalagi nama jalan. Untungnya, ia selalu diantar sopir sejak kecil. Karena disleksia ini pula, Deddy memilih kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Atmajaya Jakarta selulus dari SMA Santa Theresia. “Saya ingin menerapi diri sendiri,” tuturnya.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *