Home / Artikel / Belajar Sejarah dari Kata-Kata

Belajar Sejarah dari Kata-Kata

Belajar Sejarah
Source: https://arusbawah20.files.wordpress.com/

Semuanya bemula dari kata, begitu pula dengan belajar sejarah. Apa dan bagaimana sejarah itu tergantung dari siapa yang menuliskannya. Untuk sejarah yang berskala besar, nasional misalnya, tergantung siapa yang berkuasa. Penguasa memiliki andil besar dalam mengkonstruksi dan merekonstruksi sejarah, bagaimana dia mendefinisikan sejarah, peristiwa-peristiwa, bahkan hal sekecil kata. Seperti “Jugun Ianfu”, dua kata yang didefinisikan Soeharto yang merujuk pada para wanita yang dianggap budak nafsu di zaman penjajahan Jepang atau “keturunan PKI”, dua kata yang merujuk pada mereka yang nista karena mewarisi darah orang tuanya yang PKI, hingga saat ini.

Hal-hal tersebut tidak akan luput dari daur ulang dan pemapanan definisi kata-kata, misalnya, apa definisi penjahat, apa definisi pahlawan, siapa saja anggota penjahat dan pahlawan, apa kriteria dari dua kubu tersebut. Oposisi biner semacam ini selalu sukses untuk menggiring keberpihakan dari para orang yang hidup di dalam sejarah maupun yang berada di luar sejarah tersebut. Padahal di dalam perkembangannya, kata tidaklah saklek. Kata bisa menjadi fleksibel tergantung pada penggunaannya di dalam teks dan konteks. Namun kembali lagi, pendefinisian yang dianggap “benar” adalah versi si pemberi definisi. Siapa? Ya penguasa, dia yang memiliki kekuatan untuk memaksa dan menekan.

Apa yang kita ingat dan pahami dari setiap kata mempengaruhi cara kita berpikir terhadap suatu hal. Kata-kata tersebut mengkonstruksi dan penambahan kata dan atau makna kata dari banyak aktivitas produktif seperti membaca, akan merekonstruksi cara kita berfikir dan memandang suatu hal. Hal ini membawa akibat pada logika-retorika kita, bagaimana kita kemudian berpikir dan menyuarakan pikiran tersebut. Maka dari itu, banyak baca adalah salah satu cara agar pikiran tidak terkungkung dalam satu ruang buntu. Banyak baca akan menciptakan pintu dalam ruang yang akan membawa kita melewati ruang-ruang lain, cara-cara bepikir dengan sudut pandang lain.

Sayangnya minat baca Masyarakat Indonesia tergolong rendah. Sebagaimana data yang dirilis oleh Word’s Most Literate Nations Ranked pada 9 Maret 2016 lalu, Indonesia berada pada posisi 60 dari 61 negara pada penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University tersebut. Hanya terpaut satu tingkat di atas Botswana. Sedih dan miris, padahal Indonesia memiliki stok buku yang lumayan banyak.

Jika tidak percaya, tahun lalu saja Gramedi* melelang berjuta-juta bukunya dengan bermacam genre termasuk sejarah dan pengetahuan umum dengan harga mulai Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu. Artinya, dengan range harga tersebut, buku masih bisa terbeli. Apalagi saat ini, tumbuh kesadaran beberapa orang untuk membuat perpustakaan pribadi atau organisasi yang terbuka untuk umum dan gratis, contohnya Rumah Baca Andalusi* yang tersebar di beberapa kota.

Membaca satu buku akan membuat anda tahu, tapi membaca dua atau tiga buku bertema sama dengan sudut pandang berbeda akan membuat anda tahu banyak. Dunia tidak hanya memiliki satu sisi, tidak juga dua sisi seperti koin. Bisa jadi dunia memiliki banyak sisi yang tidak beraturan. Buku ada sebagai penjembatan untuk memahami sisi-sisi tersebut. Apalagi sisi-sisi sejarah, itu penting bagi mereka yang hidup di dalam dan berpijak pada sejarah tersebut. Kata Jas Merah jangan sekali-kali meninggalkan sejarah yang dikumandangkan Bung Karno tidak akan pernah lapuk. Tanpa belajar sejarah kita akan kehilangan jati diri.

Bagi saya, sejarah Indonesia memiliki banyak kesimpang-siuran, mungkin diotak-atik, entah. Potongan-potongannya tersebar dan sering kali tidak utuh. Membaca banyak buku sejarah adalah salah satu cara cerdas untuk mengumpulkan potongan-potongan sejarah tersebut, seperti menyusun puzzle besar. Ada tantangan dan liku-likunya. Namun kepuasaan akan terasa jika potongan-potongan puzzle itu mulai tersambung dan terlihat. Setidaknya anda bisa sedikit memahami, kenapa penjahat disebut penjahat atau kenapa pahlawan disebut pahlawan.

Pasca Reformasi banyak buku sejarah yang terbit dengan berbagai sudut pandang yang bisa memperkaya pengetahuan sejarah. Jangan takut, baca saja. Kita memang membutuhkan banyak kepala untuk berpikir dan menyelesaikan permasalahan sejarah sembari mengutarakan pendapat lewat tulisan dan buku. Mungkin terlalu muluk, tapi lebih baik daripada diam dan hanya membaca satu buku, atau mungkin malah tidak membaca buku sama sekali? Janganlah, kebacut itu.

Intinya belajar sejarah pun perlu banyak referensi, agar dirimu tak terbelenggu dalam tempat yang sama.

Komentar

About Md Rina

Dialog Echecrates halaman 58 dalam Plato, Matinya Sokrates

Check Also

lembaga anti korupsi

Sebelum KPK, Ada 8 Lembaga Anti Korupsi

JATUH bangun lembaga anti korupsi didirikan sejak 1959. Beberapa pejabat tinggi aparatur negara kerap terseret …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *