Home / Artikel / Memahami Definisi Sosialita yang Sebenarnya

Memahami Definisi Sosialita yang Sebenarnya

Definisi Sosialita
Mau jadi sosialita? – Source: https://static01.nyt.com/

Seperti biasa, segala sesuatu yang sedang hype selalu jadi bahan pembicaraan yang pas saat minum kopi. Ok, mari kita siapkan secangkir kopi dan pikiran yang terbuka untuk membicarakan hal yang sedang naik popularitasnya ini, yak, sosialita. Definisi sosialita ini sendiri bermacam-macam, tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun definisi sosialita juga masih gamang. Ada pro dan kontra akan definisi dari sosialita ini dan pemahaman berbeda yang diterima oleh masyarakat. Oh well, let’s talk about it, shall we?

Sejauh ini ternyata definisi sosialita banyak sekali disalahartikan karena pemahaman yang simpang siur. Sebenarnya istilah sosialita ini sudah ada sejak abad ke 18. Pada abad 18, istilah sosialita or so we called socialite, digunakan oleh para perempuan bangsawan, seperti ratu atau putri kerajaan. Namun sosialita di sini bukan berarti gaya hidup, namun lebih kepada peran dan kewajiban seorang perempuan bangsawan di mana dia dituntut untuk hidup sebagai seorang nyonya besar, punya manner, harus behave, lemah lembut, segalanya diatur.

Dia harus bisa mempertahankan reputasinya, memiliki keterampilan sosial, cantik dan pintar guna mencapai kepentingan kerajaan. Gaya hidup yang semau-gue sepertinya tidak ada di kamus mereka. Jadi pada masa itu bisa dikatakan bahwa sosialita adalah seseorang yang memiliki tanggung jawab sebagai seseorang yang memiliki sopan santun dalam bertindak, ramah, disegani, tahu caranya menarik perhatian, in a classy way, tidak berlebihan dan tentu saja tidak berfokus ke diri sendiri melainkan pada kepentingan kerajaan atau negaranya.

Sebagian orang juga mengatakan bahwa sosialita adalah orang-orang yang aktif mengikuti kegiatan sosial, menolong sesama dengan mengadakan charity. Hmmm, tidak jauh beda dengan pemahaman filantropis. Namun, mungkin bedanya ada pada kepemilikan wealth yang menjadi latar belakang para sosialita yang cenderung berasal dari masyarakat kelas menengah ke atas. Sosialita juga dianggap oleh sebagian orang sebagai seseorang dengan tingkat intelegensi yang tinggi. Orang-orang yang berkontribusi lewat pemikirannya dan hasil karyanya dianggap memiliki peran sosial dalam memberi manfaat pengetahuan pada masyarakat.

Di Indonesia, sosialita lebih didefinisikan sebagai gaya hidup serba mewah dan berkelas. Bahkan ada yang membentuk komunitas sendiri dan memiliki kegiatan seperti arisan. Pemahaman ini ditelan mentah-mentah oleh sebagian orang, di mana mereka menganggap bahwa sosialita berarti harus punya barang bagus, bermerk, nongkrong di cafe mahal, jalan-jalan ke luar negeri dan kegiatan lain yang intinya adalah menghamburkan kekayaan untuk diri sendiri. Sebuah pemahaman di mana para orang-orang tersebut rela melakukan segala cara agar mendapat pengakuan sosial demi sebuah label sosialita. Apalagi dengan adanya sosial media, di mana hal itu bisa menjadi sarana pengakuan eksistensi dan mendongkrak popularitas

Pemahaman sosialita seharusnya kembali kepada kata dasarnya, yaitu ‘social‘ dan ‘elite‘, yang menunjukkan adanya kontribusi nyata untuk kehidupan dan kemanusiaan lewat kegiatan-kegiatan sosial di mana hal itu merupakan bentuk timbal balik dari kekayaan yang dimiliki. Sedihnya, hal ini justru berbeda dengan realita yang ada. Sebagian kelompok yang menyebut diri mereka sosialita malah terkesan memiliki perilaku konsumtif. Tak jarang terjadi adanya persaingan dalam bentuk tingkat kekayaan. Kalau liburannya nggak keluar negeri berarti nggak sosialita. Kalau sepatunya nggak dari Christian Louboutin berarti nggak sosialita. Kalau nongkrongnya masih di mekdi berarti nggak sosialita. Hmmm sebuah label yang sangat menuntut.

Gaya hidup ala sosialita ini pun jadi trend dan seperti biasa segala sesuatu yang menjadi trend sepertinya wajib diikuti oleh berbagai kalangan. Nggak mau dong dikata kudet a.k.a. kurang update. Since then, terjadilah adopsi besar-besaran gaya hidup sosialita oleh masyarakat dari berbagai kalangan, dari berbagai kelas sosial. Bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi ‘VIP’, tentu tidak menjadi masalah mengikuti trend ini. But wait, tak jarang kalangan ekonomi kelas menengah kebawah juga turut serta merayakan ke-hype-an gaya hidup ini. Lihat saja, barang-barang KW yang menjamur di pasaran. Itu merupakan suatu bentuk hasil dari tuntutan gaya hidup ala sosialita ini. Walaupun budget tipis, tetep bisa gaya.

Ironis sekali jika mengetahui bagaimana orang-orang melakukan berbagai cara untuk menuruti gaya hidup ini. Sebuah pemahaman yang diartikan sebagai sebuah gaya hidup, sebuah label, sebuah status sosial. Pemahaman sederhana namun disalahartikan menjadi suatu gaya hidup yang terlalu menuntut. Ajaibnya, tak sedikit orang yang tetap menjalaninya dengan pemahaman yang melenceng dikarenakan definisi sosialita yang sudah terlanjur. Orang-orang yang rela menyiksa diri demi sebuah pengakuan status sosial. Sosial media berubah fungsi menjadi sarana pamer dan dijadikan kiblat eksistensi hidup.

Adanya pemahaman yang berbeda memang menghasilkan perilaku sosial yang pro kontra. Tinggal bagaimana setiap individu menyaring informasi yang ada. Tidak ada yang salah dengan gaya hidup sosialita, namun akan lebih baik jika dibarengi dengan adanya rasa kepedulian dan manfaat bagi kehidupan sekitar. Tidak melulu harus mengadakan charity settingan, namun lebih kepada bagaimana kita menyesuaikan gaya hidup sesuai dengan kemampuan kita.

Jika dirasa cukup untuk membeli barang mahal atau mengadakan donasi besar-besaran, then why not? That’s your right to be. Namun jangan sampai hal ini mendorong kita menjadi pribadi yang penuntut dan konsumtif. Tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti segala sesuatu yang sedang hype, jika memang tidak sesuai dengan kita, tidak perlu diikuti. Jangan haus akan sebuah status dan label. Baik atau tidaknya dirimu tidak dilihat dari barang yang kamu pakai atau apa yang kamu punya, namun dari pribadimu. Sebaliknya jadilah diri sendiri, apa adanya. Jangan pernah berhenti untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa berguna bagi orang-orang di sekitar. Just stop labeling and start living.

Komentar

About Miranti Esti Hutami

Who cares

Check Also

12 Kebiasaan Remaja Masa Kini di Era Digital

Era digital, era di mana semua orang sudah dimudahkan kegiatan untuk berkomunikasi. Namun, tak sedikit …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *