Home / Hiburan / Sebuah Obituari Latah untuk Homicide

Sebuah Obituari Latah untuk Homicide

Homicide
Source: https://grimlocrecords.com/

Entah sudah berapa banyak obituari yang ditujukan untuk kolektif hip-hop Homicide asal Bandung yang sangat melegenda itu setelah Puppen? Oleh karena itu, berikan saya sedikit ruang untuk memuntahkan segala rasa hormat saya kepada unit hiphop cadas itu dengan membuat sebuah obituari latah.

Kala itu, diri ini masih menjadi seorang mahasiswa di Kota Malang yang penuh dijejali oleh pernak-pernik retorika dan haus akan predikat sebagai agen perubahan. Banyak hal yang memang banal dirasakan oleh para mahasiswa. Seperti halnya selalu ingin memperkaya khazanah keilmuan. Sehingga tak pernah menolak dijejali berbagai hal. Ketika sedang semangat-semangatnya mengolah kosa kata khas mahasiswa. Kosa kata berbau isme-isme atau isasi-isasi.

Tiba-tiba di sebuah obrolan di sebuah kamar kos yang lembab ketika tengah malam, ada seorang kawan bernama Omi merekomendasikan saya untuk mendengarkan lagu-lagu Homicide. Saat itu saya masih semester 4, medio 2011. Tanpa pikir panjang, esok harinya saya mengunjungi sebuah warnet untuk mengunduh lagu-lagu Homicide. Di dalam bilik warnet berukuran sekitar 2×2, saya bercumbu pertama kali dengan lagu Homicide yang berjudul Puritan.

Usai mendengarnya, saya makin mengais lebih dalam siapa sebenarnya Homicide. Rasa penasaran sangat meletup-meletup ketika mendengar sebuah kolektif hip-hop yang liriknya sangat susah dipahami itu. Jujur, saya adalah seorang penyembah lirik, musik hanya bumbu. Tetapi Homicide tak hanya memiliki sebuah rima yang sangar, namun beat-nya pun menggila, nuansa kelam adalah kesan pertama saya.

Homicide Complete Discography

Kendati demikian, salah satu informasi yang membuat sedih, ternyata Homicide sudah bubar sejak 2007. Hal tersebut merupakan berita yang sangat tidak menyenangkan, sebab 2007 saya masih duduk di bangku SMP. Di zaman itu, saya masih tak tahu apa-apa. Rasa-rasanya saya gagal menikmati secara langsung MV (Morgue Vanguard) dan Sarkasz sedang bertukar ludah di gigs. Namun, kenyataan pahit itulah yang harus saya dapat.

Semenjak 2011 itulah saya tak pernah bisa jauh dari lagu-lagu Homicide. Kadang saya heran sendiri, semacam fanatis dengan Homicide. Decak kagum itu hingga sekarang belum bisa luntur. Saya sangat memuji diksi-diksi mereka. Saya ingin kaya diksi seperti mereka. Seperti sedang berproses bersama-sama dengan Homicide, walaupun mereka sudah tiada. Namun karya-karya mereka terus abadi untuk saya.

Bahkan, penggalan lirik di dalam lagu Homicide yang berjudul Barisan Nisan sangat melekat di ingatan saya. “Kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan. Sehingga setiap orang yang kami temui, tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinanuntuk berkata tidak mungkin…”

Mungkin beberapa orang merasa Homicide merupakan kolektif hip-hop yang susah untuk dinikmati. Sebab memang sukar untuk memahami bait demi bait di lagu Homicide. Bahkan, banyak orang menyebut mereka kolektif hip-hop yang lebih punk dari kolektif punk itu sendiri. Sehingga tak ayal semua lagu dari Homicide selalu mengandung kritik sosial, politik, bahkan agama yang begitu pedas.

Tetapi, sepertinya Homicide pun acuh akan hal itu, seolah-olah pendengarnya disuruh untuk menggali sendiri tiap aksara yang mereka muntahkan dalam sebuah lagu. Bagi saya juga bukan masalah yang besar, selama lirik dan prilaku yang mereka buat tidak berkontradiksi. Sehingga saya makin bersemangat memahami segala diksi yang dibuat oleh Homicide.

Akhirnya, pada 2017 Grimloc Records telah merilis ulang semua lagu Homicide menjadi 2 keping CD. Total ada 32 lagu dan memperoleh booklet di dalamnya. Seolah-olah saya memperoleh harta karun yang sangat berharga. Jadi apabila saya tidak mengabadikannya menjadi sebuah tulisan, sangat eman. Susah sekali untuk berhenti mengagumi Homicide, lagu mereka tetap menjadi trigger dalam hidup saya.

Entah kenapa, diksi dalam lagu-lagu Homicide menjadi candu buat saya. Homicide mampu membuat saya makin melek tentang bahayanya pasar bebas dan semua orang masa kini telah berlebihan menyembah valas.

Kabar baiknya, Ucok dan Aszi telah kembali lagi menjadi dwitunggal dalam kolektif hip-hop yang mereka beri nama baru, yakni Bars Of Death. Semoga semuanya lancar dan makin banyak lagi karya yang mereka telurkan. ALL HAIL HOMICIDE!!!

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

band indie

Deretan Band Indie Lintas Genre

Hiburan musik memang tak pernah bisa dilepaskan dari kalangan masyarakat. Selera musik pun sangat beragam. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *