Home / Hiburan / Make Indonesia Selow Again

Make Indonesia Selow Again

indonesia selow
Source: Google Images

HIDUP dan tinggal di Indonesia selama hampir 27 tahun, saya merasakan banyak perubahan yang signifikan. Penyebabnya pun kurang saya ketahui secara pasti. Tetapi perubahan signifikan itu nyata terjadi di setiap lini kehidupan. Kesan terhadap Indonesia bagi saya pribadi ialah negara yang terus belajar untuk berdemokrasi. Namun, tengah perjalanan untuk memantapkan demokrasi tersebut, ada kesan negara semakin membatasi kebebasan warganya. Sehingga, ada banyak keputusan dan payung hukum justru kontraproduktif terhadap semangat demokrasi.

Saat ini, kesan dari Indonesia terlihat sangat Islam, padahal semangat Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Alasan ini bisa jadi salah atau benar. Tapi itulah yang saya rasakan. Pun saya bukan pembenci Islam, tapi saya menggantungkan penuh harap Indonesia bisa jadi rumah semua agama maupun ras. Perbedaan merupakan keniscayaan, tak ada pengecualian. Apa indahnya dunia ini kalau semua seragam?. Tentu sangat memuakkan. Lebih mengakhiri hidup saja, daripada hidup di tengah keseragaman yang palsu.

Ingatlah dulu, stasiun televisi masih santai memutar film-film dewasa di tengah malam. Lalu disusul kuis-kuis dengan pembawa acara perempuan seksi sesekali diselipi buka baju. Pun film-film di bioskop juga diwarnai film bergaya semi. Dulu tidak ada pernah ada tuh perlawanan dari mereka yang konservatif, selow saja. Penyensoran film pun tak begitu masif di zaman dulu. Tapi lihat sekarang? kartun saja disensor. Entah kenapa makin ke sini, terus mengalami kemunduran.

Kini, tiap ada masalah sedikit, banyak orang yang tanpa tedeng aling-aling melaporkan ke kepolisian. Mulai dari kasus remeh hingga kelas kakap. Ada kemajuan sebenarnya, tapi entah sampai kapan sikap reaktif ini terus dibudayakan. Masyarakat sudah seharusnya memahami kondisi keluarganya. Parahnya laporan polisi kerap dijadikan pembenaran bagi mereka yang merasa dirugikan. Biasanya laporan polisi datang dari penguasa maupun pengusaha.

Entah sampai kapan kekakuan ini terus berlanjut. Karena sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, hidup di Indonesia kurang bisa dinikmati seutuhnya. Sebab, selalu saja ada kekurangan datang dari tubuh Indonesia yang masih rapuh. Sulit dipegang konsistensinya dalam menjalankan konstitusi negara. Akhirnya, kelemahan itulah yang membuat banyak kekurangan dan kecurangan.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *