Home / Artikel / Catatan Seorang Utopis: Tidak Ada Benar dan Salah

Catatan Seorang Utopis: Tidak Ada Benar dan Salah

Seorang Utopis
Source: Google Images

Dunia tidak menawarkan apa-apa kecuali masalah,

Sebuah pernyataan yang aku baca pada dinding kamar kos temanku beberapa waktu silam. Pernyataan yang dikutip dari film berjudul Pintu Terlarang karya Joko Anwar itu pun ditulis bukan tak mengandung arti. Kebetulan saat itu kami (aku dan temanku yang aku datangi kamarnya) adalah mahasiswa semester akhir yang akan bergelut dengan skripsi, revisi, dan dosen yang susah untuk ditemui karena ke luar negeri (ini ngehek banget sih).

Aku pun selintas membaca, tertawa tipis, dan melupakan pernyataan tersebut. Tapi ternyata alam bawah sadarku menyerap dengan baik. Tulisan itu pada waktu-waktu khusus melintas di pikiranku saat mengalami situasi yang menggambarkan kalimat tersebut.

Ketika pertama kali dilahirkan, seolah-olah kita sudah menyetujui, bahwa hidup tidak akan terlepas dari yang namanya masalah. Tapi memang benar, apapun yang terjadi, suka tidak suka masalah akan selalu ada selama nafas kita masih menyatu dengan jasad dan roh.

Ketika bayi, kita  sudah menghadapi masalah seputar pemenuhan kebutuhan diri yang tak bisa kita lakukan sendiri. Sehingga meminta bantuan kepada orang lain untuk datang memahami keinginan kita dengan cara menangis. Saat menginjak usia merangkak dan berjalan permasalahan yang dihadapi terkait dengan lingkungan sekitar, ingin memiliki mainan, direbut mainannya, dimarahi karena nakal, dan lain sebagainya. Tapi perlu aku sadari sekali lagi, apapun masalah yang aku hadapi saat masih kecil selalu diselesaikan dengan kasih sayang, cinta, satu pelukan, dan saling memaafkan. Setidaknya itu yang diajarkan para orang tua untuk menjadikan anaknya manusia terbaik.

Seiring waktu berjalan, usia dan masalah pun bertambah, jalan keluar yang bisa kita ciptakan juga beraneka ragam. Karena ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang kita miliki akan upgrade dengan sendirinya.  Tapi terkadang manusia sering merasa pintar dan benar sendiri dengan dalil, teori yang mengaku sudah dikuasai. Jika ego sedang berkuasa di dalam dirinya, maka ketika ada orang lain berbeda pada apa yang diyakininya akan muncul  ‘kamu salah, aku benar’. Hal terpenting baginya adalah seisi semesta harus tahu apa yang dimiliki adalah yang Maha Benar.

Aku tidak menganggap idealisme seperti itu sepenuhnya salah. Tapi manusia punya dua telinga satu mulut yang kita tahu betul apa fungsinya. Apa yang kita yakini benar belum tentu benar menurut orang lain. Tak bisa kah kita melihat bukan dari satu sudut pandang saja, bahwa dunia ini tidak hanya tentang benar dan salah atau hitam dan putih?

Tak bisakah kita menyelesaikan masalah seperti layaknya apa yang orang tua kita ajarkan dulu ketika masih kecil, terlebih lagi tak bisakah keangkuhan buah dari ego itu ditiadakan?

Sejatinya Tuhan menciptakan manusia bermacam-macam, tipikal manusia ada banyak bahkan tak ada nominal yang bisa menggambarkan. Maka sudah jelas perbedaan adalah sebuah permasalahan yang wajar setidaknya bisa diterima dengan bijak oleh kita yang mengaku berpendidikan.

Bukankah damai dan saling berdampingan itu indah? Atau justru itu pokok permasalahannya?

Tentu benar dunia tidak menawarkan apa apa kecuali masalah. Atau mungkin kita yang sibuk mencari masalah karena kebenaran hakiki bukan milik kita sendiri?

Atau kita ingin menjadi Tuhan dengan memutuskan surga untukku dan neraka untukmu?

Note:

Catatan singkat untuk alarm diriku sendiri. Bahwa hidup berdampingan itu sudah ada sejak zaman dulu. Jadi perlu dilestarikan dan dijaga oleh semua lini masa kehidupan, agama, dan negara.

 

Komentar

About Fetty Ilma Sahala

Anak jadul 90an

Check Also

egg film-film joko anwar

Easter Egg Film-film Joko Anwar

Rasanya tak puas hanya menuliskan opini atau fan theory saya seputar fantasi Joko Anwar yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *