Home / Artikel / Masjid Atau Toilet?

Masjid Atau Toilet?

Masjid
Source: Google Image

Era di mana umat manusia yang beragama Islam berlomba-lomba membangun sebuah masjid untuk medapatkan surgaNya. Banyak sekali dari mereka yang hanya sekadar membangun saja, namun tidak memperhitungkan jamaah yang akan beribadah di masjid yang sudah dibangun. Padahal yang terpenting adalah terdirikannya salat di setiap diri umat muslim. Ibadah adalah kualitas bukan kuantitas. Padahal tempat ibadah umat muslim diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan ukurannya, masjid à mushola à langgar. Saya sering menggumam, mengapa banyak sekali masjid di jalan-jalan tapi sepi jamaahnya? Seharusnya kan bisa hanya membangun langgar atau mushola dengan plang yang jelas di depannya, agar para pengguna jalan yang sedang berpergian bisa mampir sewaktu-waktu.

Dulu saat mempelajari pelajaran sejarah tentang kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, pendahulu kita mendirikan tempat ibadah tidak ujug-ujug membangun tanpa memikirkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi seperti jamaah, lokasi, dan kekultusan. Sedangkan sekarang? Mblader tlecek ning dalan-dalan. Membangun rumah Tuhan memang pekerjaan yang mulia, tapi apabila rumah Tuhan tidak digunakan secara optimal ‘kan mubazir. Saya banyak berandai-andai kalau kelak masjid atau rumah Tuhan ini benar-benar bisa menjadi rumah untuk siapapun, karena Islam adalah agama yang memberikan rahmat untuk seluruh umat manusia dan alam semesta.

Terbayang di pikiran kalau masjid perlu juga untuk di-branding oleh warga-warga di sekitar masjid tersebut, agar masjid tidak seperti toilet saja (umat muslim hanya keluar masuk saja tanpa bersosialisasi). Karena saya sendiri merasa, saya sebagai muslim ketika sholat di masjid ya sekadar salat saja, tak pernah berkenalan atau ngobrol dengan makmum yang berada di sebelah kiri dan kanan saya seusai salat. Lama kelamaan ibadah ini terlalu individual, rasa persaudaraan antar saudara sesama muslim terasa kurang afdhal. Saya sendiri belum cukup mental untuk melakukan hal itu, padahal ada momen yang tepat saat salat jumat dikarenakan rata-rata masjid ramai jamaahnya saat salat jumat.

Takmir masjid seharusnya bisa lebih pro-aktif untuk melengkapi infrastruktur beserta sarana prasarana di masjidnya dengan cara mencari donatur, agar jamaah juga merasa nyaman ketika beribadah. Kalau perlu masjidnya difasilitasi wifi gratis. Hehehe. Lalu, kegiatan keagamaan semakin digalakkan untuk memberikan wawasan yang lebih luas bagi yang ingin mendalami agama Islam. Harusnya masjid juga punya akun twitter, fb, blog, instagram, dan lain-lain agar dapat merangkul generasi-generasi yang muda untuk menjadi muslim yang taat karena selalu mengikuti informasi acara-acara yang diadakan masjid tersebut. Jadi, bisa saja nanti muncul image ”taat beragama itu keren”. Pun sebaiknya takmir masjid bisa membuat group chat di BBM atau LINE atau WhatsApp untuk memperbincangkan program-program kerja yang akan dilaksanakan selanjutnya untuk masjidnya.

Mungkin saja apabila ada satu masjid di Indonesia yang seperti andai-andai saya di atas bisa menjadi contoh yang baik untuk masjid-masjid lain yang ingin mengikuti jejak masjid tersebut yang siap menghadapi globalisasi dan perkembangan IPTEK. Maafkan tulisan saya ini apabila terlalu berlebihan atau mungkin tidak ada benarnya sama sekali di mata para ulama yang sangat paham agama Islam. Saya akan mengucapkan beribu maaf untuk seluruh umat Islam apabila tulisan saya menyalahi kodrat sebuah tempat ibadah. Saya hanya ingin berbagi dan memberi saran saja untuk menumbuhkan rasa giat berangkat ke masjid untuk mengunjungi Tuhan dengan belajar, beramal, dan beribadah untukNya.

 

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.

An Nur (24:36)

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

mantan

Mantan, Lupakan atau Jadikan Teman?

Sebuah penelitian yang diterbitkan  oleh jurnalrisa mengungkapkan bahwa seseorang yang berteman dengan mantan pacar berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *