Home / Artikel / Ken Arok dan Ken Dedes Mengawali Drama Kudeta

Ken Arok dan Ken Dedes Mengawali Drama Kudeta

ken arok dedes
Source: Google Images

Kisah Ken Arok dalam mengejar cintanya, Ken Dedes, sudah sangat akrab bagi kita semua yang tinggal di Pulau Jawa. Ken Arok, seorang anak raja Singosari yang lebih dikenal dengan sosok begundal, jatuh cinta terhadap Ken Dedes, seorang perempuan yang sangat cantik. Dan konon katanya, semua mata yang tertuju padanya pun akan silau dengan kecantikannya. Termasuk Ken Arok. Namun pada akhirnya, Tunggul Ametung, sosok penguasa pada kala itulah yang mendapatkan Ken Dedes.

Ringkas cerita, demi mendapatkan Ken Dedes, Ken Arok harus membunuh Tunggul Ametung. Ken Arok pun memesan keris kepada Mpu Gandring sebagai hadiah kepada Tunggul Ametung. Hadiah itulah yang ia gunakan untuk membunuh Tunggul Ametung dan mendapatkan kekasih hatinya, Ken Dedes. Tapi tidak hanya pujaan hatinya yang ia dapatkan, wilayah kekuasaan Tunggul Ametung pun ia peroleh. Namun masa kepemimpinannya hanya sebentar yakni 1222-1227.

Sebab sebelum menjemput ajalnya, Tunggul Ametung sempat melayangkan kutukan kepada Ken Arok bahwa nantinya, keturunan mereka akan saling membunuh dengan keris ciptaan Mpu Gandring yang Ken Arok gunakan untuk membunuh Tunggul Ametung. Ken Arok mati dibunuh menggunakan keris yang sama oleh anak tunggalnya Tunggul Ametung hasil perkawinan dengan Ken Dedes yang bernama Anusapati. Lalu, kematian terus berlanjut sesuai dengan kutukan Mpu Gandring.

Pada kisah panjang yang terjadi pada masa Kerajaan Singasari tersebut, hal itu merupakan sebuah kisah kasih yang cukup melegenda. Namun, sebenarnya kisah tersebut lebih kompleks lagi ketimbang sekadar kisah roman dramatis jika lebih dipahami secara mendetail. Kisah perebutan Ken Dedes yang dilakukan Ken Arok dan Tunggul Ametung terebut merupakan tonggak sejarah perpolitikan yang selama ini terjadi di Indonesia. Kisah tersebut merupak awal gejolak perebutan kekuasaan dengan cara kudeta. Lebih simplenya, Ken Arok melakukan kudeta terhadap Tunggul Ametung demi mendapatkan Ken Dedes dan kekuasaan politik. Apakah kalian sudah mendengar atau membaca cerita tersebut lebih lengkap? Atau mencoba mencari tahu dari berbagai versi ceritanya.

Mengapa kisah Ken Arok dan Ken Dedes bisa dianggap sebagai tonggak sejarah kudeta di negeri ini? Tentu saja, karena setelah itu, terjadi lagi kisah yang sama, yaitu runtuhnya Kerajaan Majapahit pada 1478 silam. Runtuhnya Kerajaan Majapahit pada masa kekuasaan Raja Brawijaya 4 pun tak jauh berbeda, yaitu karena skenario kudeta yang dilakukan oleh Ratu Champa dan putra-putra Raja Brawijaya. Seperti yang sudah kalian tahu dari membaca dan mendengar sejarah tersebut secara garis besarnya. Jadi, saya tidak perlu menceritakannya kembali secara detail. Hehehe…

Tidak hanya sampai pada masa runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kudeta kekuasaan terjadi kembali pada masa pasca kemerdekaan Negara Indonesia, yaitu pada saat lengsernya presiden Soekarno akibat kudeta dari militer pasca G30SPKI 1965-1966. Meskipun pada pelajaran sejarah tidak diceritakan secara mendetail, saya yakin kita semua juga sudah mengetahuinya. Sudah banyak buku-buku yang menceritakan sejarah tersebut, meskipun memang ada beberapa versi dan sudut pandang. Dari beberapa versi dan sudut pandang tiap buku sejarah, bisa di-gathuk-gathuk-kan bahwa jatuhnya kekuasaan Presiden Soekarno pun akibat dari kudeta militer, yang setelahnya kekuasaan tertinggi negeri ini digantikan oleh Presiden Soeharto. Kemudian Presiden Soeharto mampu menjabat sebagai presiden selama 32 tahun di Indonesia, jabatan presiden terlama di sejarah negara ini.

Setelah 32 tahun masa jabatan Soeharto sebagai Presiden Negara Indonesia, akhirnya Soeharto lengser pada 1998. Turunnya Soeharto dari kursi presiden Indonesia hingga saat ini masih kita kenal dengan istilah Reformasi, sebuah gerakan perubahan secara radikal. Gerakan perubahan tersebut memunculkan catatan tentang sejarah kelam bangsa Indonesia yang kita sebut dengan Tragedi 98. Berdasarkan beberapa referensi bacaan sejarah dan diskusi warung kopi, salah satu senior kampus saya bercerita bahwa yang terjadi pada saat reformasi itu pun sebenarnya merupakan praktek dari skenario kudeta terhadap presiden. Skenario kudeta pada reformasi tahun 1998 tersebut sangat mirip dengan skenario kudeta pada masa runtuhnya Kerajaan Majapahit. Hanya saja, tidak sepenuhnya skenario kudeta tersebut terlaksana dengan baik dan rapi.

Namun, sejarah kudeta tidak berhenti sampai pada lengsernya Soeharto dari kursi presiden. Kemudian pada masa reformasi, pengganti Soeharto ialah Habibie yang juga menerima tekanan dari banyak pihak karena masih dianggap perpanjangan tangan orde baru. Sehingga pada 1999, Habibie memilih untuk mengundurkan diri tidak ikut mencalonkan presiden. Kejadian tersebut berulang lagi pada masa lengsernya presiden Abdurrahman Wahid, yang sering kita sapa dengan nama Gus Dur, dan digantikan oleh wakilnya, yaitu Megawati Soekarno Putri. Dan saya yakin, sekitar pada Juli 2001 silam saat Gus Dur lengser, kita semua sudah tahu dengan jelas bagaimana prosesnya, siapa tokoh-tokohnya, bahkan mungkin saja kalian lebih tahu dengan baik dari pada saya. Hehehehe…

Seperti yang telah disampaikan Bung Karno kepada kita semua dan generasi penerus bangsa ini, “JAS MERAH!” Maksudnya adalah jangan pernah melupakan sejarah. Siapa yang tidak belajar sejarah, mereka akan mengulangi sejarahnya. Dan siapa yang belajar sejarah, mereka akan melanjutkan sejarahnya. Maka dari itu, penting atau tidak penting, membaca itu perlu bagi kita. Mari kita budayakan membaca agar mampu belajar dari sejarah. Atau setidaknya, jangan bosan-bosan mendengarkan orang lain bercerita, siapa tahu itu adalah rezeki bagi kita yang bermanfaat atau sebuah tanda peringatan untuk diri kita nantinya.

Komentar

About Bakti Suryo

Pengembara spiritual

Check Also

lembaga anti korupsi

Sebelum KPK, Ada 8 Lembaga Anti Korupsi

JATUH bangun lembaga anti korupsi didirikan sejak 1959. Beberapa pejabat tinggi aparatur negara kerap terseret …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *