Home / Artikel / Masa Kini, Pagelaran Wayang Dianggap Usang?

Masa Kini, Pagelaran Wayang Dianggap Usang?

gunungan wayang
Source: Google Images

Wayang merupakan budaya asli Jawa dan salatu orang yang mempopulerkannya ialah Sunan Kalijaga. Melalui pagelaran hiburan wayang, Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat Jawa yang kala itu masih menganut agama Hindu dan Buddha. Sunan Kalijaga sangat tahu bahwa karakter masyarakat Jawa tidak bisa diajak masuk Islam secara langsung dan terang-terangan. Mungkin saja karena pada masa itu budaya masyarakat Jawa sangat kental dengan ritual-ritual animisme dan dinamisme. Oleh karenanya, dalam menyebarkan agama Islam, beliau harus memberikan pengajaran nilai-nilai Islam secara perlahan dan menyesuaikan melalui budaya-budaya Jawa.

Anak-anak Jawa belajar dari teladan dan contoh ajaran hidup dari para tokoh cerita pewayangan. Kemudian ajaran tersebut akan mengarahkannya ke dunia luar, yaitu dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang bersifat praktis. Wayang kulit pun tidak hanya mengajarkan nilai-nilai budaya luhur dan kebaikan semata kepada masyarakat Jawa, melainkan juga melatih masyarakat, terutama anak-anak sejak awal, tentang unsur keindahan dan seni di dalam lingkaran sosial.

Sehingga di dalam peradaban Jawa hingga saat ini, baik dan indah merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Seperti halnya etika atau sopan santun dalam berinteraksi dengan orang yang lebih tua, termasuk berbahasa dan bersikap. Sehingga, dalam benak masyarakat Jawa, sesuatu yang dikatakan “baik” tidak cukup hanya benar saja, malinkan juga selaras dengan nilai keindahan. Hal ini terletak pada akar budaya Jawa yang amat mendalam. Budaya seperti ini pada mendidik anak-anak termasuk mengembangkan kepekaan jiwa seorang anak.

Namun, pada era masyarakat milenial saat ini, pagelaran wayang sudah sangat jarang sekali dijumpai. Sekalipun menjumpai, kadang hanya sekadar hiburan sejenak sebagai pengisian acara. Atau pagelaran wayang dalam skala kecil yang hanya terdapat 4 – 5 tokoh dalam 1 set. Seperti yang pernah saya jumpai pada suatu acara teater di pedesaan, itupun tidak begitu banyak masyarakat yang antusias. Padahal, ketika saya masih kecil dulu (saya masih ingat sekali), orang tua saya selalu mengajak saya menonton pagelaran wayang yang biasanya semalam suntuk dalam cerita full set.

Meskipun saat itu saya hanya tidur di pangkuan. Namun, sempat saya lihat dan rasakan antusias masyarakat yang tinggi. Ramai-ramai berbondong-bondong untuk menyaksikan hiburan rakyat tersebut, seolah pagelaran wayang adalah acara mewah. Kala itu, masyarakan masih mengganggap wayang merupakan media pendidikan karakter memalui cerita-cerita yang saya nilai filsafat dan kritis terhadap gejala sosial yang ada. Pagelaran wayang kulit termasuk salah satu media pendidikan karakter dan pembangunan moral dan mental anak-anak Jawa.

20 tahun belakangan ini, sudah sangat jarang sekali kita melihat hiburan merakyat seperti pagelaran wayang semalam suntuk. Biasanya, gelaran acara hiburan rakyat demikian diselenggarakan untuk peringatan hari-hari khusus dan syukuran khitanan atau pernikahan. Memang, masih ada beberapa tempat yang menyelenggarakannya, tapi tidak semeriah tempo dulu.

Dan sekarang baru saya sadari saat ini bahwa pagelaran wayang merupakan acara yang mewah bagi saya, sebuah acara yang tidak begitu banyak kesempatan untuk menyaksikan dan belajar. Tidak hanya saya saja kok. Hal ini pun dieluhkan oleh senior saya yang pernah dan sering sekali bercerita tentang tokoh pewangan di setiap kali kami bertemu. Jujur saja, bahwa saat ini saya pun masih belum tahu bagaimana menikmati cerita-cerita pewayangan karena bahasa dan gaya Jawa yang syarat dengan kosmos mistis yang khas.

Komentar

About Bakti Suryo

Pengembara spiritual

Check Also

poligami

Rayakan Kebodohan Bersama Juru Kampanye Poligami

Semakin gencar kalian mengkampanyekan poligami, semakin terlihat pula kebodohan kalian. Tak hanya bodoh saja, kalian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *