Home / Artikel / #JusticeForAudrey dan Kekecewaan Netizen

#JusticeForAudrey dan Kekecewaan Netizen

#justiceforaudrey
Source: Google Images

Bersirkulasi secara masif tagar #JusticeForAudrey. Netizen berempati dan bersimpati dengan Audrey. Serta ingin pihak kepolisian mengusut kasus tersebut secara adil.

KASUS pengeroyokan seorang siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat bernama Audrey menjadi sorotan semua netizen. Sebab melalui pemberitaan media yang tersebar, Audrey dikeroyok 12 siswa SMA karena motif asmara. Saat dilaporkan ke kepolisian, Audrey diduga dianiaya dengan cara ditentang, dipukul, bahkan kepalanya dibentur-benturkan di aspal. Parahnya lagi, diduga para pelaku pengeroyokan juga melukai vagina Audrey.

Sontak, netizen pun geram dengan para pelaku pengeroyokan. Bahkan langsung bersirkulasi secara masif tagar #JusticeForAudrey. Netizen berempati dan bersimpati dengan Audrey. Serta ingin pihak kepolisian mengusut kasus tersebut secara adil. Tak lama kemudian juga muncul petisi terkait kasus tersebut. Tak sedikit juga netizen secara brutal menyerang para pelaku melalui media sosial. Brutalnya pun sangat terlewat batas.

Namun, selang beberapa hari kasus itu mencuat. Polisi langsung bergerak menangani kasus tersebut. Tetapi, ternyata muncul banyak keanehan dan kejanggalan dengan musibah yang menimpa Audrey. Sebab, saat diusut oleh kepolisian hanya tiga siswi SMA yang dijadikan tersangka, padahal sebelumnya diberitakan 12 siswi SMA. Pun telah dilakukan visum et repertum, ternyata tidak ditemukan bekas luka memar, lebam, dan sebagainya di sekujur tubuh Audrey termasuk vaginanya dikatakan baik-baik saja.

Alhasil, semua orang kaget bukan kepalang. Ditambah lagi, muncul tagar tandingan yakni #AudreyJugaBersalah. Tagar itu berisi seputar jejak digital Audrey yang dinilai sangat buruk serta kesaksian orang-orang terdekat Audrey yang mengatakan bahwa sifatnya tidak baik-baik amat. Setelah itu, mulailah drama netizen merasa tertipu dan kecewa oleh korban. Lagi-lagi tagar baru muncul yakni #JusticeForNetizen.

Tapi mengapa kalian kecewa telah membela korban? Bukankah pembelaan yang kalian berikan itu berdasarkan berita, bukan kabar burung biasa. Berita tentu sudah ada konfirmasi, cover both sides, dan sesuai fakta. Wajar ketika kita semua tahu ada berita kekerasan, kita wajib mengecamnya. Kemanusiaan harus didahulukan, terserah kelanjutannya seperti apa, karena sudah masuk ranah hokum. Meskipun ternyata korban melakukan playing victim, itu haknya dan kita pun jangan goyah. Karena hak asasi manusia harus diperjuangkan, apa yang ditabur oleh Audrey kelak juga akan dipanennya.

Jangan sampai berkurang rasa empati kita terhadap sesama manusia setelah kasus Audrey. Prinsipnya harus tetap sama, membela orang yang tertindas. Tetapi juga ingat sanksi sosial kepada para pelaku itu penting, tapi jangan terlewat batas. Kawal keadilan hukumnya, jangan fokus menyerang brutal pelaku. Karena rehabilitasi pelaku juga penting agar kelak tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari.

Bayangkan saja apabila kita, kepolisian, rumah sakit, atau pemadam kebakaran menerima laporan musibah. Haruskah kita mengkroscek terlebih dahulu musibah itu benar terjadi atau hanya rekaan semata. Kalau memang musibah itu benar, kalau kita terlambat menolong atau berempati taruhannya nyawa dan kelak bisa terjadi musibah serupa.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *