Home / Hiburan / Glorifikasi Berlebihan Terhadap Film Yowis Ben

Glorifikasi Berlebihan Terhadap Film Yowis Ben

Yowis Ben
Source: Google Images

Tak ingin langsung mengkritisi film Yowis Ben, sepertinya lebih enak kalau memuji terlebih dahulu. Karena patut diacungi jempol kiprah Bayu Skak berjuang melalui jalur YouTube sekitar 2010 silam. Tahun demi tahun ia lalui dengan penuh produktivitas, tak henti-henti produksi video terbaru untuk mengisi kanal YouTube-nya. Mengandalkan lawakan khas Jawa Timuran, Bayu Skak pun mampu memikat banyak orang. Khususnya kata-kata misuh yang kerap ia lontarkan di setiap videonya. Namun, sayangnya sejak pertama kali ia muncul, saya belum bisa tertarik dengan Bayu Skak. Tetapi, yang terpenting Bayu Skak harus diakui memang hebaaat.

Meski pria kelahiran Malang 25 tahun yang lalu itu satu kampus dengan saya di Universitas Negeri Malang, tak juga buat saya tertarik. Sebab, perlu saya akui secara subyektif dialek Jawa Timuran kurang nyaman di telinga saya. Karena saya pun lebih bangga dengan kota kelahiran saya yakni Bojonegoro, layaknya Bayu membombardir promo film Yowis Ben dengan gimmick film berbahasa daerah (Jawa Timuran) yang bisa dibanggakan. Tak perlu kaget, semua demi film yang laris dan dibuktikan dalam waktu 12 hari, penonton Yowis Ben mencapai 600 ribu orang. Selain itu, debut Bayu Skak di industri film juga tak main-main, sangat multitasking. Bayu merangkap menjadi co-director, screenplay, dan aktor utama. Sangar! Tapi FYI, sebelumnya pada 2014, Bayu Skak juga sudah bermain film Marmut Merah Jambu, lalu pada 2015 main di dua film yakni Check In Bangkok dan Relationshit. Dan yang terakhir pada 2016, Bayu Skak jadi aktor di film Hangout.

Sebelum film garapan sutradara Fajar Nugros itu rilis, sebenarnya saya sangat tertarik untuk menontonnya. Seperti apa ide gila Bayu Skak ketika menuliskan naskah film pertamanya. Hingga pada akhirnya, Bayu Skak tiba heboh sendiri ketika menjelang beberapa hari sebelum filmnya rilis. Tiba-tiba dia mengunggah video berjudul AKU WONG JOWO!. Di dalam video tersebut, dia mengeluh dan marah, karena perjuangannya meloloskan naskahnya menjadi sebuah film butuh perjuangan yang tidak mudah. Lantaran banyak akun yang mengomentari karyanya yang masih segmented. Dari video tersebut, justru saya tidak ada rasa iba sama sekali dengan Bayu Skak. Karena bagi saya, video tersebut terlalu remeh, sebab memanfaatkan ras Jawa sebagai alat menarik simpati. Bayu terlalu kelihatan menjadi seorang minoritas baru, padahal sudah jelas dirinya merupakan mayoritas di negaranya.

Aroma rasis yang ia lontarkan ke publik begitu terasa. Ada yang pro maupun kontra. Karena memang tidak perlu membuat video pengakuan bahwa kritik dan saran datang bertubi-tubi karena film buatannya sangat beraroma Jawa. Sehingga, Bayu disudutkan dalam posisi sebagai bocah kampungan yang mencoba peruntungan di industri film. Tak heran, semakin banyak rasa sedih yang dieksplotasinya. Karena tentu saja mereka yang telah menjadi penggemar Bayu termakan ocehannya bahwa Yowis Ben menjadi sebuah salah satu wakil film berbahasa daerah. Hal yang perlu dikaji sangat jelas, karena Bayu tak mampu mengeksplorasi Malang secara optimal di film tersebut, sehingga terbesit pikiran film tersebut low budget. Lalu, justru lebih banyak mengandalkan simpati yang datang dari berbagai latar belakang. Tak ada yang perlu dilebih-lebihkan pada film  Yowis Ben meski 80 persen dialognya menggunakan bahasa Jawa. Sama saja.

Lalu, hal memuakkan ketika seorang Mentri Pendidikan Muhadjir Effendy memberikan testimoni film Yowis Ben sebagai acuan bagi para penonton. Mantan rektor Universitas Muhammdiyah Malang tersebut mengungkapkan bahwa film Yowis Ben merupakan genre terbaru. Opo? Ojo guyon pak? Ngisin-ngisin i. Saya pun ingin berkhusnudzon bahwa Muhadjir belum pernah lihat film selama ini. Semoga komentar-komentar yang menyerang Bayu pun tetap tumbuh subur. Karena tidak ada yang baru dari film Yowis Ben. Sebab, apabila kalian tahu Garin Nugroho iku wes tau nggawe film Surat untuk Bidadari (1994) dan Angin Rumput Savana (1996) sing setting e nang Sumba, NTT. Nang njero film e yo nganggo bahasa Sumba, mbut. Sing lagek wae Marlina Si Pembunuh Empat Babak juga di Sumba. Nggawe laris gak ngono carane yoiku memainkan isu mayoritas Jawa dengan membawa semangat berdaerah. Menghibur naq muda biar cekikikan ketika sering keluar celetukan Jancok! Ini sih cancer namanya.

Bayu pun tak lupa mengkloning cara memasarkan filmnya seperti yang sudah dilakukan oleh Raditya Dika yakni dengan cara mengisi cameo sebanyak mungkin di film. Entah penting atau tidak perannya, lebih baik ada cameo yang bisa ikut mempromosikan daripada tidak ada sama sekali bahan promosi. Tak heran di dalam film Yowis Ben kerap kali ada scene sampah yang berguna untuk memunculkan di cameo berpengaruh itu. Adapun kelemahan lainnya dari film Yowis Ben ialah banyak plot yang belum tuntas dijelaskan, tiba-tiba sudah berganti plot. Terkesan ceritanya terlalu loncat-loncat. Mungkin demi efisiensi durasi film.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

pewdipie vs t-series

Pewdipie Vs T-Series, YouTube Butuh Introspeksi Diri

Perang Pewdipie Vs T-Series sangat nyata. Pertarungan antara content creator dengan perusahaan. Wajah YouTube seperti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *