Home / Hiburan / Kehangatan Suhu 15 Derajat Celcius di Folk Music Festival 2018

Kehangatan Suhu 15 Derajat Celcius di Folk Music Festival 2018

Folk Music Festival
Wisata musik ala siasat partikelir.

Karena memang “Kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari”. Kami mencari rumah dan kami dipertemukan dengan Folk Music Festival.

Tidak terasa ini sudah menginjak perhelatan ke-4 untuk event Folk Music Festival. Diawali pada tahun 2014 dengan konsep sederhannya namun tetap syahdu terlahirlah Folk Music Festival yang pertama dan diadakan di Mall semi terbuka di kota Surabaya.

Sempat absen di tahun 2015, Folk Music Festival hadir kembali dengan angin segar pada tahun 2016 yang memilih memindahkan tempat pertemunnya ke kota sebelah Surabaya yang dikenal dengan hawa dinginya yaitu Lembah Dieng Malang. Tak henti berbenah di tahun 2017 demi untuk menambah kenyamanan bersama dengan kapasitas lautan manusia yang semakin bertambah, maka di tahun itu kembalilah mereka melakukan pergeseran tempat perjumpaan ke kota kecil yang indah di lembah gunung Panderman.

Di kota Batu inilah Folk Music Festival seperti menemukan rumahnya. Hawa dingin di atas bukit,  kesegaran udara yang disajikan dan suasana yang membuat jiwa tenang. Dan di tahun ini, Folk Music Festival 2018 kembali pulang ke rumahnya untuk melepas rindu dengan para penikmatnya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di tahun ini Folk Music Festival disajikan dengan sesuatu yang baru.

Perpaduan antara musik dan literasi semakin menambah kesyahduaan penikmatnya. Serasa mendengar jerit hati kita yang sering rindu dengan momen indah suasana Folk Music Festival, sehingga di tahun ini kita disuguhkan keindahan selama tiga hari berturut-turut dari tanggal 3-5 Agustus 2018.

Folk Music Festival
FMF 2018 keren banget sih.

Selama tiga hari kita disuguhi oleh pergelaran musik, pertemuan-pertemuan indah, perbincangan-perbincangan menarik mengenai karya sastra, pembacaan serta penciptaan puisi, dan pertunjukan teater di tiga titik area yang berbeda. Area musik, area literasi, dan area teater yang dikhususkan untuk pertunjukan teater bertajuk Penjahit Cerita (Story Tailor) oleh Papermoon Puppet Theatre yang menggelar pertunjukan sebanyak sehari dua kali. Karena saya dasarannya suka musik, sehingga saya lebih banyak menghabiskan waktu di area musik dan tentunya di area lapak merchandise dan makanan/minuman juga sih. Cukup membuang-buang uangmu demi barang-barang lucu nan menggemaskan.

Folk Music Festival
Delosoran bersama adalah koentji.

Di hari pertama, kita disugguhkan dengan sajian literasi yang berisi konferensi, perbincangan, puisi dan prosa dan workshop. Hari kedua dan ketiga akan terpusat oleh sajian musik. Hari kedua dibuka dengan acara makan sayang yang berlanjut dengan genjrengan para musisi-musisi yang siap menghibur seperti Andrian Yunan, Sandrayati Fay, Danilla, Pusakata dan kawan-kawan.

Di hari kedua ini juga sangat special karena kita disuguhkan panggung perdana Daramuda yang manakala itu merupakan proyek bersama antara Rara Sekar, Danilla, dan Sandrayati Fay. Dengan tembang yang dijuluki Mars Daramuda mereka membuka penampilan dan juga menutupnya dengan tembang yang sama. Sungguh penampilan yang absurd namun sayang sekali untuk dilewatkan.

Semakin malam di tengah suhu yang semakin menurun, kita semakin dibuat hangat oleh penampilan mbak Danilla yang selalu sukses membuat kaum adam menjadi lebih blingsatan dari sebelumnya. Celoteh-celoteh konyol dan penuh arti bagi yang mengerti mampu membuat seluruh kaum adam maupun hawa tertawa dibuatnya. Memang benar selain harta, tahta memang ada Danilla yang mampu melemahkan hidup kaum adam.

Dan di puncak acara kita akan diajak untuk meneriakkan tentang kemanusiaan bersama Efek Rumah Kaca. Di panggung ini, akhirnya kita melihat momen mengasyikkan karena di malam itu Adrian Yunan ikut bergabung di panggung bersama Efek Rumah Kaca. Nyanyiannya dengan Cholil membuat kita semakin menepiskan hawa dingin yang merasuk ke kulit dan menggantikannya dengan semangat untuk berteriak bernyanyi bersama-sama. Efek Rumah Kaca sukses menutup hari kedua dengan sempurna.

Hari ketiga sudah bisa ditebak tak kalah asyiknya dari hari pertama dan kedua. Banyak musisi-musisi yang sangat asyik untuk dinikmati sambil delosoran di kasur rumput dengan segelas kopi panas yang menghangatkan badan di cuaca dingin yang dijuluki musim maba ini. Hari ketiga ini kita dimanjakan oleh alunan lagu seperti Bin Idris, Monita Tahalea, Jason Ranti, Fourtwnty, WSATCC, dan masih banyak lagi. Petikan gitar Gerald Sitomorang membuat kita cukup nyaman tertidur menikmati hembusan segar udara sore itu.

Seperti terkena serangan bertubi-tubi kita sejenak diguyur oleh lirik-lirik menggelikan yang dinyanyikan oleh Jason Ranti. Cukup membuat perut sakit karna tertawa terbahak-bahak, mood kita kemudian diubah menjadi sendu mengharu biru oleh musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Reda. Campuran rasa rindu yang indah yang kami rasakan saat itu melihat tante Reda menangis disaat menyanyikan Hujan di Bulan Juni dan Aku Ingin. Begitu terasa sekali rasa kehilangan Reda yang bulan Juni lalu ditinggalkan selamanya oleh kawan duetnya sejak tahun delapan puluhan yaitu Ari Malibu.

Folk Music Festival
Jason Ranti menghibur dengan kekonyolan dan kesyahduan.

Padahal tahun lalu, di panggung yang sama, mereka masih bersama-sama mengukir kenangan indah di lembah gunung Panderman ini. Dan tahun ini kami juga merasakan kehilangan yang sangat besar sama dengan yang dirasakan oleh tante Reda. Begitu kami rindu akan petikan gitar dan suara merdu om Ari sore itu. Benar-benar penampilan yang mampu membuat kita turut menetesakan air mata dan gemuruh tepuk tangan penyemangat tak pelak kami berikan untuk tante Reda sore itu. Setelah sesi tangisan haru, mood kita akan dibawa turun menyusuri romantisme dalam lirik-lirik lagu yang dilantunkan Monita Tahalea di kala senja itu. Indah nan romantis adalah kata yang tepat untuk penampilan Monita sore itu.

Semakin malam suasana semakin menggila. Gila suhu udaranya, gila pengisi panggungnya dan gila rasa lapar yang selalu menjangkit di hawa dingin ini. Dan Pohon Tua juga melakukan kegilaan pada malam itu. Diterpa delay pesawat yang membawanya dari Taiwan menuju Malang, tak menyurutkan semangat Dadang Pranoto untuk manggung malam itu. Setibanya di venue, tanpa beristirahat terlebih dahulu Dadang langsung naik panggung untuk menghibur kita. Dan dilanjut dengan kegilaan Fourtwnty yang membuka baju di kala lagu terakhir sambil mengajak kita mengankat pantat untuk berdansa bersama.

Tak puas berdansa di lagu Fourtwnty kami melanjutkan berdansa bersama WSATCC. Sungguh malam 15 derajat celcius yang terasa hangat kala itu. Kami pun pulang dengan kepastian hati yang mengatakan bahwa kami sudah pasti akan dibikin susah move on oleh Folk Music Festival 2018 ini. Terimakasih pak Alek dan tim telah menyatukan kami di kehangatan rumah selama tiga hari ini. Tak sabar menantikan Folk Music Festival Tahun 2019. Karena memang “Kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari”. Kami mencari rumah dan kami dipertemukan dengan Folk Music Festival.

Komentar

About Ragiel Bonga Widyananda

Sanguinis dan gak sinis. Sedikit berdaging tapi banyak berlemak. Mengerikan pada saat PMS.

Check Also

Jokowi 57

Kado Pak Owi, Sebelum Jumatan

Menurutmu hadiah apa yang pantas diberikan dari pro-Jokowi di hari ulang tahun ke-57 ini? Sehari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *