Home / Romansa / Bersyukurlah, Ibumu Masih Bisa Dalam Dekapanmu

Bersyukurlah, Ibumu Masih Bisa Dalam Dekapanmu

Ibu
Source: http://i.huffpost.com/

Tepat pada tanggal 18 Juli 1968  di sebuah Dusun/Desa Terjan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang dirimu dilahirkan. Bukan dari keluarga yang serba ada melainkan lahir dari keluarga sederhana, namun mempunyai semangat juang tinggi untuk dapat memperbaiki derajat sosial di kalangan masyarakat. Sriwiji, itulah nama yang diberikan kedua orang tuamu untukmu. Walaupun tak sebagus dan seindah nama anak-anak masa kini, tapi memiliki arti serta harapan yang besar bagi seluruh keluarga.

Nama yang diharapkan mampu membawa perubahan dalam keluarga kecilmu, yang mampu mengangkat derajat keluargamu. Seorang anak yang diharapkan mampu membawa perubahan status sosial keluarga, yang sebelumnya miskin bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Namun, sang Ilahi menghendaki hal yang berbeda, sebuah keluarga yang tak memiliki buah hati memintamu untuk dijadikan sebagai anak asuh. Mulai dari saat itulah engkau diasuh oleh ibu dan bapak angkat, serta harus terbiasa jauh dari ibu kandungmu sendiri.

Menjadi seorang anak yang diasuh oleh ibu angkat tentu tidak sama seperti diasuh oleh ibu kandung. Banyak sekali keresahan yang kamu hadapi di keseharianmu. Namun semuanya kau terima dengan ikhlas dan engkau serahkan pada Tuhan YME. Waktu terus berlalu dirimu sudah bisa melupakan keluarga aslimu dan mulai dapat menikmati bersamanya.

Tak disangka engkau sudah tumbuh menjadi wanita dewasa dan sudah waktunya untuk membangun rumah tangga. Di usia yang ke 18 tahun, engkau sudah memulai lembaran baru dalam kehidupanmu. Kehidupan yang berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Diusia segitu engkau sudah berkeluarga, dan harus hidup dengan suamimu yang tak lain dan tak bukan adalah bapakku.

Setelah beberapa tahun menikah, bukan berarti penderitaanmu berakhir, engkau pernah mengatakan kepadaku bahwasanya di awal-awal berkeluarga banyak sekali tantangan dan ringtangan yang harus engkau hadapi berdua. Dengan tekad dan kemauan yang kuat sehingga tantangan dan rintangan itu mampu kalian lalui dengan baik. Beberapa tahun setelah menikah akhirnya Tuhan mengkaruniai momongan dan sekaligus engkau menjadi seorang ibu.

Anak yang mampu menghibur dirimu, anak yang dapat sedikit mengurangi beban yang ada di pikiranmu. Kehadiran seorang anak yang diharapkan dapat memberi keberuntungan serta keberkahan bagi keluarga. Harapan yang tidak terlalu tinggi tetapi mempunyai makna yang sangat dalam bagi seluruh anggota keluarga. Sampai saat ini kedua anak-anakmu sudah beranjak usia dewasa.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwasanya peran seorang ibu di dalam sebuah keluarga sangat penting dan vital sekali. Semua pekerjaan rumah berada di bawah kendalinya. Mulai pekerjaan yang ringan sampai berat, dilakukannya seorang diri. Itu semua dilakukan tanpa adanya keluhan dan paksaan. Semuanya dilakukan dengan sukarela dan dengan penuh rasa tanggungjawab yang tinggi demi keutuhan sebuah keluarga.

Setiap pagi hari sebelum kami anak-anaknya bangun ibu sudah mulai menjalankan rutinitasnya. Mulai dari bersih-bersih rumah sampai memasak memyiapkan sarapan bagi kami sekeluarga. Setelah pekerjaannya di rumah selesai tak lantas membuat dia bisa bersantai-santai, ibu segera bergegas menyiapkan bekal dan mengantarkannya untuk diberikan kepada bapak yang lagi berada di sawah.

Setibanya di Sawah ia membantu bapak merawat tanaman, mulai membersihkannya dari rumput liar sampai memanen tanaman yang sudah bisa dipanen. Tak cukup sampai disitu sepulang dari kebun, bukan berarti tugas pekerjaan harian selesai. Sampainya dirumah langsung mengerjakan pekerjaan rumah yang sempat terhenti, misalnya bersih-bersih rumah, cuci baju dan lain sebagainya. Rasa letih tentu dirasakan pada dirimu, namun semuanya engkau abaikan semangat bekerja keras demi keluargalah yang mangalahkan semua rasa lelah itu.

Perjalanan hidupmu begitu berat ibu, banyak sekali tantangan dan rintangan yang harus engkau tempuh. Tanpa adanya rasa putus asa yang tertanam dalam hatimu. Walaupun perjalanan hidup yang berat tidak pernah engkau menampakkan kerisauan hatimu kepada anak-anakmu. Tak pernah engkau menceritakan keresahan yang ada pada dirimu dengan anakmu. Semua keresahan itu kau pendam dalam hati dan kau rasakam seorang diri, hanya senyuman lah yang kau tampakkan saat berada didekat anakmu. Hanya kepada sang maha kuasalah tempat peraduhan segala keresahan maupun kesenangan yang sedang kau lalui dalam setiap perjalanan hidupmu.

Kurang lebih sembilan bulan engkau mengandungku. Bukan hanya hitungan angka saja, tapi ini merupakan sebuah perjuangan antara hidup dan mati. Pada tanggal 07 Oktober engkau melahirkanku, kelahiran yang ditunggu seluruh anggota keluarga. Alangkah senang dan bahagianya hatimu ketika mengetahui anak yang lahir berjenis kelamin laki-laki. Karena selama mengandung engkau selalu mengidam-idamkan kelahiran anak laki-laki dan akhirnya apa yang kau idamkan dapat terwujud.

Harapan yang tinggi kau titipkan pada anak laki-lakimu. Semoga mampu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh keluarga. Namun harapan yang dibebankan pada diriku belum mampu aku wujudkan. Akan tetapi tak ada niatan bagiku untuk tidak mewujudkannya. Aku akan selalu berusaha membuatmu bangga telah melahirkan diriku. Aku ingin memutus rantai penderitaanmu sehingga dapat berganti dengan tawa ceria di wajahmu. Aku ingin melihat engkau tertawa bahagiah. Walaupun aku tidak dilahirkan pada keluarga kaya tapi aku patut bersyukur karena memiliki keluarga yang sempurna.

Di masa kecilku itu, aku selalu ingin terus berada di dekapanmu ibu, mungkin jika aku dapat memilih, aku akan memilih untuk kembali pada masa-masa itu. Masa dimana aku tidak terlalu memikirkan kerasnya beban hidup, masa dimana hanya adanya sebuah kegembiraan, keriangan dan keindahan masa anak-anak. Di masa itu, rasanya tidak ada orang hebat selain dirimu. Tak pernah kau campakan diriku, setiap apa yang aku inginkan sebisa mungkin engkau berikan. Namun, akulah yang tak mau memahami keadaanmu. Ketika aku merasa kurang puas dengan apa yang kau berikan, aku langsung marah dan menangis tanpa memperdulikan betapa susahnya mendapatkan apa yang aku minta. Mungkin jika waktu dapat aku putar kembali pada waktu itu, tentu aku tak akan pernah meminta dan membuatmu kesusahan dengan tingkahku.

Dengan seiring tumbuh besarnya diriku, aku semakin mengerti penderitaan yang engkau rasakan dulu. Aku dulu yang begitu rewel, engkau dengan penuh kesabaran menghiburku. Sehingga tangis yang ada pada diriku berganti dengan tawa ceria. Dulu aku begitu bodoh karena terlalu memaksakan kehendakku tanpa memperdulikan hati dan pikiranmu. Engkau orang yang paling hebat ibu, paling sabar dan paling mengerti ketika menghadapi anak-anakmu. Bagiku engkau adalah satu-satunya orang yang mampu memahami apa yang ada dipikiranku. Ketika senang engaku juga paham apa yang kurasa, jika susah engkau juga mengerti dengan apa yang sedang aku pikirkan.

Kini masa-masa itu seakan tak akan pernah aku jumpai lagi di kemudian waktu. Akan tetapi ibu, percayalah aku tak akan pernah melupakan apa yang dulu pernah engkau berikan kepadaku. Aku tak akan pernah lupa bagaimana engkau merawatku, baik dikala aku sehat maupun dikala sedang sakit.

Walaupun engkau tidak meminta apa-apa dariku, tetapi aku pasti akan memberikan yang terbaik untukmu. Meskipun aku tahu tidak akan pernah mampu untuk membalas semua yang telah engkau berikan meskipun aku sudah melakukannya yang terbaik agar dapat membahagiakanmu. Sampai nyawaku aku pertaruhkan demi membahagiakanmu. Usiamu kini memang sudah tidaklah muda lagi, namun semangat yang kau tanamkan kepada seluruh anakmu selalu menginspirasi di setiap langkahku agar tidak mudah putus asa dalam menjalani setiap ujian hidup yang kulalui.

Semangat itulah yang membuat diriku mampu bertahan hidup sampai saat ini, walaupun diriku masih belum dapat memuaskan hatimu.Aku berharap semoga engkau tetaplah menjadi ibu untuk selamanya seperti saat-saat masa kecilku, walaupun kini aku telah dewasa. Akan tetapi bimbingan dan arahanmu tetaplah aku butuhkan dan kuharapkan. Karena ridhomulah yang selalu aku harapkan. Kesedihanmu menjadi deritaku, senyummu merupakan pelecut semangatku untuk selalu berusaha membuat engkau bahagia.

Mungkin lewat tulisan ini dapat menumbuhkan rasa cinta dan bangga diriku padamu ibu. Penyesalan dan pemohonan maaf setiap hari aku ucapkan pada dirimu dan berharap engkau meridhoi setiap langkah yang aku lakukan. Aku juga belum pernah melihat engkau tersenyum apalagi tertawa riang. Di kehidupanmu yang penuh dengan pengorbanan dan kesengsaraan. Tapi rasa sedih itu tah pernah engkau perlihatkan padaku, engkau paksakan untuk tersenyum di hadapanku walau di hati kecilmu rasa tangis yang terpendam.

Walau mungkin aku sudah dewasa tapi sosokmu tak akan pernah hilang dari hati dan pikiranmu. Akupun sadar apalah artinya diriku tanpa adanya bimbingan darimu. Apalah arti dari kebahagiaanmu ketika engkau tidak merasakan apa yang aku rasakan. Apalah arti senyumanku ketika sedih masih engkau rasakan. Setiap perkataanmu akan aku pegang teguh dan tak akan pernah aku mengingkarimu. Tak ada niat dalam diriku untuk membuatmu menangis. Sedih rasanya hatiku bila mendapati dirimu merasa sedih. Sedih jiwaku ketika melihat ragamu terlihat murung.

Doaku selalu bersamamu ibu, semoga engkau selalu diberikan kesehatan dan keselamatan serta selalu dalam lindungan sang kuasa. Akan aku hapuskan rasa kepedihan masa lalumu dan berganti dengan rasa bahagia yang amat dalam. Semoga usia tuamu ini selalu ada rasa suka dalam hatimu. Semoga kepedihan-kepedihan masa lalumu sudah terhapuskan oleh cada tawamu disetiap hari-harimu. Akan aku ingat selalu nasehat-nasehatmu ibu. (tertanda anak laki-lakimu).

Komentar

About Zainul Mustofa

Check Also

Ibu Soekarno

Ibu Menjadi Tonggak Membangun Bangsa

Mencumbuinya ku tak sanggup. Nampak jelas begitu sayu matanya yang oval itu dikelilingi guratan halus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *