Home / Artikel / Perangkaian Nada dalam Pita Suara Bisa Mempengaruhi Sebuah Proses Komunikasi

Perangkaian Nada dalam Pita Suara Bisa Mempengaruhi Sebuah Proses Komunikasi

logat
Source: https://i.ytimg.com/

Sebenernya judul ruwet di atas bisa dipersingkat jadi “LOGAT” tapi kalau gak ruwet jadi gak menarik.

Jadi gini, anak-anak guneman yuk hampir semua lahir di jawa dan tumbuh besar dengan bahasa daerah (bahasa jawa) yang cukup kental. Seiring bertambahnya umur, kami (dan mungkin juga kalian di luar sana) diharuskan untuk mengenal lingkungan yang lebih luas lagi dibandingkan daerah asal kami. Contohnya anak-anak guneman yang setelah lulus SMA banyak yang melanjutkan studi ataupun bekerja di daerah yang lebih urban atau metropolitan lagi yaitu Malang dan Surabaya. Mungkin untuk lingkup “migrasinya masih di jawa timur” tidak ada masalah yang cukup serius dengan bahasa karena pada dasarnya bahasa jawa di tiap daerah di jawa cuma beda aksen pelafalan (cie kayak English US-UK aja) dan beberapa kalimat dasar yang digunakan tetaplah sama saja.

Yang jadi problem adalah kendala bahasa dengan orang-orang baru yang gak bisa bahasa jawa. Selama kuliah saya sudah mengalami pertambahan circle dan circle itu bukan hanya orang jawa saja. Mereka berasal dari daerah-daerah DKI dan juga jawa barat (ya ini pulau jawa juga sih itungannya) bahkan mereka juga ada yang berasal dari luar pulau jawa. Masa kuliah dan pindah ke kota yang lebih gede membawa sedikit culture shock. Masalahnya setiap memasuki dunia baru kalau kita masih dalam skala lokal. Maka, kita akan nyaman dengan gaya bahasa sehari-hari. Maka di kota yang rada gede seperti malang akhirnya di lingkungan baru ini saya berbahasa indonesia pada awal masuk kuliah. Karena tentu saja dari TK sampai SMA saya berboso jowo untuk bercakap dengan teman baru.

Dan mau tidak mau saya juga harus terbiasa dengan para ibukotans dengan logat lo, gue mereka. Yang pada awal terasa janggal namun setelah beberapa lama logat ibu kota mereka sudah membaur di kuping. Menjadi alunan keseharian yang indah. Dari circle pergaulan itu saya menyadari sesuatu kalau:

  1. Mereka para warga ibukota lucu kalo ngomong jawa.
  2. Orang jawa lucu dan lebih ke arah gak pantes kalau ngomong dengan logat ibu kota.

Dan ketika saya pulang ke kota kelahiran. Fenomena yang terjadi adalah logat ibu kota ini digunakan oleh remaja-remaja berlidah jowo untuk sekedar terlihat lebih keren dan warga sekitar jadi lebih segan. TAPI TERDENGAR MENGGELIKAN SEKALI MEN TOLONGLAH . . .

Seiring ke sini saya bisa menangkap hal serupa pada teman-teman dari ibu kota ketika saya berkunjung ke kota mereka. Bahasa Indonesia saya mungkin terdengar lucu karena bagi mereka terdengar medok. Padahal saya sudah berusaha biar gak terlalu medok. Tapi apa daya, komunikasi memang bisa lebih santai kalau memakai bahasa yang “sama-sama enak untuk dipahami” jadi mau bagaimanapun lidah kalian melafalkan kata-kata. Pastikan saja itu bisa dipahami buat semua orang tanpa harus berusaha merubah logat yang jadinya malah terdengar aneh. Apalagi Cuma sekedar merubah logat biar terlihat keren dan berada di luar kota lama sekali sampai lupa bagaimana berbicara menggunakan logat daerahnya sendiri.

Komentar

About Bagus Hendy

Suka baca komik, suka main DotA. Kadang-kadang nyanyi, kadang-kadang nulis, tapi lebih sering tidur dan bercanda.

Check Also

ketahanan pangan

Bojonegoro sebagai Ikon Ketahanan Pangan Nusantara

Bojonegoro adalah wujud ketahanan pangan nasional. Kalimat yang terlihat bombastis dan mencengangkan tersebut benar adanya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *