Home / Travel / Mencicipi Liburan Musim Dingin di Osaka dan Kyoto Jepang (Day 4-End)

Mencicipi Liburan Musim Dingin di Osaka dan Kyoto Jepang (Day 4-End)

Cruise Ship Santa Maria sedang berlabuh
Cruise Ship Santa Maria sedang berlabuh

Akhirnya purna sudah tugas saya untuk menceritakan pengalaman saya menikmati musim dingin di Kota Osaka dan Kyoto selama empat hari. Tulisan kali ini akan menceritakan hari terakhir saya di Negeri Sakura. Tapi kalau mau baca dulu cerita di hari sebelumnya juga boleh kok, (Baca Day 3) Selamat membaca.

Day 4: Jatuh cinta dengan Jepang

Hari ini adalah hari keempat, sekaligus kesempatan terakhir bagi kami untuk berjalan-jalan seharian penuh di Kota Osaka. Karena besok siangnya, kami harus terbang kembali pulang ke Indonesia. Hari ini kami berencana untuk mengunjungi Tsutenkaku Tower, Tempozan Giant Ferris Wheel, berlayar ke laut dengan Cruise Ship Santa Maria Twilight dan diakhiri dengan berbelanja di Shinsaibashi dan mengucapkan salam perpisahan di Dotonbori (lagi). Baru saja di awal mula perjalanan, kami sudah diterpa oleh cobaan kehidupan lagi. Setelah sampai di depan Tsutenkaku Tower dan hendak memasukinya, tiba-tiba teman saya berteriak sangat kencang dengan muka yang sangat pucat mengucapkna kata “Loh tasku di mana?” sambil meraba-raba punggungnya untuk memastikan ranselnya benar-benar tidak sedang menempel di punggungnya. Oh God, not anymore.

Setelah berpikir jernih dan melakukan reka ulang, kami memutuskan untuk kembali ke apartemen. Ya tuhan kalian tahu apa yang terjadi? Tas yang kami sangka ketinggalan di dalam kereta ternyata sedang duduk manis di sofa apartemen kami.  Rasa lega dan sebal bersatu menjadi rasa gemas di dalam dada yang ingin segera menelan bulat-bulat teman saya tersebut. Singkat cerita, kami telah sampai di depan Tsutenkaku Tower lagi.

Pemandangan dari Cruise Ship Santa Maria
Pemandangan dari Cruise Ship Santa Maria

Isi Tsutenkaku Tower hampir sama dengan Osaka Castle Museum. Lantai atas untuk melihat Kota Osaka dari ketinggian dan lantai di bawahnya berisikan sejarah-sejarah dibangunnya tower tersebut. Yang menarik di sini, ada sebuah lantai yang dikhususkan menjual produk-produk dari Glico. Kami tidak bisa menahan untuk tidak membeli Pocky dengan berbagai varian rasa yang kiranya tidak ada di Indonesia. Dan memang tidak salah, kami ternyata begitu jatuh cinta dengan Pocky dengan varian rasa berry chocolate. Sedikit menyesal karena kami hanya membeli sedikit dan tidak berencana membawa pulang ke Indonesia. Jika teman-teman tahu di Indonesia ada yang menjual Pocky dengan rasa ini, tolong kabari saya secepatnya ya. Saya sangat jatuh cinta dengan rasanya.

Selama perjalanan menuju Tempozan Giant Ferris Wheel, kami lagi-lagi terusik oleh sebuah makanan. Toko yang menjual jajanan ubi yang di oven di atas batu panas sukses menarik perhatian kami. Sepertinya memang sangat lezat sekali berjalan diterpa angin yang begitu dingin sambil memakan ubi panas di tangan. Di gigitan pertama saya pun langsung berseru “Ye ini mah ubi madu cilembu kali mbak”. Ternyata kesimpulan yang kami dapat dari jajanan ini adalah ubi Jepang sama persis rasanya dengan ubi madu cilembu. Ya tapi tetap enak kok. Untung makannya pas musim dingin bengini. Jadi “pas” lah rasanya.

Di Tempozan Giant Ferris Wheel, kami sengaja menunggu di antrian untuk gondola yang mempunyai lantai bening yang nama gondolanya adalah “See Through Cabin”, sehingga seluruh gondola tersebut terlihat transparan dan hanya ada empat buah saja yang seperti ini. Mangkanya antrinya agak sedikit lebih lama. Heemm sedikit ide yang buruk untuk seorang yang lumayan takut ketinggian seperti saya. Tapi memang benar kalau sudah di sini sangat disayangkan sekali apabila kita memilih gondola yang biasa-biasa saja. Istilahnya “ndak dapet” lah.

Dipersilakan untuk memasuki 'See Through Cabin'
Dipersilakan untuk memasuki ‘See Through Cabin’

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, ketika sudah mencapi titik paling atas dan terasa di ujung mulailah kepala mengeluarkan efek gliyengan ketika melihat ke bawah. Walaupun badan sudah dikuat-kuatkan, tapi muka tidak bisa berbohong oleh kepucatannya. Tapi gliyengan tersebut akan terbayar lunas dengan adanya pemandangan indah ketika kita sudah di atas. Ternyata dari atas sini kami dapat melihat Universal Studio Japan yang terkenal dengan bagunan ala Harry Potter-nya dan menariknya kami bisa melihat bangunan itu dari dalam gondola ini. Kami juga dapat melihat lautan lepas, jembatan dan Aquarium Kaiyukan yang memang satu komplek dengan ferris wheel ini.

Setelah satu putaran usai kami memutuskan untuk melanjutkan berlayar mengarungi laut lepas bersama Cruise Ship Santa Maria Twilight. Ternyata berlayar ke laut di musim dingin dan duduk di dek paling atas menantang angin secara langsung adalah pengalaman yang tidak terlupakan bagi kami. Belum ada dua menit, kami serasa sudah kehilangan bibir dan hidung kami. Saking dinginnya, sampai menggit bibir pun tidak kami rasakan sakitnya. Semua muka mendadak menjadi kebas seperti ada bius lokal yang disuntikkan pada muka kami. Seketika kami langsung bingung merapatkan jaket memakai makser dan sarung tangan dan berlari ke dek bawah untuk menghangatkan tubuh kami yang sepertinya mulai membeku seperti balok es. Sungguh anak tropis yang menyedihkan.

Setelah berlayar mengelilingi lautan, kami memutuskan untuk kembali ke apartemen sebelum berbelanja di daerah Shinsaibashi yang sangat dekat dengan apartemen kami dan menyambung dengan daerah Dotonbori. Sebelum berangkat berbelanja, kami memutuskan untuk pertama kalinya menyerah menggunakan syal, karena hari itu adalah hari terdingin selama kami berada di Osaka. Dengan berpakaian lengkap, kami berjalan gontai tapi tergesa-gesa menuju tempat perbelanjaan karena di sana hampir semua toko akan tutup pada pukul 9 malam.

Di Shinsaibashi ini adalah surganya dari surganya si hobi belanja. Kalian dapat memuaskan hasrat mengenai fashion kalian di sini. Mau mencari pakaian dengan brand yang “mumpuni”? Di sini tempatnya. Mau cari produk make up ternama? Anda tidak akan pernah salah tempat. Bahkan saya sempat cengegesan dengan teman saya melihat prodak SK II yang kalau di Indonesia dijualnya di outlet yang terlihat mewah di dalam sebuah mall, eh di sini dijualnya digletakin di rak depan toko yang tokonya terlihat sangat biasa-biasa saja.

Setelah kami mendapat apa yang kami cari, kami memutuskan untuk berjalan iseng ke arah Dotonbori. Malam itu adalah malam di hari Jumat. Dan kalian tahu luapan manusia di Dotonbori malam itu benar-benar sangat luar biasa ramainya. Seperti lima kali lipat dari malam-malam sebelumnya. Jika kalian mem-follow akun instagram Adipati Dolken atau Vanesha Prescilla dan melihat postingan instastory mereka ketika berada di Jepang, nah seperti itulah keramaian Dotonbori malam itu. Karena memang kami sama-sama berada di tempat yang sama di malam itu. Benar-benar saya sampai merasa pusing melihat banyaknya manusia di jalanan ini. Mau lokal mau wisatawan, sepertinya mereka semua menghabiskan waktu akhir pekan mereka dengan hang out di Dotonbori. Malam itu kami menghabiskan malam terakhir kami disana dengan acara mabuk-mabukan dengan segelas green tea latte panas. Sungguh apapun yang berhubungan dengan green tea di Jepang itu sangat luar biasa enaknya.

Ketika kami malam itu berjalan dengan langkah seperti orang mabuk karena rasanya kaki kami sudah tidak sanggup lagi berjalan tapi energi di tubuh kami masih sangat banyak untuk berceloteh sambil menyanyikan lagu jingle toko Pablo yang cheesetar-nya gagal kami peroleh karena sudah ludes terjual malam itu, tiba-tiba teman saya sedikit terkekeh mendengar sebuah obrolan antara satu orang pria dan dua orang wanita jepang yang berparas cantik. Saking tertariknya, dia sampai melambatkan kecepatan jalannya dan ikut menengok ke arah suara itu. Usut punya usut, teryata si pria jepang itu sedang bernegosiasi menawarkan pekerjaan kepada dua wanita cantik itu. Dan kalian tahu apa pekerjaannya? Ternyata pekerjaan yang ditawarkan itu adalah menjadi pemeran wanita dalam sebuah film dewasa atau bahasa tidak halusnya adalah film bokep. Pantes aja si dua wanita itu dari tadi ngobrol sambil senyum-senyum tersipu malu. Mungkin yang dibahas sekenario adegannya kali ya.

Tempozan Giant Ferris Wheel
Tempozan Giant Ferris Wheel

Benar-benar hari terakhir kami di Osaka ini di tutup dengan banyak hal yang tidak “senonoh”. Tapi ini semakin menjadikan hari ini menjadi hari penutup yang indah untuk liburan kami yang lumayan panjang di Negara impian kami ini.  Karena pagi harinya dengan berat hati kami harus meninggalkan kota besar yang sangat ramah ini untuk pulang kembali ke Indonesia. Jepang adalah Negara di mana saya benar-benar belajar tentang sopan satun. Saya merasa sopan santun dalam berperilaku sangat dijunjung di Negara ini.

Di Jepang ketika kalian bertransaksi, kalian akan melihat cara mereka menerima dan mengembalikan uang kepada kita seperti apa. Mereka akan selalu menggunakan dua tangannya untuk menerima dan mengembalikan uang kepada kita. Saya agak merasa malu ketika pertama kali membeli sesuatu di sebuah toko. Saya selalu menggunakan satu tangan untuk memberikan uang dan menerima kembalian, tetapi mereka selalu menggunakan dua tangan untuk melakukannya. Rasanya benar-benar seperti ditampar. Ketika kalian berjalan di trotoar dan menghalangi langkah orang lain atau ada sepeda yang hendak lewat, mereka tidak akan pernah sekalipun mengeluarkan bunyi bel atau pun mengeluarkan suara untuk menegur kita agar sedikit menepi. Mereka justru akan menunggu di belakang kita sampai kita sadar bahwa ternyata ada orang di belakang kita yang hendak lewat.

Dulu sebelum menginjakkan kaki di sini, saya merasa sudah jatuh cinta dengan Jepang, tapi setelah saya menginjakkan kaki di sini saya dibuat semakin jatuh cinta. Ya walaupun di sini untuk komunikasi dengan bahasa Inggris sanggatlah susah, tapi saya tetap cinta kok.

Sekian cerita musim dingin saya selama di Osaka dan Kyoto. Terimakasih untuk kalian yang merelakan waktunya terbuang tak berfaedah membaca cerita semi kencongkaan saya dari day 1 hingga hari terakhir ini. Mari kembali ke sana di lain musim. Mungkin semi, mungkin panas, atau mungkin gugur. Semoga kita secepatnya bisa bertemu kembali. Karena rindu sudah tersirat walaupun kaki belum resmi meninggalkan tanah nippon ini.

Komentar

About Ragiel Bonga Widyananda

Sanguinis dan gak sinis. Sedikit berdaging tapi banyak berlemak. Mengerikan pada saat PMS.

Check Also

Osaka Castle

Mencicipi Liburan Musim Dingin di Osaka dan Kyoto Jepang (Day 3)

Pelesiran keliling Kyoto dan Osaka di Jepang (Baca Day 2) masih berlanjut. Kali ini, saya akan …

2 comments

  1. cerita “petualangan” anda sangat menarik.saya dan keluarga akan berkunjung ke osaka dan kyoto bulan desember mendatang dan tentunya kami juga pertama kali kesana sehingga ijin copy semua perjalanan anda dari hari pertama sampai terakhir Sambil berharap masalah kunci dan sakit perut tidak terjadi pada kami. Sayang tidak ada emoji tertawa sambil menangis disini. ( kami juga empat hari disana sebelum ke korea).
    Mau tanya tentang “pass” yg mba ceritakan,bagaimana cara memperoleh pass tersebut? jika secara online bisa tolong share link websitenya.
    Banyak terima kasih atas bantuannya.

  2. Ragiel Bonga Widyananda

    Terimakasih mas Robin sudah menyempatkan waktunya untuk membaca khususnya tragedi tunawisma saya. Tanpa emoji tertawa sambil menangis pun kepedihan tawa mas Robin telah sampai kehati saya kok. Hahahaha

    Untuk pass yang mas Robin tanyakan diatas, sangat bisa kok untuk diperoleh secara online. Saya dulu belinya di klook.com dan kartunya nanti bisa diambil di booth HIS pas sampai bandara kansai. Lumayan lo harganya lebih murah beli via klook dari pada beli langsung disana. Biasanya setiap musim dia bakal selalu ada promo sih. Tapi bulan ini dia promonya masih untuk yg autumn. Yg winter mungkin bulan depan baru ada promonya. Kalau mau sedikit ribet lagi demi dapet potongan 45 ribu bisa tuh dengan cara undang mengundang teman buat daftar akun baru di klook.

    Semoga bermaanfaat ya mas Robin info yang saya tulisakan. Dan semoga liburannya bersama keluarga menyenangkan. Jika ada yang ditanyakan lagi dengan senang hati saya akan menjawab 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *