Home / Artikel / Sexy Killers Jadi Bahan Olok-Olokan

Sexy Killers Jadi Bahan Olok-Olokan

Sexy killers
Source: Google Images

Sejak dirilisnya film dokumenter Sexy Killers garapan WatchdoC Documentary di YouTube pada 13 April 2019 lalu, netizen sontak bereaksi sangat beragam. Ada yang sedih, marah, sangsi, dan bahkan ada juga yang resah sekaligus menyalahkan pembuat filmnya. Bagi mereka yang resah dan menyalahkan pembuat filmnya, rata-rata disebabkan oleh momen dirilisnya film itu di tahun politik. Mereka resah dampak dari rilisnya film tersebut membuat banyak penontonnya beralih menjadi golput. Memangnya kenapa kalau golput jadi banyak? Toh, hasil hitung cepat pilpres 2019, jagoanmu menang kan?.

Saya meyakini mereka yang resah itu pasti sudah melabuhkan pilihannya ke paslon 01 Jokowi-Maruf Amin. Karena mereka kebanyakan merasa porsi menyerang kubu petahana lebih banyak dibanding kubu 02 Prabowo-Sandi Uno. Tak heran, beberapa dari mereka menuduh pembuat film itu berafiliasi dengan kubu 02. Padahal kalau disadari secara mendasar, menyerang kubu oposisi yang belum pernah memimpin negara ini untungnya apa?. Justru hadirnya film Sexy Killers jadi pengingat bagi petahana yang mana oligarki politiknya sangat kental. Rakyat hanya jadi alas kaki mereka yang berkuasa. Pun oposisi juga masuk dalam lingkaran oligarki tersebut, jadi tidak ada hal yang pantas untuk menjadi film garapan WatchdoC Documentary sebagai bahan olok-olokan.

Khususnya, Dandhy Laksono yang merupakan penggawa dalam film tersebut tak lepas dari serangan mereka yang berada di kubu 01. Saya tidak berusaha membela mati-matian si Dandhy Laksono. Karena saya yakin mantan jurnalis RCTI itu juga punya kepentingan di balik semua karyanya. Bicara sponsor? Saya yakin dia dapat pendanaan dari asing. Tapi saya juga yakin Dandhy Laksono tidak akan menggadaikan atau melacur di atas kesengsaraan rakyat kecil. Karena biar bagaimanapun perjuangan dan usaha pasti butuh biaya.

Hal penting yang saya rasakan sejak film itu rilis, respon netizen jadi lebih hidup. Semuanya ramai-ramai mengkritisi film itu. Paling ramai kritik dilontarkan seputar karya tersebut yaitu tidak adanya cover both sides. Padahal kalau kalian mengikuti semua karya-karya Dandhy Laksono, semuanya hampir tidak ada cover both sides. Karena kebutuhan film dokumenternya memang untuk memotret warga terdampak. Dia berusaha memberikan ruang bagi mereka yang tidak bisa bersuara. Kalau merasa kurang pas, bikin saja film tandingannya, enggak perlu repot-repot marah.

Saya hanya bisa mengingatkan kepada kalian agar Kill Your Idol, agar tidak mudah baper. Percuma kalian mendewakan seseorang, karena setiap orang yang kalian idolakan pasti punya kepentingan. Apabila idolamu bertindak tidak sesuai hati nuranimu, ya biarkan saja enggak perlu baper. Urusi sendiri hati nuranimu, serang idolamu kalau perlu sebagai pengingat bahwa tindakan yang ia lakukan telah melukai kalian.

Diskusi di berbagai media sosial pun semakin gencar. Setidaknya masyarakat mulai sadar dengan dampak perusahaan tambang batu bara. Sebelumnya serangkaian Ekspedisi Indonesia Biru itu juga memotret dampak kebun kelapa sawit serta pembebasan lahan serampangan di Papua untuk menanam padi. Sebaiknya tak perlu klise dengan menasehati orang lain dengan jargon ‘setiap tambang pasti ada sisi positifnya’. Film itu hanya sebagai pengingat bahwa penguasa selalu menampilkan kerakusan. Jadi jangan dibiarkan begitu saja dan kalian anggap banal. Karena setiap jengkal hidupmu sedikit banyak berada di tangan penguasa. Bahkan, kalian sebenarnya hanya remah-remah biskuit tak berguna.

Bagi kalian yang sudah menggunakan hak suara kalian pada 17 April 2019 lalu, kini saatnya menunggu. Siapapun yang akan jadi pemenang, kalian harus siap mengawal dan mengawasi. Karena partisipasi politik tidak hanya saat pemilu saja.

Tabik.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *