Home / Hiburan / Love For Sale: Jangan Picky, Nanti Gigit Jari

Love For Sale: Jangan Picky, Nanti Gigit Jari

Love for sale
Source: Google Images

Padahal ketika di pertengahan film Love for Sale, saya sudah bisa menebak karakter utama Richard akan ditinggal oleh Arini karena sudah 45 hari.

Hidup memang tak selamanya mulus seperti pantat bayi. Kadang ada saja kerikil tajam yang kerap menusuk dan mengganjal. Layaknya urusan percintaan juga tak selamanya mulus, bisa jadi kian menusuk. Apalagi usia terus bertambah, karir stagnan, jodoh tak kunjung datang, alhasil jadi bujang lapuk tak jelas arah. Rasa ingin marah dan menghujat pun juga semakin tinggi. Nah, sifat temperamental itu sangat terpampang jelas dari karakter Richard di film Love for Sale.

Karakter Richard di Love for Sale terbangun begitu nelangsa. Usia sudah berkepala empat, bisnis landai, dan masih saja sulit menemukan pujaan hati. Seperti manusia kebanyakan, kadang sulit menemukan jodoh karena masih sibuk pilih-pilih pasangan hidup. Tak salah memang keputusan itu. Karena perkara membangun rumah tangga bersama tidak bisa dianggap sepele. Sebab, harapan di setiap benak manusia, sekali menikah untuk selamanya. Tidak ingin coba-coba.

Saya ketika menonton film Love for Sale tidak terlalu banyak terkejut. Karena sedari awal tahu sutradara film tersebut Andibachtiar Yusuf. Pasti di dalamnya ada adegan ranjang dan unsur sepakbola. Namun, alur yang dibuat oleh pria yang akrab disapa Ucup itu sangat apik. Karena menurut saya, ada banyak semiotika yang ingin ia sampaikan kepada penonton. Ditambah lagi, ending film tersebut menimbulkan banyak tanya. Padahal ketika di pertengahan film, saya sudah bisa menebak karakter utama Richard akan ditinggal oleh Arini karena sudah habis kontrak selama 45 hari. Richard menyewa Arini dari aplikasi pacar daring LoveInc. Nahasnya, Richard jatuh cinta dengan pacar daring yang disewanya itu.

Tapi, bagaimana mungkin tidak kepincut dengan karakter Arini. Saya yakin semua penonton pria tak henti-hentinya mengumpat. Karena Arini bisa jadi istri idaman semua pria. Jago masak, paham sepakbola, good in bed, penurut, penyayang binatang, dan tak banyak minta. Richard pun klepek-klepek dalam hitungan hari.

Uniknya, banyak teori penonton yang ingin menyambungkan benang merah film tersebut. Saya setuju dan menduga kuat karakter kunci di film itu ialah Panji, teman semasa kecil Richard. Sebelum bertemu Arini, Panji sudah pernah teman perempuannya bernama Keke. Tapi ternyata ketika Richard ditodong bertemu dengan orang tua Keke pas di restoran justru membuat Richard ilfeel. Richard memilih meninggalkan Keke di restoran sendirian.

Saya menangkap satu semiotika penuh makna ketika Panji tiba-tiba main ke rumah Richard. Saat di ruang tengah, Panji dan Richard berbicara lirih sembari menunggu minuman yang sedang dibuatkan Arini di dapur. Panji menggunjing perempuan bernama Maya, yang mana perempuan yang digilai oleh Richard. Panji mengatakan kepada Richard agar tidak banyak picky, sebab selama ini Richard kalau kurang cocok dikit langsung enggak mau. Dari obrolan itu seperti menampar penonton bahwa mencari pasangan sesempurna bayangan kita itu hanya maya alias semu. Layaknya hubungan Richard dan Arini yang hanya bisa dinikmati sejenak. Percuma banyak angan-angan yang tak mungkin bisa dicapai. Karena setiap insan selalu ada kelemahan dan kelebihan.

Akhirnya, Richard pun ditampar oleh kenyataan ditinggalkan oleh Arini setelah 45 hari. Sebuah jumlah hari yang pas membuat manusia terbiasa dengan sesuatu hal. Ketika kita sudah menjalani kebiasaan sekitar 45 hari, besar kemungkinan kita akan terus terbiasa dengan kondisi dan situasi tersebut. Alhasil Richard pun memilih untuk berkelana mencari Arini yang sudah barang tentu hanya khayalan semata. Apalagi sejak awal Arini tidak konsisten menjawab pertanyaan terkait kota asalnya. Pertama menjawab berasal dari Pacitan, kemudian kedua kalinya ditanya malah dijawab Tulungagung.

Tapi, ada hal yang masih mengganjal pikiran saya ialah karakter Kartolo (bapak gadungan Arini) dan Silvia (teman gadungan Arini). Karena kedua karakter itu ternyata merupakan pemain sandiwara televisi. Panji pun tidak dijelaskan bekerja di mana. Apakah LoveInc hanyalah eksperimen sosial yang digunakan untuk memperdalam karakter sebagai kebutuhan film atau sinetron. Entahlah, tapi saya sangat menikmati film ini dan suka dengan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

Tabik.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *