Home / Romansa / Buruan Nikah Muda, Tunggu Apalagi?

Buruan Nikah Muda, Tunggu Apalagi?

nikah muda
Source: Google Images

Apakah kamu termasuk anak muda yang tertarik nikah muda? Alasannya mengapa?

Santer diberitakan seorang pemuda asal Garut yang sungguh tertekan karena disindir oleh ibu yang sedang hamil terkait pertanyaan ‘kapan nikah?’. Dia pun diketahui seorang pemuda pengangguran berinisial FN yang masih berusia 28 tahun. Karena tak kuat menahan sindiran yang terus menghujamnya, FN pun tega membunuh ibu berusia 32 tahun yang sedang hamil dengan cara mencekiknya. Sungguh teganya meregang nyawa manusia hanya karena persoalan yang mungkin dianggap oleh banyak orang itu masalah sepele. Padahal semua orang tahu dan selalu menyarankan bahwa nikah muda merupakan solusi segalanya. Jangan tunda kalau mau nikah, kalau belum laku ya sudah, tunggu sampai jodohmu datang.

Perihal nikah muda memang sudah terjadi di zaman kapanpun. Semua punya alibi masing-masing untuk mengglorifikasinya. Dulu, lulus SD saja sudah banyak nikah. Lalu mundur-mundur nunggu lulus SMA, menyesuaikan ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Namun, di dalam undang-undang juga masih ada celah untuk menikah di bawah usia 21 tahun, asal memeroleh izin dari kedua orang tua calon pengantin. Jadi, ya sama saja sebenarnya. Namun, sejak dua tahun yang lalu, sepertinya nikah muda diglorifikasi secara masif oleh kaum-kamu muslim yang ngakunya puritan. Mereka pun membuat gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. Karena pacaran hanyalah hubungan yang sudah pasti diselimuti maksiat. Sehingga, hendaknya para anak muda lebih bijaksana mengambil keputusan cepat menikah.

Beberapa orang pasti nyeletuk dengan kalimat andalan ‘udah nikah muda saja, enak kok, jangan pernah ragu, kalau percaya Allah, pasti rezeki ngikut kok’. Oke, saya pikir pemberi saran tersebut merupakan cenayang yang sangat ulung. Kendati demikian, kubu lain yang juga benci dengan argumen seperti itu pasti ikut nimbrung, lalu ngomong ‘nikah muda bukan solusi, karena biar bagaimanapun urusan ekonomi harus kelar dulu, emosi pun masih labil, nanti ujung-ujungnya cerai’. Semuanya merasa paling benar dan ingin diakui bahwa argumennya lebih tepat menghadapi kasus tersebut. Tetapi di lain sisi, nikah bukan urusan muda, rezeki, dan hal-hal remeh tersebut. Mau nikah muda atau tua bukan urusan siapapun, bahkan apabila tidak menikah sama sekali juga bukan masalah yang berarti bagi saya. Semua punya porsi masing-masing, tak usahlah sok memberi dorongan moral agar lebih hebat lagi.

Padahal yang perlu ditekankan pada urusan nikah muda ialah komitmen dan konsekuensi yang harus dihapi bersama. Nikah itu butuhnya matang secara lahir dan batin. Ketika kamu sudah berusia 35 tahun tapi belum matang, mending nggak usah menikah. Karena kematangan seseorang harus teruji. Jadi, ketika sama-sama sudah matang, kondisi susah maupun senang bisa dinikmati bersama. Tidak ada istilahnya kamu meninggalkan pasangan yang paling kamu sayangi ketika sedang terpuruk. Mentalitas gotong royong harus benar-benar diterapkan dalam keluarga. Kesimpulannya, nikah muda hanyalah pilihan, tak mungkin semua anak muda sanggup untuk nikah muda. Sebab, tendensi untuk menikah muda bukan karena untuk menggali rezeki saja, tetapi proses memahami satu sama lain sehingga mampu membina sebuah rumah tangga. Sebaiknya kalau menyuruh orang lain menikah muda mending dibuat lebih lengkap, contohnya ‘buruan nikah muda, selama kamu sudah matang, memiliki komitmen bersama dan mengetahui segala konsekuensi ke depannya, jadi susah senang harus bisa dinikmati bersama’.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

Nikah muda

Orang Pintar Dukung Nikah Muda

Para pendukung nikah muda itu sudah pasti orang-orang pintar. Sebab mereka pintar menyembunyikan banyak hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *